Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chariman FPAI, Judy Febryano/IST

Chariman FPAI, Judy Febryano/IST

Chariman FPAI, Judy Febryano

Literasi Keuangan adalah “Knowledge and Abilty”

Listyorini, Senin, 5 Agustus 2019 | 12:07 WIB

"Rich Dad Poor Dad", judul buku karangan Robert Kiyosaki mengalami cetak ulang beberapa kali dan menjadi salah satu buku terlaris (best seller) di dunia, termasuk di Indonesia. Banyak yang "terhipnotis" oleh buku ini karena ingin sukses dalam menjalani kehidupan.

Buku ini mengajarkan tentang bagaimana mengelola keuangan dengan benar sehingga kita bisa mencapai kebebasan finansial. Untuk mencapai kesejahteraan, setiap keluarga membutuhkan perencanaan keuangan yang baik. Hal itulah yang mendasari lahirnya Financial Planner Association Indonesia (FPAI).

Investor Daily mewawancarai Chairman FPAI, Judy Febryano terkait seberapa besar literasi keuangan di Indonesia. Berikut petikannya:

1. Literasi keuangan masyarakat di Indonesia masih rendah. Apa peran FPAI untuk meningkatkannya?

Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan pada 2016 sekitar 29,7%. Ini mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia belum teredukasi dengan baik tentang bagaimana cara mengelola dan mengoptimalkan keuangannya. Dalam meningkatkan literasi keuangan, FPAI mengadakan event atau workshop perencanaan keuangan di berbagai kota dan daerah di Indonesia, juga menggunakan media sosial untuk menjangkau generasi milenial seperti Instagram, Facebook dan Youtube.

2. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan?

Workshop Perencanaan Keuangan yang baru saja dilakukan adalah di Bali pada tanggal 30 Juli, bekerjasama dengan Financial Planning Standard Board Indonesia dan Universitas Ngurah Rai yang bertema “Kearifan Lokal Dalam Hukum Adat Bali: Perspektif Perencanaan Keuangan untuk Kesejahteraan Lintas Generasi” .Workshop ini dihadiri sekitar 150 orang yang terdiri atas praktisi keuangan, dosen, dan mahasiswa.

FPAI juga bekerjasama dengan media, seperti Investor Daily untuk memberikan ruang kepada para praktisi keuangan untuk berkontribusi dalam literasi keuangan. Dalam rangka memeriahkan World Financial Planning Day pada 2 Oktober 2019, FPAI bersama FPSB Indonesia akan mengadakan Event & Campaign dengan tema “Plan Well to Live Well". Event ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan dan kemampuan mengoptimalkan keuangan mereka untuk kehidupan yang lebih baik dan terjamin.

3. Apa tantangan dan peluangnya?

Tantangan terbesar adalah masih rendahnya literasi keuangan di Indonesia, yakni 29,7% pada 2016. Artinya, dari 100 orang hanya 30 orang yang tergolong well literate. Secara wilayah/provinsi di Indonesia hanya 13 dari 34 Provinsi atau sekitar 38.2% yang indeks literasi keuangannya di atas rata-rata nasional, yaitu: DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Banten, Bali, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Peluangnya, tingginya penetrasi internet di Indonesia bisa dimafaatkan untuk menjangkau masyarakat wilayah lainnya yang belum well literate. Kemudahan akses informasi bisa untuk mengedukasi masyarakat seputar cara mengelola keuangan pribadi, produk-produk keuangan dan investasi melalui e-learning, Youtube, Instagram, dan Facebook.

4.Bagaimana cara menarik minat masyarakat untuk berpartisipasi dalam literasi keuangan?

Literasi keuangan adalah “knowledge and abilty” untuk mengelola keuangan pribadi dengan tujuan“Plan Well to Live Well" untuk mencapai kesejahteraan hidup seseorang. Dengan demikian, literasi keuangan sebaiknya diajarkan sejak dini, saat seseorang berada di SD sampai universitas. Mengingat saat ini Indonesia mendapat bonus demografi dari generasi milenial dengan usia 20-34 tahun, maka cara mengedukasi masyarakat juga harus disesuaikan, dibuat lebih menarik dengan bahasa yang mudah dimengerti melalui penggunaan aplikasi smartphone. Sementara itu, pendekatan secara konvensional tetap harus dilakukan yaitu dengan meningkatkan event-event literasi keuangan, baik untuk kalangan sekolah/univesitas, dan juga masyarakat umum.

5. Menurut Anda, apakah instrumen investasi di Indonesia sudah menarik?

Instrumen investasi di Indonesia sangat beragam dan menarik. Namun yang popular di masyarakat antara lain, deposito, saham, reksadana, obligasi, emas, properti, dan lainnya. Untuk itu, masyarakat harus mempunyai pengetahuan dan informasi yang baik tentang risiko dan potensi imbal hasil dari suatu investasi, dimana tingkat risiko berbanding lurus dengan imbal hasil, high risk high return, low risk low return.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berinvestasi antara lain, tentukan tujuan investasi, banyak mencari informasi tentang investasi yang ditawarkan, pilih investasi yang sesuai dengan profil risiko, lama berinvestasi, dan jangan tergiur dengan penawaran investasi yang memberikan imbal hasil yang sangat tinggi, karena hal ini patut dicurigai sebagai investasi bodong. Agar terhindar dari investasi bodong, pastikan pihak yang menawarkan investasi mendapatkan izin dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usahanya, memiliki izin dalam menawarkan produk investasi, memastikan jika terdapat pencantuman logo instansi atau lembaga pemerintah dalam media penawarannya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Informasi mengenai daftar perusahaan yang tidak memiliki izin dari otoritas berwenang dapat diakses melalui Investor Alert Portal pada www.sikapiuangmu.ojk.go.id.

6. Bagaimana cara agar di masa tua bisa mencapai kebebasan finansial?

Masa pensiun berarti produktifitas keuangan menurun sedangkan biaya belum tentu lebih rendah sebelum pensiun (menua dan sakit-sakitan). Dapatkah dibayangkan seseorang pensiun tanpa uang. Beberapa persiapan yang harus dilakukan sebagai berikut:

- Menabung lebih banyak di usia muda untuk pensiun nanti.

- Memiliki dana darurat paling tidak 6 – 12 kali pendapatan per bulan

- Memiliki asuransi kesehatan termasuk yang memberikan santunan apabila terjadi risiko terkena    penyakit kritis

- Mengetahui berapa perkiraan jumlah yang ditabung dengan memperhatikan tingkat inflasi jangka panjang serta kualitas hidup saat pensiun

- Menyeimbangkan gaya hidup pada usia muda untuk saat pensiun nanti.

- Berupaya tetap produktif secara keuangan di usia tua

7. Dalam waktu dekat ini, FPAI akan menyenggarakan kegiatan apa saja?

Rapatpengurus periode 2019-2021 pada 7 Agustus 2019 dan Financial Planning Forum pada tanggal 8 Agustus 2019 dengan menghadirkan para 7 praktisi keuangan yang akan mengulas tentang “The Power of Life Insurance in Personal Life and Business”. Topik yang akan diulas adalah Your Health is Your Wealth, Inheritance Planning & Life Insurance, Life Insurance for Milenials, Critical Illness Insurance, Buy Sell Agreement with Life Insurance, Life Insurance for Business Owner, dan Life Insurance Myths Debunked. Forum ini akan diselenggarakan di Jakarta Design Center Building Lantai 6. Financial Planning diselenggarakan oleh QWP Academy yang di support oleh FPAI & FPSB Indonesia. Registrasi dapat dilakukan di link bit.ly/fpforum2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA