Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

PPKM Darurat dan Makin Sempitnya Ruang Fiskal

Kamis, 1 Juli 2021 | 20:08 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud

Investor.id - Covid - 19 nampaknya akan tetap menjadi musuh utama rakyat dan bangsa Indonesia beberapa waktu ke depan. Terutama di bidang kesehatan dan ekonomi.

Karena itu, kalau kita mau keluar dari lingkaran setan di lembah jurang ini, kita harus bertempur all out melawan pandemi. Lock down, atau PPKM Darurat sejatinya hanya alat bantu. Yang paling menentukan adalah disiplin pribadi kita masing masing, untuk secara optimal melindungi diri kita sendiri, sembari menghargai orang orang di sekitar kita.

Tadinya kita, pada umumnya, optimis bahwa kuartal dua tahun ini, akan menjadi titik balik dari kontraksi 0,74% kuartal silam, dan krisis ekonomi. Lalu berharap pertumbuhan positip untuk seluruh tahun.

Kita tidak sendiri. Bank Dunia dalam publikasi Indonesia Economic Prospect dengan tema "Boosting the Recovery" Juni lalu, walau pun sudah melakukan down grading, tapi masih optimis ekonomi Indonesia mampu bertumbuh positif 4,4% pada tahun ini.

Presiden Jokowi memperlihatkan optimisme yang lebih besar. Dalam Munas Kadin baru lalu, Presiden mengungkapkan berbagai indikator positif ke arah pemulihan. Mulai dari Indeks PMI Mei yang naik tajam, Indeks Kepercayaan Konsumen, Lonjakan ekspor dan impor, penjualan ritel, hingga kenaikan konsumsi semen.

Lalu varian delta kembali menyerbu kita. Menerobos pintu kelengahan, yang kita biarkan terbuka lebar. Kita mencatat rekor demi rekor kasus terpapar baru - bahkan juga korban meninggal - dari hari ke hari, belakangan ini. Lalu "rem" PPKM Darurat terpaksa diinjak lagi.

Secara ekonomi, rem kali ini menyodorkan "penderitaan" yang lebih besar. Pemerintah pada gelombang pertama sudah habis habisan memompa bantuan sosial, kesehatan dan berbagai stimulus agar roda ekonomi tetap berputar dan masyarakat marjinal mampu bertahan hidup. Ruang fiskal kita semakin sempit. Memaksakan diri memompakan bantuan dan stimulus baru, akan menjadi beban berat berkepanjangan, kemudian. Menggangu kelangsungan fiskal yang sehat.

Demikian juga dengan kebijakan moneter. Meneruskan sikap akomodatif dan ekspansif seperti selama ini, lambat laun akan mengerek inflasi ke atas, menciptakan "kesehatan semu" di sektor keuangan, khususnya perbankan dan beban bagi Bank Sentral sendiri.

Belum lagi, tekanan eksternal, kemungkinan tapering, naiknya Federal Fund Rate dan Yield US Treasury. Tekanan sangat berat bagi rupiah, menaikkan biaya pinjaman, menambah berat beban APBN, menyumbat kran kredit.

Saya masih optimis kuartal dua tahun ini akan menunjukkan pertumbuhan positif. Tapi saya menduga akan terjadi set back di kuartal 3, dan bukan mustahil kuartal 4.

Masihkah kita tetap bersikap acuh tak acuh?

*** Hasan Zein Mahmud: Mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN