Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua LP3M Investa Hari Prabowo

Ketua LP3M Investa Hari Prabowo

KOPI PAGI

IHSG Terkoreksi, Potensi Kerugian atau Peluang Beli?

Selasa, 1 September 2020 | 07:22 WIB
Oleh Hari Prabowo

Investor.id – Pada perdagangan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam, minus 2,02%, kembali menembus level di bawah titik psikologis 5.300, yakni ditutup pada level 5238.

Guyuran aksi jual investor asing sebesar Rp 1,9 triliun di berbagai saham Blue Chip menjadi penekan terberat bagi IHSG. Padahal di awal sesi IHSG masih mampu berada di jalur hijau di posisi 5369. Namun tekanan jual mulai datang pada sesi kedua bahkan semakin berat menjelang tutup perdagangan bursa.

Pertanyaannya adalah kenapa IHSG bisa turun begitu cepat? Ini pertanyaan klasik yang akan muncul dari investor ketika merasakan penurunan yang cukup tajam. Menurut kajian saya ada beberapa hal penyebabmya antara lain:

1. Dalam dua pekan terakhir IHSG sudah naik cukup tinggi terutama didukung saham perbankkan papan atas yang naik rata-rata lebih 5% sehingga terjadi aksi ambil untung (profit taking).

2. Antisipasi jika Pemerintah mengumumkan secara resmi terjadinya resesi di negara kita.

3. Perkembangan kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia yang masih cukup tinggi.

4. Laporan Keuangan emiten di Q2 yang mayoritas mengalami penurunan laba usaha.

Faktor-faktor tersebut menjadi alasan bagi investor asing untuk melepas portfolionya yang lebih banyak dipegang adalah saham-saham Blue Chip. Aksi ini mempengaruhi psikologi investor lokal, terutama ritel dan investor "margin", yang biasanya juga cepat bereaksi menjual saham-sahamnya.

Jika penjualan saham secara masif jelang penutupan pasar, kemarin, kemungkinan masih bisa berlanjut hari ini.

Nah sekarang bagaimana sebaiknya investor menyikapi penurunan ini ? Bagi investor yang kebetulan sebelumnya telah menjual saham dalam portfolionya dan saat ini banyak memegang posisi cash, tentu penurunan berbagai harga saham ini justru menjadi peluang bagus karena bisa ada kesempatan untuk akumulasi pada harga murah.

Sebaliknya, bagi investor yang belum sempat take profit atau banyak pegang portfolio, menjadi kurang nyaman karena dalam posisi "potential loss" dimana nilai sahamnya turun di bawah harga beli.

Pada posisi seperti ini, jika investor mempunyai saham saham yang berfundamental dan prospek bagus, tidak perlu galau karena bisa melakukan pembelian kembali pada saham yang sama pada harga yang lebih murah sehingga rata-rata harga pokoknya bisa turun (avarage down).

Namun perlu memperharikan waktu yang tepat (timing) dalam mengeksekusi strategi beli, yakni saat IHSG sudah tidak lagi dalam tekanan berat dan lebih baik lagi ketika ada sinyal mau rebound.

Demikian pula dengan saham yang akan dibeli harus diusahakan ketika harga sudah tidak dalam tekanan berat.

Kondisi pasar memang bukan kondisi yang baik semenjak pandemi Covid-19. Pasar sangat fluktuatif, dan rentan terjadi perubahan yang begitu cepat. Ekonomi masih sangat sulit diprediksi, ketidakpastian masih tinggi dan belum bisa kita ketahui sampai kapan.

Untuk itulah investor perlu menyesuaikan kondisi pasar saat ini, berinvestasi dan berdagang di tengah pandemi yang mempunyai faktor ketidakpastian sangat tinggi. Yang utama adalah bisa mengusai psikologis diri agar tidak cepat panik, sebaliknya berusaha tetap tenang agar bisa mengambil peluang dalam setiap situasi untuk mendatangkan cuan.

 

***Hari Prabowo, Ketua LP3M INVESTA dan pengamat Pasar Modal.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN