Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Ishana Adriana D.MM CFP,  Head of General Affairs & Public Relations Financial Planner Assosiation Indonesia (FPAI)/IST

Ishana Adriana D.MM CFP, Head of General Affairs & Public Relations Financial Planner Assosiation Indonesia (FPAI)/IST

Nabi Yusuf dan Inspirasi Pengaturan Keuangan Masa Depan

Ishana Adriana D.MM CFP, Jumat, 6 September 2019 | 10:32 WIB

Jakarta, investor.id – Cerita Nabi Yusuf menginspirasi banyak orang tentang pentingnya mengatur keuangan untuk masa depan. Bermula ketika Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan tujuh sapi betina kurus, dan tujuh bulir gandum hijau dimakan tujuh bulir gandum kering. Ketika terbangun dari tidur, Sang Raja diselimuti rasa penasaran tentang mimpinya itu.

Selanjutnya, ia mencari tahu apa arti dari mimpinya. Dari sekian banyak orang bijak di Mesir, ternyata Nabi Yusuf yang bisa menerjemahkannya. Nabi yusuf kemudian menjelaskan bahwa mimpi itu adalah peringatan dari Sang Pencipta agar masyarakat bercocok tanam tujuh tahun. Setelah panen, hasilnya harus disimpan dengan baik. Makan sedikit-sedikit saja dari hasil tersebut, jangan berlebihan. Sebab, setelah itu akan datang tujuh tahun musim paceklik yang penuh penderitaan. Persediaan pangan akan banyak terkuras untuk kebutuhan pangan pada masa tersebut. 

Jika ditelaah lebih lanjut, apa hubungannya cerita Nabi Yusuf dan cara mengatur keuangan? Tentu ada. Dalam kehidupan ini ada masa produktif dan masa tidak produktif. Ketika masa produktif, kita mempunyai pendapatan, tetapi ada juga pengeluaran. Belajar dari cerita Nabi Yusuf, pada saat panen kita mulai menyisihkan pendapat kita untuk menabung, berinvestasi, proteksi diri. Selain itu, kita juga harus cerdas mengatur pengeluaran.

Dalam perencanaan keuangan, kita belajar bagaimana mengatur pendapatan dan pengeluaran dengan menentukan prioritas.

1. Pos pengeluaran untuk membayar cicilan utang, maksimal 35 persen dari pendapatan, yang terdiri atas 15 persen utang konsumtif, 20 persen utang produktif.

2. Pos untuk premi asuransi, minimal 10 persen.

3. Pos untuk tabungan masa depan, minimal 20 persen, bisa berupa deposito atau investasi lain.

4. Pos untuk belanja kebutuhan dan gaya hidup, maksimal 45 persen.

Kembali pada cerita Nabi Yusuf, pengaturan saat masa panen raya membantu rakyat Mesir ketika terjadi paceklik pada musim kemarau panjang. Demikian juga kita, ketika memasuki masa tidak produktif atau pensiun, apa yang kita atur dan rencanakan ketika masih produktif akan membantu mencukupi kebutuhan kita.

Smart budgeting adalah bisa mengatur dengan bijak antara pendapatan dang pengeluaran. Pendapatan (money in) harus selalu ada dan selalu dijaga. Di sisi lain, pengeluaran (money out) harus dikelola dan ditata. Jadi, sejahtera di masa tua dimulai dari smart budgeting.


*** Ishana Adriana D.MM CFP, Head of General Affairs & Public Relations Financial Planner Assosiation Indonesia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA