Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mentor LP3M Investa, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, pemerhati Pasar Modal

Hasan Zein Mahmud, mentor LP3M Investa, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, pemerhati Pasar Modal

Gelombang Merger dan Akuisisi Perbankan, Cermati Saham Ini

Kamis, 18 Februari 2021 | 07:44 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud

Investor.id - Gelombang merger dan akuisisi perbankan di Indonesia masih akan berlanjut. Bahkan akan semakin marak tahun ini dan tahun depan.

Salah satu persoalan fundamental sektor keuangan Indonesia, adalah jumlah bank yang terlalu banyak. (Sejatinya gejala serupa terjadi di segmen lembaga jasa keuangan lainnya). Jauh sekali dari jumlah ideal yang tertulis dalam Arsitektur Perbankan Indonesia yang disusun Bank Indonesia belasan tahun lalu.

Akibatnya, bank bank itu undercapitalized, terutama BUKU 1 dan 2. Padahal skala ekonomis sangat menentukan kelangsungan hidup suatu institusi keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kemudian menggiring perbankan itu untuk memenuhi persyaratan minimum modal inti secara bertahap. Lengkap dengan ancaman turun kelas jadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR), bila tidak mampu memenuhi pada tenggat waktu yang telah ditentukan. (Ancaman yang lebih menakutkan dari kematian)

Merger dan akuisisi oleh bank besar / asing, nampaknya merupakan pilihan terbaik. Penyetoran modal tambahan oleh pengendali sangat berat. Mencari dana lewat IPO, nyaris mustahil bagi sebagian besar BUKU 1.

Kelompok ini merupakan segmen yang menderita paling parah. Dari 13 bank konvensional BUKU 1, pada 3Q20, secara total hanya memiliki 0,64% aset perbankan nasional. Secara keseluruhan mereka menderita rugi.

Itu sebabnya, gelombang akuisisi melanda perbankan Indonesia beberapa tahun belakangan. Berikut sebagian kecil dari gelombang akuisisi itu. Grup Salim mencaplok Bak Ina Perdana. Mega Corpora milik konglomerat Chairul Tanjung, tak tanggung tanggung menyuntik modal di empat bank BUKU 1, Bank Sulut, Bank Sulteng, Bank Bengkulu, dan bank Harda.

APRO Financial, Korea, mengambil alih Bank Oke dan Bank Dinar. IBK Korea membeli Bank Mitraniaga dan Bank Agris. Yang paling gres, Sea Group, Singapura, mengambil alih pengendalian Bank Kesejahteraan Ekonomi.

Fenomena ini merupakan ksempatan untuk menangguk toa cuan bagi trader saham. Pengalaman membuktikan bank bank yang diakuisisi itu (acquired banks), harga sahamnya mengalami kenaikan luar biasa.

Hari hari terakhir ini, rumor tentang akan diambil alihnya BNBA (Bank Bumi Arta Tbk) oleh Sea Group, telah membuat saham bank tersebut mengalami ARA berkali-kali. Naik hampir 300% selama 6 bulan terakhir. Naik 271% sejak awal 2021.

Layak untuk dicermati pergerakan saham bank kecil yang tidak menutup kemungkinan sedang mencari investor untuk ikut dalam gelombang merger dan akuisisi guna meningkatkan permodalannya.

*** Hasan Zein Mahmud: mentor LP3M Investa, pernah menjabat Dirut PT Bursa Efek Jakarta.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN