Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Putri Dusak, dokter gigi

Putri Dusak, dokter gigi

Ke Dokter Gigi Tidak Melulu Sakit Gigi

Minggu, 20 Desember 2020 | 09:42 WIB
Oleh Putri Dusak

Investor.id - Masyarakat Indonesia seringkali datang ke dokter gigi saat obat apa pun yang dia coba konsumsi tidak lagi mampu untuk menghilangkan rasa sakit yang dia rasakan. Padahal, banyak manfaatnya jika datang ke klinik gigi.

Misalnya perawatan dalam hal keindahan dan mengembalikan fungsi pengunyahan seperti bleaching (pemutihan gigi), veneer (perbaikan bentuk gigi), kawat gigi maupun gigi palsu. Kontrol berkala yaitu minimal 6 bulan sekali untuk mengecek keadaan gigi dan mulut.

Adapun manfaat lain adalah kebutuhan identifikasi antemortem (data diri korban sebelum meninggal) dan postmortem (data diri korban sesudah meninggal).

Kematian yang menyebabkan bagian-bagian tubuh tercerai-berai ataupun kerusakan pada daerah wajah akan menyulitkan proses identifikasi. Bagian-bagian penting dalam proses identifikasi ini menjadi kunci untuk pengumpulan data postmortem sehingga dapat dibandingkan dengan data antemortem untuk mengidentifikasi korban.

Wajah menjadi bagian utama untuk mengidentifikasi seseorang dalam kehidupan sehari-hari,. Pada masa pandemik Covid-19 kita diharuskan untuk menggunakan masker saat beraktivitas yang seringkali menyulitkan kita untuk mengidentifikasi seseorang.

Selain wajah, sidik jari dan DNA adalah dua hal yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi setiap individu karena keunikannya. Tetapi tidak semua kasus kematian dapat dengan mudah diidentifikasi dengan sidik jari maupun DNA, karena di beberapa keadaan kedua hal itu tidak dapat dilakukan.

Misalnya pada kasus korban tenggelam di air berhari-hari yang mengakibatkan sidik jari sulit untuk didapatkan ataupun korban hangus terbakar yang hanya menyisakan tulang-belulangnya.

Salah satu contoh kasusnya adalah kematian akibat kebakaran, dimana tidak dapat ditemukan jaringan yang dapat digunakan untuk identifikasi DNA kecuali pada bagian dalam giginya yang disebut “ruang pulpa”.

Ruang pulpa ini berisikan syaraf dan pembuluh darah, jaringan ini akan terlindungi sebab gigi merupakan struktur paling keras yang terdapat pada tubuh manusia. Gigi bisa bertahan meski terbakar pada suhu 2.000 derajat Fahrenheit (sekitar 1.093 derajat Celsius).

Fakta lainnya gigi-geligi di dunia ini tidak ada yang sama karena menurut SIMS dan Furnes bahwa gigi manusia kemungkinan sama adalah 1:1000000000.

Karena kekuatan dan keunikannya, gigi-geligi menjadi data yang penting dalam proses identifikasi manusia. Data-data ini menjadi lebih penting lagi dalam situasi ketika individu tidak dapat teridentifikasi.

Rekam medis dokter gigi dapat sangat membantu sebagai data antemortem. Rekam medis sendiri terdiri dari data diri, bagan odontogram (gambar peta keadaan gigi), tabel perawatan dan lampiran pelengkap atau penunjang.

Ilustrasi: dokter gigi menjelaskan ke pasien/IST
Ilustrasi: dokter gigi menjelaskan ke pasien/IST

Saat kita pergi ke dokter gigi dipastikan untuk mengisi biodata diri sebagai prosedur awal pemeriksaan. Saat proses pemeriksaan dokter gigi diharuskan untuk mencatat semua kondisi gigi pasien baik yang dikeluhkan maupun tidak di dalam tabel yang disebut dengan odontogram. Selain data diri dan bagan odontogram terdapat tabel perawatan yang berisikan pemeriksaan dan perawatan pada hari pasien diperiksa.

Selain prosedur penambalan gigi, tidak jarang dokter mencetak gigi untuk kebutuhan gigi palsu maupun ortodonti. Dokter juga memberikan rujukan untuk melakukan ronsen foto seperti panoramik ataupun chepalo. Cetakan gigi maupun hasil foto ronsen nantinya akan disimpan sebagai lampiran pelengkap.

Data-data ini menjadi dokumen yang sangat penting untuk kita sebagai individu, yang mana nantinya dokumen tersebut akan menjadi data “antemortem”. Sedangkan data “postmortem” didapatkan setelah seseorang dinyatakan meninggal.

Kita tidak akan pernah tahu kapan data-data ini akan sangat dibutuhkan. Pada kasus dimana tubuh kita tidak dapat teridentifikasi, data-data antemortem sangat membantu ahli forensik untuk mengidentifikasi.

Keluarga maupun kerabat pasti menginginkan jasad orang yang mereka kenali untuk disemayamkan dengan baik dan benar. Dengan adanya identifikasi ini pun akan mudah untuk mencatat kematian seseorang.

“Periksalah kesehatan gigi dan mulutmu minimal 6 bulan sekali”, mungkin kalimat tersebut sering kita dengar tetapi tidak kita indahkan.

Setelah membaca artikel ini kita bisa belajar dan peduli dengan hal-hal yang sebenarnya kita tidak tahu apakah kita membutuhkannya atau tidak di masa yang akan datang.

Jadi mulai sekarang setiap ke dokter gigi kita dapat lebih peduli terhadap hal-hal kecil seperti mengisi biodata dengan benar, apakah dokter gigi mengisi bagan odontogram dengan lengkap atau tidak dan meminta kembali hasil foto ronsen atau cetakan gigi jika dokter tidak lagi memerlukannya. Mengingat pentingnya hasil foto ronsen dan cetakan gigi, sebaiknya kita simpan agar dapat digunakan dikemudian hari.

Sebaiknya kita memiliki satu dokter tetap untuk memeriksa keadaan gigi geligi kita, karena untuk memudahkan pengumpulan data antemortem oleh ahli forensik. Mulai sekarang kita harus lebih peduli terhadap hal-hal yang sebenarnya penting untuk dilakukan dan salah satunya mempunyai data-data antemortem.

*** Putri Dusak, dokter gigi yang sedang menempuh S2 ilmu forensik.

 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN