Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dr. S Benny Pasaribu, PhD (Ekonom Senior, mantan Ketua KPPU RI)

Dr. S Benny Pasaribu, PhD (Ekonom Senior, mantan Ketua KPPU RI)

DAMPAK COVID-19:

Jadikan Stimulus Fiskal sebagai Alat Transformasi Ekonomi RI

Oleh Dr S Benny Pasaribu Phd, Minggu, 19 April 2020 | 17:22 WIB

JAKARTA, Investor.id- Sudah lebih dari sebulan kita dihimbau #dirumahaja. Penyebaran virus corona (Covid-19) makin meluas dan dampak negatifnya terhadap perekonomian Indonesia makin terasa.

Saya pelajari dari pengalaman berbagai negara saat ini ditambah pengalaman Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi pada1998, perkiraan saya perekonomian Indonesia akan mengalami krisis yang cukup dalam dengan pertumbuhan minus 4.2% - 5.1%.

Berbeda jika respons pemerintah dan seluruh warga sangat tepat dan cepat dalam menghadapi penyebaran Covid 19. Masalah ini akan cepat berakhir (secepatnya bulan Agustus 2020) dan aktivitas ekonomi segera menggeliat kembali sehingga krisis bisa berkurang dan ekonomi bisa tumbuh minus 3.0 - 4.2 %.

Saat ini, aktivitas negara, swasta, dan masyarakat sudah banyak dilakukan dari rumah. Sekolah dan ibadah dilakukan di rumah. Aktivitas sosial seperti pesta dan kumpul-kumpul lainnya dibatasi dengan tetap menjaga jarak 1 - 2 m.

Selanjutnya, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jakarta sudah berjalan hampir dan minggu, dan diperluas ke Bodebek dan Tangerang. Kini sejumlah wilayah di Indonesia juga mengikuti untuk memberlakukan PSBB. Hal ini otomatis berdampak pada kegiatan ekonomi.

Restauran dan hotel makin banyak yang tutup. Tempat-tempat pariwisata ditutup. Banyak pabrik manufaktur yang tutup. Perkantoran dilakukan dari rumah (work from home/WFH). Alat transportasi yang beroperasi tinggal 10%.

Kegiatan ekspor, impor, dan investasi akan mengalami penurunan. Konsumsi keluarga juga akan turun cukup signifikan. Transfer dari pemerintah ke masyarakat miskin akan membengkak. Proyek infrasrruktur dan padat karya pemerintah semakin mengecil.

Memang ada juga kegiatan bisnis yang mengalami booming. Selalu ada bisnis yang untung dan ada yang rugi dalam situasi apa pun. Dalam hal ini, sejumlah kegiatan ekonomi mencatat pertumbuhan yang tinggi seperti rumah sakit, farmasi, herbal/ jamu, manufaktur alat-alat kesehatan, usaha mikro kecil (UMK), bisnis on line, IoT, dan lainnya. Pertumbuhan bisnis lainnya kemungkinan flat kalau tidak menurun.

Tetapi secara keseluruhan tidak ada instrumen apa pun yang bisa mengkompensasi setiap penurunan aktivitas ekonomi yg terus menurun. Saat krisis tahun 1998, ekonomi RI ditolong oleh UKM, namun kini UKM kena dampaknya karena pemberlakuan PSBB.

Kita menyaksikan respon pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin yang lumayan cepat untuk memitigasi dampak Covid-19 terhadap perekonomian. Pemerintah telah menyediakan dana APBN sekitar Rp 405,1 triliun. Solusi cepat ini patut diacungi jempol walaupun masih banyak orang menganggap jumlah tersebut masih terlalu kecil dibanding yang dilakukan di negara lain.

Masalahnya, dana sebesar itu pun harus dibiayai dari utang dengan menerbitkan obligasi pemerintah? Mau menambah dana bantuan dengan menambah utang lagi? Sejumlah BUMN juga ikut merogoh koceknya walau kegiatan bisnis dan likuiditasnya masih cukup memperihatinkan.

Masalah kita saat ini adalah distribusi dan alokasi dana bantuan tersebut diperuntukkan bagi siapa? Dana tersebut akan sangat besar manfaatnya sebagai solusi jika sebagian terbesar diberikan kepada warga miskin dan berupa stimulus bagi usaha mikro, kecil dan koperasi, usaha-usaha rakyat, petani, nelayan, dan ekonomi kreatif.

Kita berharap manfaat dari stimulus ekonomi tersebut lebih fundamental nantinya, yakni adanya pertumbuhan dan transformasi struktural ekonomi yang lebih kerakyatan, yang terjadi bersamaan dengan penanganan Covid 19.

Tetapi masalahnya, dari penjelasan pemerintah, kelihatannya dana tersebut akan dialokasikan cukup besar untuk membantu usaha besar dan konglomerasi dengan alasan kena dampak Covid-19. Padahal, bagi pengusaha kaya, justru saatnya menderma karena negara dan masyarakat menghadapi wabah dan krisis kehidupan.

Tanpa bantuan dana pemerintah pengusaha besar pasti mampu dan punya banyak akal untuk mencari jalan keluar dari setiap persoalan. Sementara warga kebanyakan terlalu lemah untuk berfikir panjang karena kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi.

Saya selalu menyampaikan, bahwa membantu yang lemah itu sama dengan menambah energi bagi yang kuat.
Yang saya yakini bahwa kita adalah bangsa yang memiliki berkeadaban. Saat inilah perlu kita tunjukkan rasa kebersamaan dan kegotongroyongan dimana yang kuat dan kaya membantu yang lemah dan miskin.

Mayarakat yang lemah dan miskin juga harus manut mengikuti himbauan dan aturan pemerintah. Dengan demikian kita akan lebih cepat keluar dari tekanan Covid-19 dan ekonomi Indonesia tidak sampai drop hingga minus 5.1 %.

Bahkan mimpi kita bisa menjadi kenyataan. Ini adalah saat yang tepat untuk transformasi struktural terjadi di bidang ekonomi Indonesi. Semoga!

 

*** Dr S Benny Pasaribu, Phd (Ekonom Senior, Mantan Ketua KPPU RI)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN