Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Fenomena Commodity Supercycle

Senin, 31 Mei 2021 | 07:39 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud

Investor.id - Commodity supercycle, yang sering disingkat CSC, ramai diperbincangkan di berbagai forum. Mungkinkah akan benar terjadi?

CSC menunjuk pada fenomena ketika harga komoditas diperdagangkan di atas harga rata rata harga jangka panjang, dengan kenaikan yang tajam dalam jangka panjang pula. Fenomena demikian terjadi apabila didukung oleh peningkatan kegiatan ekonomi yang sangat kuat, antara lain pemulihan pasca-krisis.

Bisa jadi CSC terjadi karena transformasi ekonomi mendasar, yang melahirkan paradigma ekonomi baru. Selain itu, empiris membuktikan bahwa pelemahan dolar AS, tingkat bunga yang rendah dan stimulus ekonomi yang besar merupakan energi tambahan mendorong CSC.

Pada musim panas 2008, misalnya, ketika dolar AS menyentuh titik terlemah, harga minyak bumi menyentuh harga tertinggi sepanjang sejarah.

Ekonom sepakat bahwa CSC paling mutakhir dimulai tahun 2000. Munculnya kekuatan ekonomi dan percepatan industrialisasi di negara negara BRIC (Brazilia, Rusia, India dan China) dengan jumlah penduduk 2,6 miliar (40% pddk dunia), saat itu, mendorong permintaan bahan mentah, energi dan makanan yang luar biasa besar. Pada tahun 2000 pula, China bergabung ke WTO, mengintegrasikan ekonominya ke dalam putaran ekonomi dan perdagngan global.

Kita menyaksikan pertumbuhan porsi ekonomi China dalam PDB dunia, naik dari 3,6% pada 2000 ke 17% pada 2020. Dan harga harga komoditas naik berpuluh kali lipat. Bahkan krisis finansial 2008, tidak menghentikan kenaikan harga komoditas yang menanjak terus sampai tahun 2011.

Saya melihat dua gelombang besar transformasi ekonomi sedang berlangsung saat ini. Pertama percepatan proses ke arah ekonomi digital. Kedua tekanan yang amat kuat ke arah green economy.

Karena itu daya kerek terbesar, bila betul CSC akan terjadi, terpusat pada hard commodities, khususnya logam dan mineral. Tembaga, nikel, timah, kobalt, emas dan perak.

Stimulus Zona Eropa yang berjumlah 1,8 triliun Euro, 30% diarahkan untuk melawan perubahan iklim. Pemerintrahan Biden di AS tahun ini telah meloloskan paket US$ 3 triliun untuk program sosial, infrastruktur dan perubahan iklim. Dalam Renaca Anggran 2022, Biden mengusulkan jumlah US$ 800 miliar untuk melawan perubahan iklim.

Tembaga akan berada di possisi paling depan. Kebutuhan tembaga mobil listrik (EV), beberapa kali lipat lebih banyak daripada mobil pembakaran. Konstruksi membutuhkan tembaga. Elektrifikasi membutuhkan tembaga. Baterai EV membutuhkan nikel. Begitu juga penyimpan energi untuk kebutuhan lain. Alumunium dibutuhkan agar kendaraan menjadi lebih ringan. Perak dibiutuhkan dalam instalasi photovoltaic. Energi tenaga surya.

Di ujung yang lain, batubara akan mengalami tekanan berat yang pertama. Disusul oleh minyak dan gas, sebelum dunia mampu beralih total ke energi terbarukan rendah emisi karbon....

*** Hasan Zein Mahmud, Dirut PT Bursa Efek Jakarta periode 1991-1996, mentor Komunitas Investa.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN