Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Pemerhati Pasar Modal

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Pemerhati Pasar Modal

Inflasi dan Jin Kartubi

Rabu, 23 Maret 2022 | 11:43 WIB
Hasan Zein Mahmud *)

JAKARTA, Investor.id - Inflasi yang tinggi adalah tamu yang menyebalkan. Datang tidak diundang, dan tak mudah menyuruhnya pulang. Bahkan ketika pesta usai dan saatnya berberes beres, ia tetap saja tak mau hengkang.

Inflasi yang tinggi tak ubahnya seperti jin kartubi yang keluar dari botol antik. Punya kekuatan untuk menggiring banyak hal, sementara tak banyak yang faham bagaimana cara memasukkannya kembali ke dalam.

Inflasi kali ini, adalah jin yang sakti. Ekonom sering membuat dikotomi asal muasal inflasi. Demand pull atau cost push.

Inflasi kali ini, dikerek bersama oleh dua mesin itu. Permintaan yang sengaja digenjot lewat insentif jumbo, era pandemi bertumpuk dengan kelangkaan pasok dari era perang. Belum lagi banjir likuiditas bisa disedot ke tingkat normal, perang menghilangkan produk dari pasar.

Energi, pangan, logam berada di urutan atas yang mencatat rekor harga sepanjang masa. Ketiga sektor itu, pupuk subur di lahan inflasi. Consumer's Price Index dan Producer's Price Index, berlomba naik berbarengan.

Bagi otoritas moneter Amerika Serikat (Federal Reserve Board) - yang apa boleh buat, masih manjadi panutan otoritas moneter di seantero dunia - inflasi kali ini adalah mission ompossible. Betapapun besarnya pengurangan neraca (tapering off) yang mereka lakukan, betapapun agresifnya kenaikan suku bunga yang mereka putuskan, real rate, sementara ini, akan tetap negatif.

Untuk bisa mengubah real rate negatif menjadi positif, mereka harus menaikkan FFR lebih tinggi dari 7,5% (inflasi Februari). Hal yang mustahil. Sektor keuangan akan menjadi badai dan ekonomi akan rontok.

Jadi mohon dimaklumi kalau di Indonesia makin bertebaran kebijakan DMO, DPO, HET dengan segala variannya. Upaya serius pemerintah menutup lobang botol antik, agar jin kurtubi tak keluar.

Nampaknya ekonomi global harus mengembangkan strategi hubungan jangka panjang dengan inflasi. Dua hingga tiga tahun.

Sementara publikasi OECD makin menambah kegamangan. Konon kata organisasi internasional itu. perang Rusia - Ukraina punya potensi menurunkan pertumbuhan ekonomi global hingga 1 angka persen dan meningkatkan inflasi global dengan 2,5 angka persen.

Betapapun saya masih lebih suka berurusan dengan inflasi harga, ketimbang inflasi retorika, inflasi khotbah. Yang membikin teladan akhlak makin langka....

*( Hasan Zein Mahmud, Dirut PT Bursa Efek Jakarta periode 1991-1996, mentor Komunitas Investa.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN