Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Djoko Santoso CFP, Ketua Financial Planning Standards Board Indonesia (FPSBI)/IST

Tri Djoko Santoso CFP, Ketua Financial Planning Standards Board Indonesia (FPSBI)/IST

“Mengawetkan” Aset dengan Cerdas

Tri Djoko Santoso, Selasa, 13 Agustus 2019 | 10:04 WIB

Pernahkan Anda mendengar istilah aset preservasi (preservation asset)? Jenis aset ini sangat popular dan banyak digunakan untuk melestarikan atau “mengawetkan” uang sehingga dapat dipakai untuk jangka panjang dalam strategi alokasi aset pribadi.

Ada dua tipe alokasi aset dalam ilmu perencanaan keuangan, yaitu aset investasi dan aset personal. Sesuai namanya, aset investasi bertujuan untuk mencari peluang akumulasi agar aset tersebut dapat tumbuh berkembang. Prinsip high risk - high gain sering digunakan untuk menggambarkan besaran saham dalam aset investasi.

Berbeda dengan aset personal yang umumnya digunakan untuk pribadi, misalnya dana pensiun dan dana warisan. Prinsip konservatif, pasti, aman dan terkendali dipakai untuk pertumbuhan aset personal sehingga biasanya disimpan dalam deposito bank, reksadana pasar uang, dan reksadana obligasi jangka pendek, serta tambahan sedikit saham blue chip. Kalau kita melihat sekeliling kita, banyak pemilik aset personal di Indonesia dengan usia 40an yang menyimpan jangka panjang uangnya di bank.

Nah, aset preservasi merupakan bagian dari aset personal dengan tujuan lebih spesifik. Aset preservasi dipisahkan dari jenis aset personal lainnya dan dialokasikan dalam polis asuransi jiwa yang menjanjikan kepastian seperti misalnya polis asuransi jiwa dwiguna.

Aset preservasi cocok digunakan terutama di komunitas yang literasi keuangannya sangat rendah, misalnya index literasi keuangan di Indonesia yang hanya 27,9%. Aset preservasi di rekomendasi karena dapat membantu Anda untuk hal-hal berikut.

  • Menyediakan manfaat asuransi saat pensiun yang diterima secara sekaligus di awal pensiun dan bertahap. Diterima di awal pensiun digunakan untuk melunasi hutang dan selanjutnya diterima secara bertahap dalam jangka waktu panjang misalnya 20 tahun. Cara ini akan membantu para pensiunan untuk melestarikan dana pensiunnya dan membantu mereka dalam belanja bijak.

  • Bila pemilik aset preservasi meninggal, aset preservasi dapat diwariskan kepada keluarga yang dia inginkan tanpa harus menulis surat wasiat dan melengkapi dokumentasi yang dipersyaratkan untuk mencairkan uang di bank. Warisan tunai akan diterima ahli waris secara bertahap mengikuti kontrak yang direncanakan pemilik aset. Cara penerimaan bertahap ini akan membantu memastikan likuiditas para ahli waris selama jangka waktu tertentu. Ahli waris memiliki kesempatan menerima sejumlah uang besar yang diterima sekaligus di akhir kontrak asuransi jiwa.

  • Penerimaan manfaat tunai pada saat pensiun dan warisan adalah tax-efisien karena pada hakekatnya pembayaran manfaat asuransi bukan merupakan objek pajak penghasilan.

  • Manfaat uang pertanggungan yang dibayarkan perusahaan asuransi tidak dibayarkan kepada penerima manfaat namun digunakan untuk mengisi aset preservasi.

  • Bila sebagian dari manfaat yang diterima tersebut di alokasikan untuk membeli polis asuransi jiwa yang baru, maka aset preservasi akan berguna untuk lintas generasi.

Pendekatan “preserving uang” merupakan cara yang sering digunakan para perencana keuangan. Tinjau segera alokasi aset-aset Anda dan bentuk aset preservasi, maka rencana legacy Anda untuk jaminan kesejahteraan lintas generasi dapat tersedia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN