Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom dan pengamat pasar modal dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo. Foto: IST

Ekonom dan pengamat pasar modal dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo. Foto: IST

Episode Emiten TV: Mengukur Kinerja dan Harga Sahamnya

Senin, 7 Februari 2022 | 22:02 WIB
Lucky Bayu Purnomo *) (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id – Di Bursa Efek Indonesia, terdapat sejumlah emiten dengan kegiatan usaha pertelevisian (TV), antara lain, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) sebuah perusahaan publik yang menjadi induk dari stasiun televisi ANTV, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) , PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).

Sangat menarik itu melihat perbandingan nilai asset emiten TV yang di peroleh berdasarkan data publikasi perusahaan melalui tampilan dalam nilai trilliun rupiah tersebut di atas. Ini tentunya bisa dipakai untuk mengukur kekuatan emiten TV.

Advertisement

Dengan hadirnya emiten baru di Bursa Efek Indonesia, pada awal tahun 2022, melalui proses IPO dengan harga pelaksanaan penawaran umum saham perdananya Rp 196/Lembar, pada tanggal 26 Januari 2022, berhasil menyita perhatian publik oleh karena berulang kali menyentuh batas atas harga tertinggi hingga mengalami Auto Reject Atas (ARA) pada tanggal 2 Februari 2022 dan berhasil menguji harga Rp. 640/lembar saham, namun kemudian terkoreksi beberapa hari hingga ke level Rp 525 pada Senin (7/2/2022).

Asset emiten TV

Episode emiten TV di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi pembahasan yang menarik, apabila dilihat dari beberapa indikator pencapaian kinerja fundamental emiten TV tersebut.

Nilai asset emiten TV menjadi bagian penting, dimana asset merupakan suatu sumber daya perusahaan yang memiliki nilai ekonomi dan dapat di pergunakan untuk memiliki daya guna yang lebih optimal bagi kinerja keuangan perusahaan di masa yang akan datang. Dengan kepemilikan asset tersebut, setiap perusahaan diharapkan mampu memperjual belikan asset dengan nilai yang lebih tinggi, ataupun keberadaan asset tersebut dapat di rubah fungsinya menjadi uang tunai atau harta perusahaan.

Selanjutnya kepemiliakan asset tersebut harus memiliki kareakter sebagai asset produktif untuk dapat mengatasi berbagai masalah masalah keuangan perusahaan, antara lain menjadi sumber pendapatan yang dapat di gunakan untuk mengelola hutang. Ataupun asset produktif yang dapat di gunakan untuk meningkatkan nilai perusahaan sehingga menjadi perusahaan yang bernilai berdasarkan jenis dan karakter asset.

Aset Emiten TV
Aset Emiten TV

Likuiditas asset

Jenis aset berdasarkan bentuknya antara lain berupa aset berwujud dimana jenis asset tersebut dapat disentuh, di rasakan dan dilihat, seperti mesin produksi dan uang kas perusahaan. Sementara itu, jenis aset tak berwujud seperti, merek dagang hingga kekayaan intelektual, dll.

Melalui kepemilikan asset tersebut, suatu perusahaan memiliki jenis likuiditas asset yang berbeda beda, antara lain asset berwujud sejenis tanah, bangunan, peralatan perusahaan, dll yang membutuhkan waktu untuk mencapai kesepakatan harga jual dan beli.

Di sisi lain, jenis asset perusahaan yang masuk dalam kategori likuid, antara lain adalah saham perusahaan yang dapat diperjualbelikan antara penjual saham dan pembeli saham dengan waktu yang relative singkat, hingga uang tunai perusahan/uang kas, yang secara langsung dapat di pergunakan untuk melakukan transaksi jual dan beli.

Untuk itu keberadaan asset perusahaan berdasarkan nilai dan jenis nya menjadi penting untuk melihat suatu kondisi fundamental perusahaan di masa lalu, masa kini dan masa datang.

Transaksi dan Aset

Dengan kondisi asset suatu perusahaan, maka penting bagi pelaku pasar untuk kembali mencermati nilai dan jenis asset pada suatu perusahaan yang telah mencatatakan saham perusahaan di BEI sebagai objek jual beli melalui harga saham perusahaan, dimana proses transaksi berhubungan dengan proses investasi jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang.

Keputusan transaksi investasi pada akhirnya menjadi suatu proses investasi dengan pengertian bahwa investasi merupakan suatu kegiatan konsumsi yang ditunda dengan harapan konsumsi pada masa mendatang dapat di peroleh dengan nilai yang lebih besar, Brealey dan Myers (2000). Walaupun pada praktiknya, jual beli saham kerap terjadi berdasarkan kinerja harga tersebut.

Lebih jauh, pada teori investasi yang sangat terkenal, menjelaskan bahwa investasi dapat dilakukan pada risiko yang rendah dan tingkat pengembalian yang tinggi, Markowirz (1952) untuk selanjutnya di kembangkan hingga akhirnya di kenal degan teori harga asset (Capital Asset Pricing), Sharpe (1964), Linter (1965) dan Mossin (1966). Namun demikian terdapat praktek prakte transaksi yang terjadi dengan kondisi Investasi dengan risiko yang tinggi disertai dengan imbal hasil yang tinggi yang sering kita dengar adalah high risk high return.

Aset dan Harga Saham

Dalam konsep transaksi, investasi dan aset, Capital Asset Pricing memiliki fungsi sebagai sebuah Metode untuk memperkirakan perolehan imbal bagi hasil atau return dari suatu jenis asset.

Metode tersebut memiliki tujuan utama untuk memperoleh batas kesemibangan dari jenis asset dan risiko yang dapat di alami suatu perusahaan tersebut. Untuk itu setiap pelaku transaksi, dapat menggunakan Metode CAPM (Capital Asset Pricing Model) dalam rangka menilai kinerja harga saham, terkait dengan keseimbangan antara nilai asset dan risiko pergerakan harga saham.

Selanjutnya pelaku transaksi dapat mempergunakan metode CAPM untuk beberapa fungsi utama, antara lain mencermati hubungan Risiko terhadap kepemilikan asset suatu perusahaan dan mencermati Hubungan Resiko terhadap imbal hasil/Return yang dapat di peroleh bagi perusahaan yang akan memberikan pengaruh terhadap harga saham yang menjadi objek transaksi jual dan beli.

Episode Emiten TV

Dengan pertumbuhan belanja iklan melalui saluran distribusi TV, emiten TV akan memiliki kompetisi untuk memperoleh pendapatan berdasarkan belanja iklan seiring kualitas emiten TV tersebut, salah satunya melalui produk perusahaan FMCG (Fast-Moving Consumer Goods).

FMCG merupakan suatu perusahaan yang memiliki tingka pembelian terlaris, memiliki pangsa pasar yang jelas dan sudah terbentuk, memiliki harga yang terjangkau, dengan rutinitas jual beli produk yang sangat cepat.

Hal tersebut akan memberikan dampak positif terhadap suatu emiten TV yang memiliki kualitas konten yang kuat, dan berkarakter. Kekuatan konten akan berhubungan dengan keputusan transaksi dari tayangan iklan pada suatu emiten TV tersebut.

Adapun beberapa jenis produk FMCG yang menjadi salsh satu sumber pendapatan emiten TV, antara lain adalah makanan olahan, minuman kemasan, produk kecantikan atau kosmetik. Sementara perusahaan perusahaan tersebut kerap melakukan belanja iklan di TV yang menjadi saluran distribusi informasi kepada pemirsa. Beberapa perusahaan tersebut antara lain adalah Unilever, Procter & Gamble (P&G), Indofood dll.

Meningkatkan Asset

Mencermati nilai fundamental emiten TV menjadi menarik untuk menilai potensi harga saham dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Oleh karena asset menjadi salah satu sumber daya perusahaan agar memiliki daya guna, maka pembelian asset dengan menjadi suatu upaya untuk mendorong kinerja fundamental perusahaan.

Sementara pendapatan perusahaan yang optimal dapat di peroleh dengan berbagai upaya, antara lain dengan kemampuan mengelola produk FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) sebagai produk iklan pada konten yang menarik dapat meningkatkan pendapatan perusahaan hingga sumber pendapatan tersebut dapat secara komprehensif meningkatkan nilai asset suatu perusahaan dan memberikan potensi bagi kinerja harga saham di masa yang akan datang.

*) DR (Can) Lucky Bayu Purnomo SE.,ME.,CSA.,CTA : Ekonom & Praktisi Pasar Modal

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN