Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hamdi Hassyarbaini, Komisaris Utama PT Pefindo Biro Kredit/IST

Hamdi Hassyarbaini, Komisaris Utama PT Pefindo Biro Kredit/IST

Kenali Skor Kredit Anda

Oleh Hamdi Hassyarbaini, Rabu, 30 Oktober 2019 | 10:46 WIB

Jakarta, Investor.id - Cuplikan dialog film Whitehouse Down sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana pentingnya skor kredit  seseorang. John Cale, yang melamar menjadi agen rahasia khusus pengawal Presiden AS, akhirnya gagal karena dianggap tidak mengindahkan skor kredit.

Berikut petikan dialog tersebut.

Carol: Sepertinya kamu sering berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain ya, dari mekanik, supir limo, kemudian buruh konstruksi.
Cale: Apakah skor kredit saya ada disitu?
Carol: Ya, dan kamu harusnya malu.
Cale: Tapi itu kan karena resesi.

Di Amerika Serikat,  skor kredit menjadi hal yang sangat penting karena akan menentukan apakah seseorang bisa memperoleh fasilitas kredit dari bank atau tidak, atau bahkan menentukan nasib seseorang apakah  diterima bekerja di suatu perusahaan atau tidak.

Skor kredit juga dipakai untuk menentukan suku bunga pinjaman bagi seseorang. Bagi yang skor kredit bagus akan memperoleh fasilitas kredit dengan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan orang lain yang memiliki skor kredit rendah. Oleh karena itu warga Amerika Serikat selalu berupaya agar skor kredit mereka tidak jatuh.

Penggunaan skor kredit sebagai dasar pertimbangan pemberian kredit di negara-negara maju sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Di Amerika Serikat pada awalnya dasar penentuan  skor kredit seseorang hanya bersumber dari koran seperti berita penangkapan, perkawinan, promosi, termasuk berita pertengkaran rumah tangga, kehidupan seksual, aktivitas politik, dan lain-lain. Sama sekali tidak ada unsur ilmiah dalam penentuan skor kredit.

Pada tahun 1956 William Fair dan Earl Isaac mulai menggunakan data untuk memprediksi kemungkinan seorang calon debitor gagal membayar kembali utangnya. Pada masa itu, seseorang akan digolongkan sebagai calon debitor baik dikaitkan dengan lamanya orang tersebut memiliki telepon, berdomisili di suatu alamat yang sama, bekerja di perusahaan yang sama, dan usia orang tersebut.

Fair dan Isaac kemudian membuat biro konsutan yang produknya adalah kartu skor (score card) dan kemudian didistribusikan kepada bank dan nasabah bank. Beredarnya kartu skor ini menarik perhatian regulator sehingga pada tahun 1970 dikeluarkan Fair Credit Reporting Act (FCRA) yang mengharuskan biro kredit untuk memberikan informasi kredit hanya kepada pihak-pihak dengan tujuan yang sah (legitimate) dan mengharuskan biro kredit menjamin akurasinya serta memberikan hak kepada nasabah untuk melihat dan mengkoreksi jika ada ketidak benaran informasi.

Bagaimana di Indonesia?
Berbeda dengan kelahiran biro kredit di Amerika Serikat yang pada awalnya diinisiasi oleh pihak swasta (dan kemudian diadopsi oleh regulator), di Indonesia kelahiran biro kredit diinisiasi oleh regulator yang pada waktu itu adalah  Bank Indonesia dengan menerbitkan Peraturan Bank Indonesia nomor 15/1/PBI/2013 tanggal 18 Februari 2013 tentang Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan. Bank Indonesia menggunakan sebutan resmi Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (LPIP) untuk biro kredit.

Salah satu pertimbangan dalam penerbitan Peraturan No.15/1/PBI/2013 adalah karena selama ini penyelenggaraan sistem informasi debitur yang dilakukan oleh Bank Indonesia mencakup data penyediaan dana yang bersumber dari lembaga keuangan dan menghasilkan informasi perkreditan yang bersifat standar. Dengan peraturan tersebut, pihak lain termasuk pihak swasta diberikan kewenangan untuk melakukan pengelolaan dan penyediaan informasi perkreditan yang memiliki nilai tambah (value added services).

Istilah skoring kredit atau credit scoring sendiri terdapat dalam penjelasan Pasal 45 ayat (2). Dikatakan dalam penjelasan tersebut bahwa termasuk dalam informasi yang mempunyai nilai tambah antara lain informasi berupa credit scoring, fraud alert, customer profiling, monitoring and evaluation.

Skor kredit merupakan hasil olahan data kredit yang diperoleh oleh LPIP dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (sebelumnya dikenal dengan Sistem Informasi Debitur yang dikelola oleh Bank Indonesia) dan data lainnya yang diperoleh oleh LPIP dari lembaga keuangan dan atau non-lembaga keuangan yang bekerjasama dengan LPIP. Jadi, berbeda dengan data kredit standar yang diperoleh melalui SLIK (dulu SID), skor kredit bisa memberikan gambaran apakah seorang calon debitur itu memiliki risiko tinggi, sedang, atau rendah, tergantung skornya. Semakin besar  skor seseorang, semakin rendah risiko orang tersebut artinya semakin layak untuk diberikan fasilitas kredit.

Bagaimana cara mengetahui skor kredit ? Anda bisa mendatangi salah satu biro kredit atau LPIP yang ada. Salah satu biro kredit yang ada di Indonesia adalah Pefindo Biro Kredit, yang telah beroperasi sejak bulan Maret 2017. Proses untuk mendapatkan skor kredit tidaklah rumit. Anda hanya perlu menyerahkan fotokopi kartu identitas  dan tentu saja petugas biro kredit akan melakukan proses pengenalan nasabah atau know your client (KYC) untuk memastikan bahwa anda adalah benar-benar orang yang nama dan fotonya tertera di fotokopi kartu identitas yang diserahkan.

Jaga Skor Kredit
Selalu jaga skor kredit Anda! Caranya, jangan pernah menunggak utang, apalagi berniat ngemplang, karena semua data utang Anda kepada lembaga keuangan resmi akan tercatat di SLIK. Saat ini biro kredit yang ada di Indonesia masih sangat mengendalkan data kredit yang diperoleh dari SLIK, yang kemudian diolah bersama data dari lembaga lain.

Pada masa depan akan semakin banyak data dari lembaga lain yang digunakan untuk meningkatkan kualitas skor kredit yang dihasilkan seperti data pembayaran listrik, air, telepon, dan utilitas lainnya. Jadi, menunggak pembayaran listrik atau telepon pun bisa berakibat turunnya angka skor kredit anda.

Di Indonesia, skor kredit saat ini memang baru digunakan oleh lembaga keuangan sebagai pertimbangan dalam memutuskan apakah akan memberikan fasilitas kredit kepada seseorang atau tidak. Namun, di Amerika Serikat skor kredit juga digunakan dalam menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan kepada calon nasabahnya, dipakai dalam proses rekrutmen karyawan. Indonesia tentu saja juga akan menuju ke arah itu. Bahkan, bukan  mustahil, skor kredit juga bisa digunakan untuk menilai apakah anda layak jadi menantu atau tidak! Jadi, jagalah selalu skor kredit Anda.

Lompatan yang cukup drastis ditempuh oleh pemerintah China yang akan memberlakukan social credit system pada tahun 2020 mendatang. Dengan sistem ini, pemerintah China akan memantau perilaku setiap warganya di tempat umum melalui kamera pengawas. Warga yang berperilaku buruk seperti menerobos lampu merah atau antrian, menyeberang bukan pada tempat yang ditentukan, meludah atau membuang sampah sembarangan akan mendapatkan pengurangan social credit-nya.

Warga dengan social credit yang buruk akan dibatasi aksesnya ke fasilitas umum seperti tidak diperkenankan menginap di hotel berbintang 5 atau naik pesawat di kelas bisnis. Sebaliknya, warga yang memiliki social credit bagus akan diberikan hadiah. Mengingat perilaku sebagian anggota masyarakat Indonesia, rasanya sistem seperti ini perlu dipertimbangkan untuk diterapkan, tentunya dengan beberapa penyesuaian.

*) Penulis adalah Komisaris Utama PT Pefindo Biro Kredit

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA