Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Hari Prabowo: Ketua LP3M Investa, pengamat pasar modal.

Hari Prabowo: Ketua LP3M Investa, pengamat pasar modal.

Fenomena ARA, ARB, dan Rumor Pasar

Jumat, 19 Februari 2021 | 08:13 WIB
Oleh Hari Prabowo

Investor.id – Fenomena saham mengalami auto reject atas (ARA), kemudian hari berikutnya harganya dibanting hingga mengalamai auto reject bawah (ARB) makin sering terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam sepekan ini beberapa saham bank BUKU 2 atau yang modal intinya maksimal Rp 5 miliar harganya terbang sampai 35% dalam sehari dan mengalami ARA. Namun, hari berikutnya, saham tersebut terjun bebas sampai minus 7% sehingga terkena ARB.

Kondisi semacam ini sering terjadi di beberapa saham lain terutama yang kapitalisasi pasarnya tidak besar. Pekan ini, saham-saham Bank BUKU 2, yang jumlahnya di bursa lumayan banyak, kompak berayun dengan gerakan sangat liar dari ARA ke ARB.

Ada investor yang tersenyum bahagia ketika sukses meraih "cuan" dengan strategi fast trading, dan berhasil menjual saham INPC, BGTG, BBYB, DNAR, BVIC atau yang lain pada harga puncak.

Tapi tidak sedikit yang menangis, meratapi nasibnya karena "mengejar layang-layang putus" atau membeli saham dengan harga di pucuk dengan harapan masih bisa naik, tetapi nasib berkata lain. Saham tersebut dibanting dan anjlok hingga ARB.

Bayangkan kalau investor yang kemarin membeli ketika harga naik 15% tetapi sore ditutup turun 7% artinya dalam sehari sudah potensi rugi 22%.

Rumor pasar belakangan ini sangat kencang terkait akuisisi investor asing terhadap sejumlah bank kecil. Rumor itu kemudian diviralkan di kalangan pelaku pasar sehingga harga sahamnya bergerak liar.

Di bursa hal tersebut lumrah terjadi. Jadi sebagai investor jangan mudah kaget karena harga saham bisa bergerak liar. Sentimen pasar memang menjadi alat ampuh untuk menggerakkan harga saham sehingga menjadi lahan subur berkembangnya rumor. Bahkan ada pameo yang mengatakan, "buy on rumors and sell on news".

Padahal rumor acapkali diciptakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menaikkan atau menurunkan harga saham. Faktanya, sering kali berita itu tidak didasari oleh realita sebenarnya. Meskipun demikian banyak pelaku pasar, khususnya pemula, menggemari rumor sehingga terjebak pada perdagangan spekulatif.

Sejatinya, informasi penting yang berkaitan dengan emiten harus diumumkan resmi di Bursa Efek Indonesia, yang setiap hari informasinya bisa diakses di BEI. Tujuannya agar semua investor mempunyai kesamaan dalam mengakses informasi.

Investasi di pasar modal memang tidak bisa terlepas dari informasi, karena dari informasi inilah antara lain harga saham bisa bergerak naik atau turun. Investor sebaiknya punya kemampuan analisa baik fundamental maupun teknikal, dan tidak kalah pentingnya adalah mendapatkan berita atau informasi serta menganalisa prospeknya dengan adanya berita tersebut.

Investor harus berhati-hati dan waspada terhadap segala bentuk rumor karena tidak menutup kemungkinan ada beberapa pihak yang sengaja menghembuskan rumor itu di pasar dengan tujuan mengeruk keuntungannya sendiri.

 


Ilustrasi investor ritel menjadi korban pom-pom saham
Ilustrasi investor ritel menjadi korban pom-pom saham

Sebagai contoh, jika pihak tersebut sebelumnya sudah membeli saham tertentu, ia berkecenderungan menyebar rumor melalui medsos atau dari mulut ke mulut agar investor lain ikut membeli saham tersebut sehingga harganya melambung tinggi. Saat banyak yang terpengaruh dengan rumor itu, saat itulah penyebar rumor berkesempatan menjual pada harga yang tinggi.

Inilah yang sering disebut pomp-pomp saham, yang "dimainkan" oleh para bandar saham atau influencer.

Jadi mesikpun investor itu butuh berita namun hati-hati dalam menyikapinya, karena kesalahan dalam menganalisa, apalagi salah memutuskan akan membawa konsekuensi yang besar dalam investasinya.

*** Hari Prabowo: Ketua LP3M Investa, pengamat pasar modal.
 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN