Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Safitri Siswono/IST

Safitri Siswono/IST

Entrepreneur Cilik

Safitri Siswono, Selasa, 3 September 2019 | 14:44 WIB

Jakarta, investor.id - Arkana Regawa, biasa dipanggil Arka, adalah seorang anak laki-laki biasa, berusia 12 tahun yang suka matematika. Lumayan sering ikut lomba. Kadang meraih medali, tapi lebih sering dapat pengalaman saja dari kompetisi. Bulan Agustus tahun ini, Arka mengikuti Kompetisi Matematika di Singapura. Ini adalah Kompetisi International yang pertama buat dia. Setelah lima hari karantina dan empat hari berlomba, Alhamdulillah Arka berhasil membawa pulang medali Bronze. Pencapaian yang lumayan untuk seorang Rookie.

Pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya tanpa orang tua, hanya dengan kelompok peserta lomba matematika dan pembimbingnya saja boleh dikatakan berani buat anak seusianya. Mandiri, pasti. Namun yang membuat hati mamanya bergetar adalah ketika Arka ingat untuk membeli oleh-oleh cokelat buat teman-teman sekelasnya, tote bag buat wali kelasnya, dan sebuah dompet pink yang manis buat mamanya. Dan yang menurut saya paling Juara adalah, Arka mengembalikan dompet uang berisi dolar Singapura, beserta secarik kertas berisi catatan pertanggungjawaban atas semua pemakaian uang saku yang dibawanya. Padahal tidak pernah ada yang memintanya membuat laporan.

Sebagai Mamanya, saya pun meleleh dan merasa sangat terharu melihat ketekunannya, rasa sayang pada teman-temannya dan tanggung jawab yang ditunjukkannya. Dari semua pencapaiannya selama sembilan hari tersebut, secarik kertas pertanggungjawaban itulah yang menurut saya paling tinggi nilainya. Karena dari 1.214 peserta lomba, 79 diantaranya dari Indonesia, ada banyak yang meraih medali. Namun, mungkin hanya satu orang yang memberikan pertanggungjawaban atas penggunaan uang kepada orang tuanya.

Saat cerita ini saya posting di Facebook dan Instagram saya, banyak orang tua lain menanyakan bagaimana cara mendidik anak agar dapat bertanggungjawab atas uang seperti itu? Sebetulnya, sebagai orang tua, saya tidak enak menuliskan hal ini, karena seperti menyombongkan anaknya. Namun setelah perjumpaan dengan seorang kawan yang menyakinkan saya bahwa kisah ini layak untuk diceritakan sebagai inspirasi. Maka jadilah tulisan ini. Tulisan mengenai Entrepreuner Cilik”.

Arka senang berbisnis. Dia sudah melakoni bisnisnya sejak usia sembilan tahun. Di bulan sekolah biasa, hasil penjualannya sekitar Rp 1 juta per bulan, dengan keuntungan sekitar 70%. Pada suatu bulan yang baik, penghasilannya pernah mencapai Rp 8,5 juta per bulan. Sesuatu yang tidak terbayangkan dilakukan seorang anak murid Sekolah Dasar (SD). Catatan bisnisnya pun sangat rapi. Dia selalu bisa mengetahui Harga Pokok Produksi (HPP) dan keuntungan dari setiap produk yang dijualnya. Secarik kertas berisi pertanggungjawaban yang saya ceritakan di atas hanya merupakan buah dari habbit yang terus menerus dilakukannya sejak mulai berbisnis.

Menurut Arka, jika diberikan tanggung jawab berupa uang, maka berikan laporan pertanggungjawaban atas penggunaan uang tersebut, agar orang semakin percaya pada kita. Arka ini anak tunggal. Dia tidak punya teman di rumah, dan ini mungkin membuatnya bosan. Bosan itu diperlukan, agar muncul kreatifitas anak untuk mengembangkan minatnya. Inilah yang menurut saya mendorongnya berpikir kreatif.

Ketika ia di kelas empat SD, saat itu, banyak anak seumurannya yang sedang demam “Slime”. Jenis permainan yang terbuat dari bahan seperti lendir yang mudah dibentuk. Karena sejak kecil Arka senang membuat percobaan-percobaan sains, seperti menyalakan lampu dengan menggunakan baterai jeruk, membuat ledakan gunung berapi dan sebagainya, maka kali ini ia merasa tertantang untuk dapat memproduksi slime sendiri. Entah apa yang akan dilakukan manusia angkatan Mamanya ini saat mencari formula membuat slime. Zaman sekarang, semua how-to, dapat ditemukan di Youtube. Terima kasih Youtube yang telah memberikan berbagai formula dan tutorial pembuatan slime, yang dapat diakses hanya dengan sebatas jempol. Setelah mencoba berbagai cara, akhirnya Arka pun berhasil mendapatkan formula yang terbaik untuk memproduksi slime.

Melihat besarnya minat dari teman-temannya terhadap slime, entah mendapat wangsit darimana, Arka pun mulai berjualan. Langkah pertama yang dia lakukan adalah menentukan harga. Arka mencari informasi, ternyata sebagian besar dari teman-temannya membeli slime dari Abang tukang jualan mainan di depan sekolah. Karena percaya bahwa produknya lebih bagus, maka Arka pun mengambil keputusan untuk memasang harga yang lebih tinggi dari Abang tukang mainan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, harganya dua kali lipat. Sehingga slime produksi Arka tersebut memiliki gross profit 70%. Sebagai Mamanya, saya tidak pernah berkomentar untuk semua keputusan bisnisnya. Biarkan saja Arka berkreasi secara mandiri dan mengalami pengalamannya sendiri dalam berbisnis. Namun terus terang, pada saat ini saya belum menganggap serius minatnya terhadap bisnis.

Di sekolah, produk ini mendapat sambutan luar biasa, dan berhasil memperoleh penjualan Rp1 juta pada minggu perdananya. Saat interaksi dengan para pembeli, Arka mendapatkan insight bahwa semua orang setuju bahwa produknya sangat bagus, namun ternyata harganya terlalu mahal. Sehingga hanya teman-teman dengan uang saku yang sangat tinggi yang bisa membelinya. Demi mendapatkan konsumen yang lebih banyak, maka Arka pun membuat tiga macam ukuran. Ukuran asli yaitu large Rp 20.000, kemudian ukuran 50% yaitu medium Rp 10.000, dan ukuran 25% yaitu small Rp 5.000.

Ternyata penjualan produk ini “meledak” dan terkenal seantero sekolah dasar. Setiap hari, murid-murid dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, berbondong-bondong berkumpul di kelas 4D (kelas Arka) untuk memesan slime buatan Arka. Mereka pun rela untuk membayar lebih dulu, untuk mendapatkan slime pada minggu tersebut. Arka menemukan pengalaman, ternyata strategi harga ini membuat teman-temannya menjadi lebih mudah untuk membeli. Maka ia pun berinovasi dengan memperbanyak varian warna. Semula hanya satu warna saja, kemudian ia memproduksi berbagai macam warna, yaitu hijau, kuning, biru, pink, ungu dan rainbow. Ternyata konsumen yang sudah membeli slime berwarna biru, besoknya ingin membeli slime berwarna pink, dan hari berikutnya ingin lagi membeli yang berwarna rainbow. Strategi ini berhasil mendongkrak penjualan secara signifikan.

Arka melihat bahwa produknya saat itu sudah ada berbagai macam ukuran dan warna. Ia ingin agar pelanggannya mengetahui bahwa slime buatan Arka ini berbeda dan memiliki kualitas produk bermerek. Maka bocah berusia 9 tahun ini pun, membuat logo sederhana yang disampaikan ke Mamanya dalam sebuah USB flashdisk untuk dapat diprint agar jadi banyak. Logo ini bergambar Pikachu, karena saat itu ia suka sekali dengan Pokemon, nama mereknya pun Fika-Fika, yaitu suara yang sering dikeluarkan oleh Pikachu.

Kapan Arka mengerjakan pesanan slime? Biasanya sore atau malam hari. Karena dilakukan dengan senang, maka pekerjaan tersebut terasa ringan. Kewajiban lain seperti belajar pun, tetap dilakukan, sehingga prestasi di sekolah tetap terjaga. Karena semua kegiatan tersebut diinisiasi oleh sang Anak, sesuai dengan minatnya, maka tidak pernah terdengar keluhan sedikit pun dari dirinya. Semua dilakukan dengan natural saja.

Pada minggu ketiga Arka berjualan, saya dipanggil ke sekolah. Saat saya datang ke kelas, saya belum sadar apa yang terjadi. Terjadi kerumunan yang sangat padat di depan kelasnya. Mungkin ada sekitar dua ratus anak SD dalam berbagai ukuran yang memadati lantai tersebut, dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, dan semuanya berusaha untuk masuk ke kelas 4D. Waktu saya berhasil mendorong kerumunan tersebut untuk masuk ke kelas, pintu pun terbuka. Wajah Bu Guru terlihat lelah, meladeni seorang anak perempuan kecil, mungkin kelas 2 SD, yang sedang berkata, “Kak Arka ada? Aku mau pesan Slime”.

Saya pun masuk ke dalam kelas, melihat wajah kecil tanpa dosa berkaca mata, sedang bicara dengan temannya sambil memberikan bungkusan slime berwarna hjiau. Di lantai kelas, berserakan uang pecahan berbagai rupa, dari Rp 2.000 sampai dengan Rp 100.000 yang terlihat lecek karena diremas. Terlihat tas sekolah anakku yang berusia 9 tahun tersebut, penuh dengan uang yang lecek dan dimasukan sembarangan saja ke dalamnya. Kulihat wajah Bu Guru tersenyum, seraya berkata, “Arka ini entrepreneur cilik kita Bu. Beginilah kegiatannya di sekolah sehari-hari ini.”. Dan keesokan harinya, Arka pun dilarang berjualan di sekolah lagi. Dan saya menanggapinya dengan tawa, karena takjub atas apa yang saya saksikan di kelas Arka sehari sebelumnya.

Cepat Move On

Arka sudah pasti kecewa. Ini pengalaman pertamanya. Kadang bisnis tidak bisa berkembang karena adanya regulasi yang tidak mendukung. Dia harus belajar untuk cepat move on dari perasaan itu. Maka kami pun menghitung hasil penjualan selama tiga minggu tersebut. Dan hasilnya adalah Rp 8,5 juta! Dari awal Arka mencatat semua belanja modal yang dipakai untuk membeli bahan produksi slime. Modal ini berasal dari Mamanya, sebagian sudah dibayar dan sisanya langsung dilunasi. Sehingga setelah dihitung, keuntungan penjualan slime ini adalah Rp 6 juta. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya, berapa hasil yang ia dapat peroleh dari penjualan slime. Ia tidak pernah menyangka bahwa keuntungannya bisa sangat cukup untuk membeli smartphone yang diinginkannya. Maka pupuslah langsung rasa kecewanya.

Saya membiarkan Arka untuk memilih smartphone apa saja yang ingin dia beli, toh uang tersebut hasil keringatnya sendiri. Namun saya sungguh bersyukur, karena ternyata uang tersebut tidak habis hanya untuk membeli smartphone. Sebagian dia zakat-kan di Masjid sekolah, sebagian dia tabung, sebagian lagi dipakai untuk mentraktir orang tuanya makan di KFC. Alhamdulillah, ini membuat mamanya meneteskan air mata bahagia. Menurut Arka, dari pengalamannya, kita harus percaya bahwa produk yang kita jual itu bagus. Sementara pelajaran berharga yang bisa saya bagikan, biarkanlah anak menikmati petualangannya sendiri. Biarkan ia jatuh, dan mencari caranya sendiri untuk bangun. Biarkan ia kecewa, dan mencari cara untuk move on.

Arka bukannya tidak boleh berjualan Slime lagi. Melainkan tidak boleh berjualan di sekolah saja, begitulah perkataan Bu Guru Kelas 4D. Suasana ajar mengajar di sekolah terganggu karena banyaknya kerumunan anak di depan kelas 4D pada setiap jam istirahat. Sehingga banyak anak yang tidak bisa keluar kelas, tidak bisa beraktifitas di depan kelas, serta banyak anak yang lupa makan karena harus berdesak-desakan mengantre untuk memesan Fika-Fika Slime. Arka boleh tetap berjualan slime saat pulang sekolah, baik di luar sekolah maupun di rumah. Demikian penjelasan dari Bu Guru.

Alasan lain yang diberikan oleh Bu Guru, karena kekhawatiran sekolah melihat banyaknya uang di kelas yang berceceran dan berantakan. Ada kekhawatiran bahwa sebagian anak telah membayar namun belum mendapatkan produk, dan sebaliknya ada anak yang telah mendapatkan produk tapi belum membayarnya. Saat itu, Arka memang tidak memiliki catatan pemesanan dan penjualan. Karena itu, ia kemudian belajar bahwa semua aktivitas bisnis harus tercatat dengan rapih, sehingga setiap saat dapat disajikan sebagai pertanggungjawaban.

Walaupun kehilangan pasar slime yang sangat besar, Arka tetap senang memproduksi slime. Dia masih menjual slime secara kecil-kecilan kepada teman-teman sekolahnya. Namun sebagai anak yang taat, Arka pun tidak berjualan slime lagi di sekolah. Biasanya produk pesanan akan dia berikan saat pulang sekolah, di luar pagar sekolah. Namun ternyata hal ini sungguh merepotkan, karena setiap anak mengambil kegiatan ekskul yang berbeda sehingga waktu kepulangannya pun bermacam-macam.

Tidak lama berselang, ada acara keluarga besar yang berkumpul. Arka ingat untuk membawa stok slimenya yang berbagai macam itu, dengan harapan mungkin ada banyak anak sebayanya di sana. Ternyata memang benar. Berusaha untuk membantunya, saya pun menawarkan padanya, “Mama bantuin nawarin ya?”. Sungguh saya kaget sekali pada jawabannya saat itu, “Jangan ditawar-tawarin Ma. Aku mainin aja dulu. Nanti pasti ada yang bertanya .”

Dan ternyata strategi itu benar. Setelah Arka memainkan slime beberapa saat, mulai banyak anak yang berkumpul untuk melihat, dan dalam sekejap stok slime yang dibawanya pun habis ludes terjual. Tak kuasa aku menahan tanya, “Keren banget tuh trik jualannya. Sering berhasil?”. Sambil mengangkat bahu ia pun menjawab, “Di sekolah juga gitu sih. Aku main-mainin aja slime nya. Nanti temen-temen jadi pingin ikutan punya.” Tips bisnis dari Arka, jangan menawarkan barang, biarkan orang punya keinginan sendiri untuk membeli. Bagi saya, setiap anak memiliki cara dan ritmenya sendiri, biarkanlah ia berekplorasi untuk menemukan cara yang terbaik bagi dirinya.

Setelah berbisnis slime, saat mainan ini tidak lagi popular, Arka mengembangkan bisnis lainnya. Ia pernah berjualan keripik bayam yang ia pelajari saat ada pelajaran memasak di sekolah. Ia memasak keripik bayam sendiri dan dapat untung yang tak kalah besar dengan slime. Karena harga sayur bayam yang murah, sementara hanya butuh selembar daun bayam untuk menjadi keripik sehat. Lalu ia berjualan masker tissue, ia membelinya secara online. Dan ketika itu ia berpikir, enak juga hanya jadi penjual, tidak perlu memproduksi sendiri.

Saat ini, Arka berjualan minuman dingin di sekolah yang sedang digemari anak-anak seusianya. Ia bisa membawa dua kotak besar minuman dingin di dalam kotak pendingin. Dia meracik minuman yang sedang tren di dalam botol-botol yang dia beli dari toko online. Kali ini sekolahnya menyediakan tempat untuk siswa yang mau berjualan.Tanpa malu, setiap hari dia menurunkan sendiri barang jualannya dari mobil. Membawa pulang sisa atau kotak kosong, dan meracik minuman sepulang sekolah, menyimpannya di dalam lemari pendingin untuk dijual keesokan hari. Dalam sebulan, paling sedikit Arka bisa mengumpulkan Rp 1 juta sebagai keuntungan. Dan dia semakin mahir membuat pembukuan. Dia selalu mencatat bisnisnya dengan rapi, agar dia bisa selalu tahu HPP dan keuntungan bisnisnya. Dia akan memprioritaskan pembayaran utang, jika dia meminjam uang modal kepada mamanya. Dan dia sangat menyadari,jangan sampai semakin banyak kita jualan, ternyata kita semakin rugi. Inilah Arka, si Entrepreneur Cilik.**

*Safitri Siswono: Business Owner, Akademisi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA