Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta yang juga menjadi mentor komunitas Investa, Hasan Zein Mahmud. Foto: IST

Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta yang juga menjadi mentor komunitas Investa, Hasan Zein Mahmud. Foto: IST

Investasi Saham Itu Bukan Judi

Selasa, 15 Maret 2022 | 16:31 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud *)

JAKARTA, Investor.id - "Investing isn't about beating others at their games. It's about controlling yourself at you own game" ujar Benjamin Graham 57 tahun lalu.

Flexing, buzzers, influencers dan sejenisnya, telah berhasil menebar mimpi di kalangan milenial tentang menjadi kaya secara instan. Tentu lewat jalan pintas. Coba simak daftar investasi bodong yang makin hari makin panjang.

Hasilnya? Sebagian besar adalah terpuruk secara instan. Keputusan tanpa pikir. FOMO (fear off missing out/takut ketinggalan dalam membeli saham). Investasi illegal. Hingga bankrut terjerat belitan utang.

Membeli saham - dalam perspektif investasi, bukan spekulasi apalagi judi - adalah ikut ambil bagian dalam memiliki perusahaan. Harapan yang logis adalah memperoleh imbal hasil yang berasal dari unjuk kerja perusahaan. Bagian laba yang meningkat, dan potensi pertumbuhan.

Lalu bagaimana mungkin membeli saham perusahaan tanpa memiliki pengetahuan tentang perusahaan? Ribet? Judi tentu saja lebih praktis!

Perkembangan perusahaan adalah suatu evolusi. Bukan revolusi. Tidak ada lampu aladin dalam membangun perusahaan. Ibarat membeli sapi betina untuk dikembang-biakkan. Tidak bisa mengharapkan beranak dalam satu malam, walau dibuahi oleh sapi jantan yang paling jantan sekalipun.

Sebagai investor, saya berpegang pada tiga sinyal: [i] Belajar memiliki pemahaman tentang prospek perusahaan yang bisa memberi saya keyakinan dalam keputusan investasi [ii] Membeli saat harganya jatuh, akibat gejolak emosional pasar dan [iii] Kesediaan untuk bersabar.

Kata Peter Lynch: "Behind all the smoke and noise on the market's surface, it's important to remember that companies -- small, medium, and large -- make up the market's backbone. And corporate earnings drive stock prices.”

Tulang punggung bursa saham adalah perusahaan. Bukan cuitan para pembujuk! Walau bursa saham bisa juga membuktikan diri sebagai "alat judi" yang mengasyikkan.

Dan yang ini dari Ben Graham lagi: "To be an investor, you must be a believer in a better tomorrow"

*) Hasan Zein Mahmud, Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta yang juga jadi mentor komunitas Investa.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN