Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Korelasi Suku Bunga dan Harga Saham

Jumat, 7 Januari 2022 | 06:55 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud

JAKARTA, Investor.id - Korelasi negatif antara tingkat bunga dan harga saham lebih mudah dijelaskan menggunakan logika akademis.

Salah satu model analisis yang bukan saja populer di kalangan akademis, tapi juga digunakan banyak analis findamental, adalah Discounted Cash Flows Model. Nilai sekarang dari sederetan arus kas yang akan datang dihitung menggunakan dua variabel: expected future cashflows (sebagai pembilang) dan discount factor (di posisi penyebut).

Discount factor, pada gilirannya, merupakan produk dari tiga variabel pula: risk free rate + expected inflation + risk premium. Variabel yang disebut paling belakangan itu menunjukkan bahwa tiap aset memiliki tingkat risiko yang berbeda, karena itu perkiraan nilai sekarang (present value) nya dihitung menggunakan risk premium yang berbeda beda pula.

Nah, komponen risk free rate diwakili oleh imbal hasil Treasury Bills (Surat Utang Pemerintah Federal dengan tenor sampai satu tahun). Kembarannya di Indonesia, disebut Surat Perbendaharaan Negara (SPN).

Kanaikan Federal Fund Rate akan serta merta menaikkan yeild Treasury Bills, sebagaimana kenaikan 7DRR akan menaikkan imbal hasil SPN (dan SBN lainnya). Pada gilirannya akan menaikkan discount factor. Naiknya penyebut, pada pembilang yang sama, matematis, akan menurunkan hasil bagi.

Saya percaya logika. Logic never lies. Tapi realitas tidak sesedarhana itu. Paling tidak masih harus diperhatikan gerak dua variabel. Pertama, salah satu tujuan utama dinaikkannya tingkat bunga, adalah untuk mengerem inflasi. Kalau inflasi turun, kenaikan risk free rate bisa dinetralisir oleh penurunan inflasi, sehingga discount factor bisa menjadi tidak naik, atau bahkan turun.

Kedua, risk premium netral dari tingkat bunga. Juga berubah dari waktu ke waktu, tergantung kondisi makro ekonomi dan iklim usaha. Ketika kepercayaan terhadap proyeksi ekonomi bagus, - salah satu ditunjukkan oleh indeks PMI - maka risk premium akan turun.

Pada ekstirm yang lain ketika kepercayaan terhadap prospek ekonomi suram, maka risk premium akan naik. Dalam realitas, kita sering melihat, penurunan tingkat bunga acuan oleh bank sentral - untuk memacu pertumbuhan ekonomi - berhasil menurunkan tingkat bunga simpanan, tapi tidak berhasil menurunkan tingkat bunga pinjaman.

Dalam bahasa gaul: kalau Anda tidak percaya terhadap prospek suatu usaha, dijanjikan keuntungan berapa pun, anda tetap tak mau menanamkan dana anda di situ.

Summing up, walau tingkat bunga naik, kalau iklim usaha bisa dijaga kondusif, semakin baik, dan tingkat inflasi tetap terjaga rendah, maka kinerja perusahaan tetap bisa dipacu laju. Harga saham pun punya legitimasi untuk terbang tinggi.

*** Hasan Zein Mahmud: mentor LP3M Investa, pernah menjabat Dirut PT Bursa Efek Jakarta.

 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN