Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom dan pengamat pasar modal dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo. Foto: IST

Ekonom dan pengamat pasar modal dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo. Foto: IST

Emiten TV Meredup atau Menyala ?

Kamis, 27 Januari 2022 | 07:15 WIB

JAKARTA, Investor.id - Perkembangan Industri televisi memiliki peluang dan tantangan tersendiri di tengah kemajuan dan dinamika gawai digital disertai dengan konten digital yang bervariasi.

Terdapat beberapa perusahaan go publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara lain, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) sebuah perusahaan publik yang menjadi induk dari stasiun televisi ANTV, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang media dengan berbagai saluran distribusi digital, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) merupakan sebuah kelompok usaha ini memiliki stasiun televisi tvOne dan menjadi Induk usaha (MDIA), PT Surya Citra Media Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang stasiun televisi terestrial swasta nasional SCTV dan Indosiar.

Advertisement

Pada awal tahun 2022, Perusahaan media televisi, NET TV atau PT Net Visi Media telah menyatakan untuk menjadi salah satu bagian dari perusahaan publik melalui proses IPO, dan telah menetapkan harga final pelaksanaan penawaran umum saham perdananya (initial public offering/IPO) di harga Rp 196/Lembar saham.

Dengan kehadiran konten digital yang dinamis, maka perusahaan TV diharapkan hadir dengan indentitas konten yang kuat dan jelas, sehingga dapat meningkatkan TAM ( Total Addresable Market ) selain memang dapat mendorong market share dan viewer.

Salah satu alat ukur dari perkembangan konten digital, adalah gender, pria dan wanita, dimana status gender tersebut berhubungan dengan karakter konten yang di nikmati oleh para viewer, dimana gender dapat mempengaruhi keputusan konsumsi dan memberikan efek transaksi bagi para penginklan di stasiun TV tersebut.

Satu hal yang menarik adalah PT. Intermedia capital, Tbk (MIDA) saat tulisan ini di buat pada Selasa 24 Januari 2022. Dimana MDIA berada di harga Rp. 50/Lembar saham, namun berhasil bersaing dan berada di atas kapitalisasi pasar atau market capitalization PT. Visi Media Asia, Tbk (VIVA) yang di kenal dengan kegiatan usahanya yaitu TV ONE, Seperti yang di ketahui, VIVA merupakan induk usaha dari MDIA yang di kenal dengan kegiatan usahanya yaitu ANTV.

Di saat yang sama terdapat emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia yaitu PT Net Visi Media, Tbk (NETV) dengan harga final Rp. 196/Lembar saham, dan saat IPO perdana harganya langsung auto reject atas (ARA).

Pada moment yang sama, terdapat emiten yang telah tercatat yaitu VIVA dan MDIA sebagai perusahaan Go Public yang berada pada harga Rp. 50/Lembar saham, sehingga ini menjadi tantangan bagi para investor dan trader untuk dapat melakukan diversifikasi dan pengelolaan portfolio yang optimal, oleh karena terdapat pula beberapa emiten yang memiliki harga yang lebih tinggi pada penutupan pasar Rabu, 26 Januari 2022, antara lain PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) Rp. 860/lembar saham dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) di harga Rp. 290/lembar saham.

Grafik sektor consumer Cyclical dan Kinerja Emiten TV di Indonesia, investing, 24 Jan 2022
Grafik sektor consumer Cyclical dan Kinerja Emiten TV di Indonesia, investing, 24 Jan 2022

Menemukan Harga Ideal

Selanjutnya, kita dapat membahas, bagaimana investor dan trader dapat menemukan harga yang ideal dalam mengambil keputusan dengan mendalami proses penemuan harga atau price discovery.

Dalam proses transaksi pada berbagai macam jenis transaksi, peran harga akan menjadi sangat penting untuk mengambil keputusan, sementara keputusan yang di ambil berdasarkan, dimana kinerja harga itu sendiri memiliki suatu akibat, baik akibat yang merugikan pelaku transaksi hingga akibat yang menguntungkan bagi pelaku transaksi tersebut.

Dalam kegiatan transaksi terdapat pelaku transaksi yang sudah mengetahui potensi harga tersebut, dan terdapat pelaku transaksi yang belum mengetahui potensi harga tersebut, hingga terdapat pelaku transaksi yang tidak mau mengetahui potensi harga tersebut.

Namun demikian dari faktor supply side, baik regulator dan penyelenggara transaksi memiliki kepentingan untuk menciptakan transaksi yang likuid untuk mendorong apresiasi pasar dan meningkatkan kualitas harga yang tersedia, maka proses penemuan harga atau price discovery akan menjadi penting sebelum terbentuknya harga yang menjadi tujuan transaksi hingga terbentuknya likuiditas harga yang tersedia di pasar.

Melalui proses price discovery, para pihak dapat menggunakan mekanisme penemuan harga untuk berbagai macam kepentingan, apakah di mulai dari kepentingan dalam rangka penyelidikan harga, menghitung biaya yang di keluarkan untuk melakukan eksekusi suatu harga, melihat apresiasi jumlah pembeli dan penjual hingga biaya penyelesaian atas transaksi tersebut, dan peran price discovery akan menjadi penting untuk mencapai hasil transaksi yang optimal.

Teori Investasi

Secara aktual proses investasi menyatakan bahwa investasi merupakan suatu konsumsi yang ditunda dengan harapan konsumsi yang lebih besar di masa mendatang, Brealey dan Myers (2000).

Teori Investasi yang sangat terkenal menjelaskan bahwa investasi pada risiko yang rendah dan tingkat pengembalian yang tinggi, Markowirz (1952) untuk selanjutnya di kembangkan hingga akhirnya di kenal degan teori harga asset (Capital Asset Pricing), Sharpe (1964), Linter (1965) dan Mossin (1966).

Selanjutnya teori hopotesis pasar efisien terdiri dari tiga bentuk , yaitu bentuk pasar efisien dalam bentuk semi kuat (weak form efficient), Efisien dalam bentuk kuat (semi strong eficcient), dan efisien dalam bentuk kuat (strong efficient), Fama (1970), hingga akhirnya Fama memberikan revisi yang di nyatakan dengan pengujian peramalan tingkat pengembalian (test for return predectablitily) pada sebuah peristiwa dengan studi peristiwa atau event study dan pengujian terhadap informasi yang privat sebagai pengganti strong efisien.

Pada kenyataan yang terjadi, harga yang tersedia memiliki potensi transaksi yang tidak wajar, sehingga peran price discovery atau penemuan harga akan mengantarkan proses penyelidikan untuk dapat melihat dominasi suatu harga yang ada di pasar.

Realitanya, kinerja harga yang tidak wajar tetap mendorong beberapa pelaku transaksi untuk mengambil keputusan baik jual maupun beli walaupun disertai dengan biaya yang tinggi dan tingkat risiko yang tinggi.

Sehingga proses penemuan harga atau price discovery merupakan salah satu proses yang mendorong pelaku transaksi untuk memilih jenis resiko yang akan di ambil, baik jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang.

Selain proses penemuan harga, ada beberapa indikartor penting terkait dengan harga, yaitu kapitalisasi pasar, Market Cap dimana market cap merupakan nilai pasar agregat dari suatu perusahaan yang dapat dihitung berdasarkan harga pasar saat ini (atau Current Market Price - CMP) dari sahamnya dan jumlah total saham yang beredar untuk menunjukkan ukuran perusahaan.

Dimensi Pasar

Kembali kepada proses penemuan harga atau Price discovery dapat di peroleh melalui proses terbentuknya likuiditas harga, untuk itu terdapat empat dimensi likuiditas harga. Wyss (2004) mendefinisikan empat aspek atau dimensi pasar keuangan yang likuid, yaitu trading time, tightness, depth, dan resiliency.

Trading time adalah ruang waktu antardua transaksi, baik itu transaksi beli maupun transaksi jual. Sedangkan tightness adalah kemampuan untuk membeli atau menjual sebuah aset pada harga yang sama pada waktu yang sama atau dalam harga yang sama.

Kemudian, depth adalah kemampuan untuk membeli atau menjual sebuah aset dalam jumlah tertentu tanpa adanya pengaruh pada harga yang tercatat di pasar pada suatu waktu. Dan resiliency adalah kemampuan untuk membeli atau menjual sebuah aset dalam jumlah tertentu dengan hanya sedikit pengaruh pada harga yang tercatat.

Untuk itu, investor dan trader dapat menentukan jangka waktu transaksi, baik jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang melalui proses penemuan harga dan mempertimbangkan kapitalisasi pasar yang dihasilkan dari kinerja saham perusahaan tersebut, selain melihat kinerja fundamental perusahaan dengan produksi konten yang memiliki captive market yang tinggi, dimana capitive market merupakan sebuah pasar dimana calon pembeli hanya dihadapkan dengan pilihan yang sangat terbatas dan sudah terbentuk terlepas dari harga saham yang berada pada kondisi yang relative rendah dengan potensi di masa mendatang.

Seperti yang kita ketahui dari salah satu tokoh investor dunia, yaitu Warren Buffett, dimana salah satu pendekatan Investasi adalah Nilai dari Investasi di masa yang akan datang, Sebab harga adalah apa yang anda bayar saat ini, namun Nilai adalah apa yang anda dapatkan di masa datang, Begitu pula kita melihat masa depan industri TV yang memiliki potensi untuk tetap “menyala “ di masa mendatang dengan kinerja fundamental serta karakter perusahaan tersebut

*** DR (Can) Lucky Bayu Purnomo SE.,ME.,CSA.,CTA : Ekonom & Praktisi Pasar Modal

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN