Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M Investa, dan pengamat pasar modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M Investa, dan pengamat pasar modal.

KOPI PAGI

Asing Sell Off Saham BUMN Saat Pre-closing, Kenapa?

Jumat, 28 Mei 2021 | 07:57 WIB
Oleh Hari Prabowo

Investor.id - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat pre-closing Kamis (27/5/2021) menjadi perhatian banyak pelaku pasar karena ada fenomena periode tersebut dijadikan ajang perdagangan sangat spekulatif. Harga saham bisa ditarik atas atau sebaliknya dibanting ke bawah.

Ketika jam perdagangan pre-closing mulai 14.50- 15.00 WIB, investor tidak bisa melihat di monitor meskipun sebenarnya perdagangan masih berlangsung karena investor dan broker tetap bisa melakukan transaksi.

Dalam periode ini ada perlakuan yang berbeda karena harga saham terakhir yang diakui adalah dari transaksi yang paling besar volumenya. Jadi investor yang ingin membeli atau menjual saham dengan jumlah yang besar sering menggunakan kesempatan pada periode pre-closing ini, dengan konsekuensi harga bisa naik tinggi atau turun drastis, bergantung order yang dilakukan beli atau jual.

Apa yang terjadi pada transaksi kemarin saat pre-closing sangat menarik perhatian investor karena melalui broker berkode KZ ada penjualan secara bersamaan saham bank papan atas BMRI BBRI BCA dan BBNI dalam volume yang besar. Akibatnya harga saham 4 bank tersebut rontok cukup dalam padahal sebelumnya sempat naik.

Seperti diketahui 4 saham bank tersebut saat ini menjadi 4 saham yang berkapitalisasi paling besar sehingga tentu akibatnya mempengaruhi pergerakkan IHSG yang sebelumnya sempat mencapai di atas 5900 menjadi mundur ke level 5.892,47, atau berkurang sekitar 8 poin.

Memang tidak ada yang dilanggar oleh investor yang menjual saham tersebut karena peraturan bursa memungkinkan hal tersebut dilakukan. Yang menjadi menarik perhatian dan pertanyaan publik adalah siapa dan kenapa melakukan "sell off" saham-saham di periode preclosing tersebut?

Drama BBRI, BMRI, BBNI, BBCA Saat Pre-Closing

Analisa dengan mencermati pergerakan broker sering disebut analisa bandarmologi atau tape reading.

Ada dugaan pihak yang melalukan penjualan tersebut adalah investor institusi yang memang mempunyai portofolio besar melalui reksadana atau fund manager asing.

Kenapa dilakukan pada periode pre-closing? itu karena pada saat "pasar gelap" (karena tak bisa dimonitor ritel), investor kakap bisa menjual dalam volume yang besar walaupun konsekuensinya harga saham akan anjlok saat penutupan dan sekaligus bursa akan mengakui menjadi harga penutupan.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapa investor institusi tersebut? Apakah mereka sekedar take profit dan merealisasikan keuntungan atau investor tersebut memang mau mengurangi portofolionya di saham?

Pergerakan saham BBRI pada Kamis (27/5/2021)
Pergerakan saham BBRI pada Kamis (27/5/2021)

Investor Institusi

Ada dugaan pula memang saat ini investor institusi banyak yang mengurangi portofolionya di saham, salah satunya BPJS yang sudah menyatakan secara terbuka. BPJS sebagai pengelola dana terbesar saat ini tentu menjadi salah satu rujukan bagi pengelola dana yang lain seperti dana pensiun.

Sangat disayangkan jika investor institusi tersebut dibiarkan begitu saja pergi karena sebenarnya sangat diperlukan guna mendukung perkembangan pasar modal kita.

Perlu dievalusi oleh OJK dan pihak Bursa adakah yang masih kurang selama ini sehingga investor institusi berkurang minat investasinya di saham. Termasuk hengkangnya beberapa broker asing akhir-akhir ini, apa pun alasannya. Indonesia butuh investasi, salah satunya lewat pasar modal, guna memperkuat ekonomi kita.

Kembali pada periode pre-closing, dengan peristiwa kemarin karena terjadi bukan hanya di satu saham tetapi beberapa saham bank besar secara bersamaan, maka investor akan disajikan ketidakpastian yang berpotensi memicu tindakan spekulatif pada periode tersebut.

Apakah sistem ini akan terus dipertahankan atau dievaluasi lagi, itu wewenang Bursa dan OJK. Kita berharap semoga pasar modal Indonesia tambah maju, fair dan adil bagi semua pelaku pasar.

*** Hari Prabowo, Ketua LP3M Investa, pengamat pasar modal.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN