Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

KOPI PAGI

Hampir Sentuh Titik Terendah, Cermati BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA

Oleh Hari Prabowo, Rabu, 13 Mei 2020 | 08:01 WIB

JAKARTA, Investor.id - Kemarin IHSG kembali terpuruk minus 1,09% di posisi 4588 sedangkan indek LQ45 turun 1,96%. Hampir mayoritas saham blue chips memerah kecuali UNVR, HMSP dan SMGR yang menghijau.

Investor asing kembali mengobral penjualan dengan net sell Rp 1 triliun dalam sehari. Saham saham perbankan papan atas BBNI, BBRI, BMRI, dan BBCA menjadi sasaran utama yang ditekan terlebih dahulu, dan berimbas ke saham sektor lain.

Kejatuhan indeks juga melanda bursa regional, dan hari ini dibuka pada zona merah. Bursa Wall Street, semalam, juga anjlok rata-rata 2%. Dow Jones Industrial Average ditutup 457,21 poin lebih rendah, atau 1,9%, pada 23,764,78. Sedangkankan S&P 500 turun 2,1% menjadi 2.870,12, dan Nasdaq Composite juga turun lebih dari 2% menjadi 9.002,55.

Sementara itu, harga minyak naik menyusul komitmen Arab Saudi yang akan memperbesar pemotongan pasokan pada Juni. Selain itu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga berencana untuk memperpanjang periode pemotongan produksi yang akan dibahas dalam pertemuan berikutnya.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menetap di $ 25,78 per barel, naik US$ 1,64, atau 6,8%. Sedangkan minyak mentah Brent berjangka ditutup pada US$ 29,98 per barel, naik 35 sen, atau 1,2%.

Seperti sering saya sampaikan bahwa sementara ini fluktuasi pergerakkan harga saham sangat tinggi, perubahan bisa terjadi kapan saja dengan rentang yang cukup lebar.

Hasil survei Bank Indonesia mengindentifikasikan bahwa penjualan eceran turun pada bulan Maret 2020 yang terlihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) dimana bulan Maret 2020 turun - 4,5% (YOY) lebih rendah dibandingkan bulan Pebruari yang -0,8% (YOY). Hampir seluruh kelompok komoditas mengalami penurunan kecuali makanan, minuman dan tembakau yang masih solid.

Penurunan penjualan eceran terdalam kelompok barang & jasa khususnya sandang. Ini menunjukkan daya beli masyarakat semakin melemah akibat pandemi virus covid-19 ini.

Beberapa harga saham hampir menyentuh titik terendahnya tahun ini secara year to date (YTD). Apakah akan terjadi serangan gelombang kedua atas IHSG sehingga tertekan kembali atau koreksi sesaat?

Bursa memang dalam situasi yang kurang nyaman serta sulit diprediksi karena ketidak pastian akibat pandemi virus corona yang masih sulit diprediksi kapan berakhirnya.

Sebenarnya banyak saham bagus yang harganya sudah sangat murah. Salah satu strategi yang mungkin bisa dilakukan adalah melakulan pembelian kembali ketika kita punya saham pada harga atas sehingga menurunkan harga rata-ratanya. Namun, harus pada waktu yang tepat sampai kita menemukan sinyal bahwa tekanan sudah mulai reda dulu.

Untuk itulah memang diperlukan strategi untuk menjaga cash sehingga ketika harga saham terdiskon cukup besar, ada dana untuk melakukan pembelian kembali.

Saham perbankan memang sering menjadi ujung tombak baik ketika mengalami penurunan maupun ketika mulai naik. Bisa dipahami karena bank merupakan pusat sirkulasi keuangan.

Jadi silakan jika kita menganggap harga saham bank terutama BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA sudah rendah maka saatnya beli kembali sehingga jika terjadi pembalikanarah maka saya kira saham-saham tersebut yang akan bereaksi dulu.

* Hari Prabowo, Pengelola Komunitas Investa dan Pengamat pasar modal

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN