Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lana T Koentjoro, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Socialpreneurship

Lana T Koentjoro, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Socialpreneurship

Peran Perempuan Mengentaskan Kemiskinan

Lana T Koentjoro, Kamis, 2 Januari 2020 | 11:29 WIB

JAKARTA, Investor.id - Upaya pengentasan kemiskinan di negara manapun seringkali dikaitkan dengan perempuan. Pertama, perempuan adalah korban pertama kemiskinan. Mereka yang paling merasakan dampak dari hidup di bawah garis kebutuhan hidup minimum. Jika Mahatma Gandhi yang mengatakan kemiskinan adalah kekerasan dalam bentuk yang paling buruk, maka ini adalah kekerasan terburuk bagi perempuan.

Meski menjadi korban pertama, tapi berbagai penelitian menunjukkan peran perempuan yang lebih besar dibanding laki-laki dalam mengurangi kemiskinan. Berbagai riset di negara maju di dunia menyatakan bahwa yang membuat suatu negara maju adalah tingginya partisipasi angkatan kerja perempuan di negara tersebut. Saat perempuan memiliki akses terhadap uang, mereka cenderung akan mengelolanya demi kesehatan dan kesejahteraan keluarga.

Penulis buku Sustainable Impact, How Women Are Key to Ending Poverty, Laina Grenee, menyebutkan peran besar perempuan yang berjiwa entrepreneur untuk mengentaskan kemiskinan. Ia memperkenalkan istilah feminisasi kemiskinan (feminisation of poverty) dan mengingatkan bahwa dalam setiap kemiskinan, perempuan selalu menjadi korban.

United Nations Development Programme atau UNDP menemukan fakta bahwa ketika perempuan mengontrol pendapatan keluarga, dampak pada kesehatan anak-anak dua puluh kali lebih besar ketimbang laki-laki yang mengontrol pendapatan tersebut. Kajian yang berbeda mengatakan, ketika perempuan punya kontrol atas sumber daya maka kesehatan anak-anak pra-sekolah meningkat pesat (Bangladesh); pemanfaatan kelambu antinyamuk di kawasan riskan malaria (Benin); anak-anak memiliki gizi lebih baik (Brazil); anak-anak terjamin vaksinasi (India), dan sebagainya.

Lalu kenapa kemiskinan masih belum bisa dientaskan? Jawabannya adalah karena peran perempuan yang belum dioptimalkan. Isu gender atau kesenjangan antara perempuan dan laki-laki masih terjadi. Di Indonesia, isu gender masih sangat kental. Ini bisa dilihat dari Indeks Pembangunan Gender (GDI) Indonesia yang nilainya masih 92,6, padahal di dunia rata-rata sudah mencapai 93,8. Di ASEAN, Indonesia berada di posisi ke enam.

Sektor yang paling tinggi kesenjangannya di Indonesia adalah pendidikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 menunjukkan perempuan di Indonesia rata-rata hanya berpendidikan sampai kelas dua SMP. Akibatnya, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan jauh di bawah laki-laki. Data Survei Ketenagakerjaan Nasional tahun 2017 menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan masih 50, sedangkan laki-laki sudah mencapai angka 83.

Hal lain adalah lemahnya akses perempuan terhadap institusi keuangan formal dan kurangnya suara perempuan dalam pengambilan keputusan baik di tingkat nasional, regional, maupun daerah.

Saat ini, pemerintah melakukan berbagai upaya dan strategi untuk mengakhiri kesenjangan gender, terutama dalam mengakses pekerjaan. Upaya yang dilakukan antara lain memaksimalkan penerapan Kesetaraan Kesempatan Kerja (Equal Employment Opportunity), penyediaan tempat penitipan anak di tempat kerja, dan cuti hamil sesuai kebutuhan pekerja perempuan. Tapi, upaya lebih besar dan masif masih harus terus dilakukan.

Yang harus diingat adalah investasi pada perempuan akan berdampak besar karena merupakan investasi masa depan dan signifikan guna mengakhiri kemiskinan. Raden Ajeng Kartini jauh-jauh hari sudah berpesan agar memberi pelajaran kepada anak-anak perempuan karena dari sini peradaban bangsa akan dimulai.

Tidak berlebihan jika dikatakan kemiskinan adalah wajah perempuan karena mereka yang menjadi korban pertama kemiskinan. Tapi, ini yang paling harus diingat, mereka jugalah yang berperan besar dalam mengakhiri kemiskinan tersebut.

***Lana T Koentjoro, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Socialpreneurship

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA