Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat pasar modal.

KOPI PAGI

IHSG Anjlok Mendekati Level 6000, Kenapa?

Rabu, 31 Maret 2021 | 08:01 WIB
Oleh Hari Prabowo

JAKARTA, Investor.id - Pekan ini, pasar saham terguncang dengan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) mendekati level psikologis 6000. Berbagai pertanyaan muncul di kalangan pelaku pasar tentang hal ini, mengingat bursa global dan regional kemarin rerata "menghijau".

Memang ada berita tentang potensi kerugian kasus transaksi margin di AS, yang dialami perusahaan asset management yaitu Archegos Capital. Kasus ini menyeret sejumlah bank besar seperti Nomura dan Credit Suisse yang menjadi kreditur, sehingga harga saham kedua bank tersebut anjlok.

Yang menjadi pertanyaan, kemarin indeks Bursa Asia rerata menghijau, sehingga bisa disimpulkan bahwa kasus margin trading Archegos Capital tidak sepenuhnya menjalar ke Asia. Indeks bursa utama Eropa juga menguat, kemarin ditopang optimisme pemulihan ekonomi di benua tersebut. Jadi masih perlu pengamatan lebih lanjut tentang hal ini.

Dari dalam negeri diberitakan bahwa BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek), yang mengelola dana sangat besar akan mengurangi portofolio yang ditempatkan di saham dan reksa dana. Menurut saya, faktor ini lebih punya dampak terhadap penurunan IHSG.

Mari kita coba urai kenapa bisa punya pengaruh signifikan terhadap IHSG. BPJS Ketengakerjaan (Jamsostek) mempunyai dana kelolaan yang sangat besar untuk ukuran dalam negeri, di antaranya dikelola dalam bentuk saham yang diperdagangkan di bursa dan reksa dana.

Jika BPJS ini benar akan mengurangi porsi penempatannya di saham dan reksa dana maka kemungkinan akan terjadi pelepasan saham yang menyebabkan supply di pasar menjadi relatif besar. Pada waktu bersamaan  investor asing juga sedang getol jualan saham, mungkin mereka punya strategi yang lain, sehingga pasar menjadi semakin tertekan.

Bukan hanya itu, setelah BPJS ini mengurangi porsi mereka tentu dalam jangka pendek tidak lagi masuk ke bursa untuk penempatan baru sampai pada posisi yang diinginkan manajemen dalam struktur keuangan BPJS. Artinya bursa kehilangan salah satu investor potensial yang selama ini cukup aktif.

Menarik untuk dikupas lebih dalam kenapa manajemen BPJS sampai punya niat mengurangi portofolionya di saham dan reksa dana ?  Mungkinkah manajemen khawatir bahwa jika terjadi kerugian atas pengelolaan di saham dan reksa dana dianggap sebagai "korupsi" ?

Ini menurut pandangan saya sangat mungkin mengingat saat ini BPJS sedang masuk ranah hukum penyelidikan di Kejaksaan Agung karena disebutkan ada potensi kerugian di saham dan reksa dana. Dilematis memang, siapa pun manajemennya pasti punya rasa takut jika sampai dituduh korupsi ketika lembaganya mengalami kerugian. Mereka tentu tidak mau ambil risiko besar sampai masuk penjara.

Saya kira ini bisa pula terjadi pada lembaga pengelola dana yang lain seperti Dana Pensiun. Bisa jadi "trauma" ini juga dirasakan para manajemennya sehingga akibatnya mereka kurang bergairah untuk melakukan investasinya di instrumen pasar modal. Kalau ini benar faktor ini yang terjadi maka akan terjadi kemunduran terhadap industri pasar modal kita.

Seperti kita ketahui bahwa investasi di instrumen pasar modal ini adalah "high return, high risk". Jadi perlu pemahaman yang komplet dan detail tentang hal ini, perlu dipilah-pilah antara risiko pasar dan risiko tindak kejahatan. Jika yang terjadi risiko pasar sehingga mengakibatkan potensi kerugian portofolio, hal itu adalah risiko yang seharusnya sudah diperhitungkan dan bukan tindak kejahatan.

Memang pasar modal kita saat ini sedang menjadi sorotan dengan kasus-kasus seperti Asuransi Jiwasraya, Asabri dan beberapa perusahaan Asset Management yang mengalami kegagalan atas reksa dananya, dan juga terjadinya kasus gagal bayar di beberapa lembaga asuransi.

Berharap kejadian beruntun ini menjadi instropeksi semua stakeholders , seperti Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan lembaga hukum, demi kemajuan pasar modal Indonesia. Dengan demikian, pasar modal bisa berkembang menjadi lebih sehat, lebih transparan, dan menjadi tempat masyarakat berinvestasi guna mendorong korporasi menggerakkan ekonomi Indonesia.

*** Hari Prabowo: Ketua LP3M Investa, pengamat pasar modal.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN