Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Esra Manurung/IST

Esra Manurung/IST

Katanya Asuransi Itu "Bullshit"

Esra Manurung, Senin, 9 September 2019 | 11:17 WIB

Jakarta, Investor.id - Suatu kali, sepulang sekolah anakku berkata, “Ma temanku tanya, apa perkerjaan papa mama, aku jawab asuransi. Lalu beberapa hari kemudian dia mengatakan, menurut mamanya asuransi itu bullshit. Mengapa mereka berpendapat seperti itu Ma?”.

Sejujurnya, dadaku seperti disiram air hangat mendengarnya. Kutarik nafas untuk mengatur reaksiku tetap “kalem”. Entah apa yang dirasakan anakku ketika teman baiknya memberikan pendapat seperti itu tentang pekerjaan orang tuanya.“Sayang, dalam hidup ini ada dua hal yang akan datang entah kita setuju atau tidak,” jawabku. Yaitu hal yang diharapkan dan yang yang tidak diharapkan. Untuk menghadapi keduanya, kita perlu membuat rencana guna memastikan HARAPAN itu tetap hidup dihati kita dan dihati orang - orang yang kita kasihi.

Ada seorang ayah yang sangat sukses, mempunyai empat anak yang bekerja membantunya meneruskan “kerajaan” yang dibangun sepanjang hidupnya. Melewati usia 70 tahun, sang ayah sakit berat. Pada saat itu terjadi krisis ekonomi bersamaan dengan proyek terbesar yang sedang berjalan. Proyek itu menguras perputaran uang tunai mereka. Bahkan mereka menggunakan fasilitas modal dari bank. Krisis pertama muncul, bagaimana mengatasi pemulihan kesehatan dan harapan hidup sang ayah.

Sang ayah harus dilarikan ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan terbaik. Dan anak-anaknya sekarang menghadapi krisis kedua dimana mereka harus menyediakan dana tunai untuk membayar tagihan - tagihan yang melaju. Pertanyaannya, menggunakan uang siapa? Apakah mudah mengeluarkan dana perusahaan, apalagi harus melalui prosedur pencatatan. Apakah siap sedia dana perusahaan dikeluarkan, mengingat perusahaan sedang menjalankan proyek besar. Dan jika proyek terhenti, berapa banyak lagi biaya akan membengkak karena keterlambatan? Krisis kedua ini menimbulkan percakapan yang berat bagaimana mereka akan menyediakan dana pengobatan sang ayah.

Tentu mereka punya aset mahal yang bisa dijual. Sayangnya semakin mahal aset semakin tinggi tingkat kesulitan menjadikannya dana tunai yang siap pakai. Masalahnya menjadi kompleks, karena untuk meniual aset setidaknya ada tiga hal yang harus dihadapi:
1. Butuh waktu yang panjang 3-6 bulan.
2. Butuh biaya setoran pajak penjualan yang besar.
3. Butuh pembeli yang menawar dengan harga yang manusiawi.
Poin ketiga ternyata yang paling sulit karena pembeli tahu pemilik aset sedang butuh uang sehingga memiliki kesempatan menawar semurah-murahnya . Ini kemudian menjadi krisis ketiga yang tak diinginkan.

Akhirnya suka tak suka mereka mengeluarkan DANA PRIBADI untuk biaya rumah sakit yang hanya hitungan bulan bergerak cepat seakan tak kenal jeda. Melejit kebelasan miliar dan terus bergulir. Disini krisis keempat muncul, siapa yang paling banyak, siapa paling sedikit memberi? Ketika sudah mulai melibatkan uang pribadi tidak semua berjiwa sama besar, apalagi ini akan melibatkan pihak ketiga pasangan masing-masing. Konfilk keempat juga datang dari keterlibatan pasangan mereka yang berakibat terjadinya KONFLIK hubungan kakak adik.

Kejadian itu bukan satu dua bulan, tapi melewati lusinan bulan sebelum mereka akhirnya melepaskan kepergian ayah mereka. Konflik tidak selesai begitu saja karena ini menjadi dasar dari masalah selanjutnya yaitu distribusi kekayaaan dan kewajiban. (Alis anakku makin merapat, sepertinya penjelasanku banyak yang tak masuk akalnya tapi pernyataan berat dari kawannya perlu jawaban berat pula, dia perlu belajar cepat).

Asuransi adalah Kebijaksanaan
Kehadiran agen asuransi untuk keluarga Indonesia diperlukan bahkan sampai ke level keuangan yang sangat mapan sekalipun. Jika mereka mengenal kebutuhan keluarga, tekun mengembangkan keterampilan tentang pentingnya menangani risiko dengan bijak, sang ayah tentu sudah punya asuransi kesehatan pribadi yang terbaik.

Konfik berlapis-lapis bisa dihindari dengan mengalihkan risiko keuangan kepada perusahaan asuransi yang terpercaya. Seluruh keluarga bisa dengan tenang, fokus memberi support mental kepada ayah tercinta dan menjalani masa-masa sulit dengan rukun. Bukan malah ditimpa krisis berkali-kali. Sangat tidak manusiawi saat menjalani masa sulit secara fisik dan mental, keluarga masih di bebani masalah “tagihan” keuangan.

Bullshit terjadi ketika manusia melalaikan hal kecil yang berdampak fatal pada hubungan.
Kadang ini terjadi karena terlalu merasa mampu mengatur segala sesuatu, padahal ada kalanya hidup ini seperti berada di titik nol. Kita hanya perlu menggunakan akal sehat dan medengar dengan hati. Tugas seorang ayah bukan hanya mengasilkan kekayaan, tapi bagaimana mengaturnya untuk digunakan secara bijak jika hal yang diinginkan datang.

Asuransi adalah strategi bijak dalam menghadapi masa kelam. Dimana seluruh anggota yang terbawa didalamnya bisa menghadapi dengan tenang dan fokus untuk menjaga obor harapan tetep berkobar. Bukan malah dihujani beban mental.

Risiko terendah yang sangat mungkin untuk dialihkan adalah risiko keuangan. Itulah asuransi.
Semakin besar kekayaan seseorang, semakin besar risiko yang dihadapinya. Makin tinggi pencapaian seseorang, makin tinggi pula ekspektasinya tentang kenyamanan. Makin tinggi kualitas hidup seseorang, makin tinggi biaya kesehatan dan pemulihannya.

Asuransi adalah jaminan KENYAMANAN bagi induvidu-individu terbaik. Tidak sepantasnya seorang ayah yang begitu sukses meningalkan krisis yang menghantam hubungan baik diantara anak-anaknya. Dan kita bisa yakin bukan itu tujuan semua kerja keras dan kejayaan yang dicapainya.

Asuransi adalah konsep dengan karakter, sepantasnya dilakukan dengan benar oleh individu berkarakter untuk pribadi yang juga punya karakter. “Nak, orang tuamu tidak mengerjakan bullshit. kami dengan senang hati melayani klein-klien yang menghargai saran kami dan mau melakukannya. Kelak mereka akan memetik kebaikan dan harapan ketika melewati masa yang tak diinginkan.Harapan mereka tetap terjaga cahayanya." (Dia menatapku dengan mata berbinar, entah dia mengerti semua maksudku atau tidak.)

Yang pasti, anakku kemudian berkata, “I see mom, So proud of you”.

*Esra manurung: Life time MDRT member, Penulis & Pembicara, Co Founder LKG Manulife, Pendiri Yayasan Maharani Kirana Pertiwi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA