Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Edhi Pranasidhi. Founder Indonesia Superstock Community Ex Bloomberg TV Head of Market Intelligence

Edhi Pranasidhi. Founder Indonesia Superstock Community Ex Bloomberg TV Head of Market Intelligence

Dunia Memasuki Tahapan Menuju Stagflasi?

Minggu, 6 Maret 2022 | 10:13 WIB
Oleh Edhi Pranasidhi *) (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Stagflasi adalah istilah yang pertama kali diperkenalkan pada era 1970an ketika ekonomi dunia mengalami pertumbuhan rendah tapi sekaligus juga mengalami laju inflasi dan pengangguran yang tinggi.

Saat ini, gejala pertumbuhan ekonomi lebih rendah atau stagnan dibandingkan dengan laju inflasi tinggi sudah terlihat di berapa negara maju seperti di Amerika dan sejumlah negara Eropa. Namun gejala naiknya tingkat pengangguran masih belum terasa saat ini. Tetapi stagflasi ujung ujungnya tetap saja akan berpotensi meningkatkan laju pengangguran.

Advertisement

Penyebab stagflasi di era 1970an disebabkan oleh cost-push inflation atau inflasi yang berasal dari biaya tinggi karena kenaikan harga minyak bumi.

Menilik pengalaman masa stagflasi pada era 1970-1981an, investasi disektor emas dan komoditi tercatat memberikan return yang lumayan. Emas 22% dan sektor komoditi lain 15% dan REITS (real estate investment trust) 12%.

Ketika inflasi tinggi terjadi, sektor properti mengalami anomali yaitu harga rumah ternyata meningkat dua kali laju inflasi tapi miskin pembeli alias jarang ada yang mau beli. Stagflasi juga mengakibatkan nilai uang dan kemampuan masyarakat untuk belanja turun drastis.

Untuk melawan stagflasi, pada 1980, Ketua the Fed saat itu Paul Volcker menaikkan tingkat suku bunga FFR (Fed Fund Rate) sampai 20% karena inflasi inti menyentuh angka 12% saat itu. Volcker juga mengeluarkan aturan (kemudian terkenal dengan Volcker Rule) yang melarang bank berinvestasi di sektor spekulatif dengan menggunakan akum sendiri, dan melarang berinvestasi di perusahaan hedge fund. Volcker Rule berakhir di 2013.

Kondisi konflik antara Russia vs Ukraina jika berlanjut terus dan mengakibatkan harga minyak bumi meningkat. Hal ini berpotensi membuat ekonomi dunia menuju stagflasi dan ini bisa saja menyebabkan investasi di sektor saham dan obligasi (bonds) melemah.

Untuk kondisi Indonesia, kenaikan berbagai barang kebutuhan pokok dengan terjadinya kelangkaan minyak goreng, kenaikan harga cabai merah dan sekarang ini gejala kelangkaan gula putih mungkin saja akan meningkatkan laju inflasi. Meskipun demikian, tampaknya belum akan lebih tinggi dari laju pertumbuhan ekonomi di 2022 yang ditargetkan oleh pemerintah pada angka 5,5%.  Bank Indonesia sendiri mentargetkan laju inflasi secara tahunan di angka 3% plus minus 1%.

Pada Februari 2022 lalu, inflasi tahunan (yoy) di Indonesia tercatat meningkat menjadi 2,03% dari 1,84% dibulan sebelumnya.

Jika stagflasi terjadi maka Anda disarankan menyimpan uang di sektor value stocks atau saham yang dinilai mempunyai kinerja keuangan baik tapi harga saham rendah atau di sektor saham komoditi seperti yang telah dikemukakan di atas.

Berdoa yuk bahwa ekonomi Indonesia dan IHSG akan baik baik saja selama masa masa sulit ini....

*) Edhi Pranasidhi: pengamat pasar modal, Founder Indonesia Superstock Community Ex Bloomberg TV Head of Market Intelligence

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN