Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa, pemerhati pasar modal.

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa, pemerhati pasar modal.

Sihir DCII

Rabu, 16 Juni 2021 | 14:01 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud

Investor.id - Sihir itu bernama DCII. Saham DCI Indonesia Tbk. Tercatat di BEI 06 Januari 2021. Harga IPO Rp 420. Pada Sesi 1 hari ini, Rabu 16 Juni 2021 mengalami ARA - saya tak memnghitung yang ke berapa - pada harga Rp 60.300. Tidak. Anda tidak keliru membaca! Enampuluhributigaratus rupiah.

Investor Amerika Serikat menganggap saham TSLA (Tesla) sebagai "keajaiban", karena harganya naik 160 kali lipat dalam kurun 10 tahun sejak IPO. Nah saham DCII adalah keajaiban di puncak keajabian. Naik hampir 150 x dalam kurun waktu enam bulan sejak IPO! Saya belum pernah membaca peristiwa seperti ini selama 45 tahun menjadi pelayan di pasar modal.

Intuisi saya memang menangkap peluang besar dari transformasi ekonomi Indonesia ke arah digital economy. Dalam lingkungan transformasi cepat semacam itu maka tiap organisasi - terutama unit usaha - menghadapi pertumbuhan terus menerus dan berkelanjutan. Butuh dukungan pusat data yang mampu menyediakan fasilitas penyimpan informasi dan aplikasi bisnis yang andal, efisien, aman, dan mampu dengan cepat menyesuaikan pelayanan dengan perkembangan bisnis model mereka.

Tapi berapa besarkah potensi bisnis pusat data beberapa tahun ke depan? Salah satu tulisan yang pernah saya baca (lupa sumbernya) memperkirakan nilai bisnis data center hingga 2025 masih berkisar US$ 4 miliar per tahun.

Ada dua catatan di ujung celoteh tentang sihir DCII ini. Pertama, seperti sering saya tulis, ketika suatu teknologi baru berkembang, akan ada banyak entry ke dalam industri. Sedikit perusahaan akan berkembang menjadi leader. Sebagian besar akan get out of the market

Kedua, sekedar perbandingan, Hyperscale Data Center (HDC) milik DCII dan TLKM yang melakukan toping off pada waktu hampir bersamaan. Keduanya memiliki setifikasi tier 3 dan 4. HDC milik DCII memiliki kapasitas 3.000 rack. 15 MW. HDC milik TLKM memiliki kapasitas 10.000 rack dan 75 MW

Mari kita sama sama bermimpi!

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN