Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Apa yang Salah dengan Saham Gorengan?

Oleh Hari Prabowo, Senin, 30 Desember 2019 | 10:07 WIB

JAKARTA, Investor.id - Istilah "saham gorengan" sudah dikenal di kalangan pelaku pasar. Namun, definisi tentang istilah tersebut belum ada yang dibakukan di kamus mana pun. Belakangan ini saham gorengan menjadi pembicaraan dan viral di berbagai kalangan setelah muncul kasus Jiwasraya dan juga beberapa reksa dana yang gagal bayar karena investasi portfolionya lebih banyak ditanamkan pada saham gorengan tadi.

Banyak pihak yang mengartikan bahwa saham gorengan itu merupakan saham yang pergerakkan harganya sangat fluktuatif, dengan rentang harga yang lebar. Artinya, harga saham tersebut bisa naik turun dengan presentasi yang tinggi, dan pergerakkan harganya "dikendalikan" oleh pihak yang disebut dengan "bandar". Biasanya harga saham tersebut kategori "lapis tiga" yaitu saham yang kapitalisasi pasarnya dibawah Rp 500 miliar.

Dalam pengertiannya, saham ini adalah bukti kepemilikan atau penyertaan pada suatu perusahaan sehingga merupakan surat berharga atau efek. Sebagai surat berharga yang diperdagangkan di bursa maka pergerakkan harga lazimnya terbentuk atas kekuatan permintaan dan penawaran. Semakin tinggi permintaan beli maka harga akan naik dan sebaliknya kalau penawaran jual yang lebih tinggi maka harga akan turun.

Permintaan dan penawaran tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang paling utama adalah fundamental serta prospek perusahaan dari perusahaan itu yang tercermin dalam Laporan Keuangan dan informasi penting lainnya.

Pada praktiknya harga saham ini bisa "digerakkan" oleh pihak tertentu yang biasanya disebut bandar tadi sehingga harga bisa se arah sesuai keinginan bandar. Bandar pasti butuh kecerdikan dan juga "kelicikan" dalam menggerakkan harga di bursa. Ini memang tidak mudah karena selain bandar harus menghadapi investor publik, mereka juga harus bisa menyikapi peraturan perdagangan sehingga seakan tidak melanggar aturan yang ada tersebut.

Tujuan bandar memang mencari keuntungan untuk kelompoknya dari "permainan" ini sehingga bandar punya kaki tangan dengan berbagai nama yang membuka rekening di banyak sekuritas.

Ada juga pihak yang hanya sekedar mencari "cuan" atau hasil dari transaksi dengan menggunakan trik-trik trading yang terbuka dengan tetap mengikuti peraturan perdagangan dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dinamakan "strategi trading" sehingga praktik ini terkesan wajar dan tidak bisa dikatakan pelanggaran.

Otoritas dan BEI harus bisa membedakan antara strategi atau bentuk pelanggaran terhadap peraturan karena caranya hampir sama. Ini juga bisa ditelusuri dari aliran dana, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Undang-Undang dan Peraturan Pasar Modal yang berlaku, pelanggaran itu bisa terjadi karena manipulasi pasar, pembentukan pasar semu, insider information sampai penyajian laporan keuangan dari emiten yg tidak sesuai pernyataan standar akutansi keuangan (PSAK).

Jadi istilah menggoreng saham ini memang ada dua kemungkinan, sekedar strategi / trik trading saja atau untuk tujuan kotor tertentu dan bahkan menjadi perampokan dana investor. Hal yang paling jahat adalah bila ada "kolusi" antara bandar saham, pihak emiten dan pengelola dana investor karena disinilah dana investor bisa dikuras dan beralih kepihak tertentu secara rapi tetapi licik.

Cara yang dilakukan oleh kelompok tersebut bisa dengan berbagai macam, bahkan bisa saja mereka sebelumnya mendirikan emiten abal-abal yang khusus dibuat untuk tujuan tersebut. Biasanya penggorengan saham ini lebih mudah dilakukan terhadap saham yang harganya relatif murah.

Maka kepada investor publik maupun institusi diharapkan hati-hati dalam memilih saham, pilih yang memang punya fundamental dan prospek bagus dan jangan mudah tergiur dengan tipuan frekuensi maupun jebakan harga sejenak. Biasanya saham gorengan ini bisa dideteksi mulai dari "book order", frekuensi, cara transaksi maupun pergerakkan harganya.

*** Hari Prabowo: Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA