Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Pemerhati Pasar Modal

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Pemerhati Pasar Modal

CELOTEHAN INVESTOR

Logika Ekonomi dan Hantu COVID-19

Hasan Zein Mahmud, Kamis, 19 Maret 2020 | 12:28 WIB

JAKARTA, Investor.id - Virus corona (COVID-19) merontokkan semua sendi -sendi ekonomi. Berawal dari Tiongkok, episentrum beralih ke Eropa. Limapuluh negara bagian di AS, tak ada lagi yang terbebas, dan banyak kota berada dalam kondisi yang mengharuskan lock down. Di Indonesia, dalam kurun waktu dua minggu sejak deteksi infeksi pertama, jumlah kasus meningkat lebih dari 100 x lipat

Di sektor keuangan, kapitalisasi global sudah terkuras hampir US$ 80 triliun. Pada saat celoteh ini diketik, Kamis (19/3/2020), IHSG sudah turun 34% year to date (ytd). Rupiah yang di awal Maret masih berada di kisaran 13.700, kini mengarah ke angka Rp 16.000 per dolar AS, berharap jangan mengulangi krisis tahun 1998. Di pasar reguler BEI, asing sudah net sell lebih dari Rp 11 triliun.

Hari hari perdagangan adalah hari hari suspensi, karena penurunan indeks yang menyentuh batas bawah. Saat celoteh ini diketik, transaksi BEI sedang dihentikan sementara. Hanya berlangsung sekitar 30 menit sejak pembukaan.

Celoteh ini dimaksudkan sebagai himbauan untuk menggeser fokus dari ketakutan terhadap kontraksi sekonomi ke arah upaya totalitas melawan virus.

Logika sederhana. Roda ekonomi kini diganjal COVID-19. Stimulus moneter dan fiskal itu seperti tambahan bahan bakar dan tekanan pada pedal. Tapi kalau ganjalannya tak dipelas, apalagi kalau membengkak makin besar, maka tambahan bahan bakar dan tekanan gas, tidak menggerakkan apa-apa. Roda tetap enggan menggelinding. Dihadapkan pada ketakutan dan kepanikan massif, kalkulasi ekonomi akan berhenti.

Tunda dulu insentif. Kerahkan seluruh kekuatan bangsa, untuk menyingkirkan ganjalan. Arahkan dulu semua sumber daya, dana, tenaga dan perhatian untuk melawan virus. Ini saat yang tepat untuk mengokohkan kembali kohesi sosial. Memupuk kembali solidaritas yang lama mati karena energi habis di pacuan perlombaan materi. Menumbuhkan kembali empati, yang selama ini renggas karena keserakahan terhadap simbol simbol pisik.

Mari kita pukul genderang perang melawan virus. Setelah itu, baru genderang perang terhadap virus korupsi. Setelah itu baru genderang untuk secara bersama mendorong gerbong ekonomi.

Di bursa saham, krisis 1998 menyeret IHSG 53% ke bawah dari puncak sebelumnya, sebelum rebound. Krisis mortgages di AS tahun 2008, merontokkan IHSG 54%, dari puncak sebelumnya, sebelum pulih kembali setahun kemudian.

Situasi kini lebih mengerikan. Pada tahun 1998 dan 2008 roda produksi masih berputar, walau lamban. Dalam keadaan seperti itu, kebijakan kontra siklikal dapat diharapkan memacu gerak ekonomi. Saat ini banyak sektor produksi yang terpaksa dihentikan sama sekali atas pertimbangan kesehatan dan keselamatan.

Situasi kini lebih mengerikan. Krisis 1998 dan 2008 kita hanya berhadapan dengan vaiabel ekonomi dan variable lain, yang terkait dengan persoalan ekonomi. Kini kita berhadapan dengan “hantu” yang tak kelihatan, yang terus berbiak dengan kecepatan eksponensial.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN