Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Kemas , komunitas literasi  keuangan, Admin Financial Instagram @bapak2ID

Kemas , komunitas literasi keuangan, Admin Financial Instagram @bapak2ID

Skema Ponzi dan Investasi Bodong

Kamis, 23 Januari 2020 | 11:04 WIB
Kemas

JAKARTA, Investor.id – Belakangan ini, kasus investasi bodong kembali marak. Setelah kasus-kasus yang menghebohkan, seperti Koperasi Pandawa, First Travel, Q-net, terakhir publik dibuat terkejut dengan terbongkarnya investasi bodong MeMiles yang memanfaatkan kecanggihan teknologi digital dan menyeret sejumlah artis ternama sebagai alat promosi produk tersebut.

MeMiles menjalankan bisnis investasi bodong berkedok biro iklan dengan sederet keuntungan yang menggiurkan bagi anggotanya, dari sepeda motor hingga mobil mewah sehingga banyak yang tertarik dan masuk jebakan penipuan.

Modus yang digunakan investasi bodong umumnya menggunakan Skema Ponzi. Ini adalah modus investasi bodong yang membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor beritnya. Jadi, keuntungan yang dibayarkan bukan dai operasional perusahaan, tetapi dari uang anggota yang terkumpul.

Skema terseut diambil dari nama penemunya, Charles Ponzi pada 1920. Agar kita tidak tertipu dengan investasi bodong, berikut ciri-cirinya:

1. Membayarkan keuntungan dari uang mereka sendiri,

Modus yang digunakan biasanya membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh dari individu atau organisasi yang menjalankan operasi ini.

2. Menawarkan keuntungan lebih tinggi.

Modus dengan cara membujuk orang-orang dengan menawarkan keuntungan lebih tinggi dibanding investasi lain, dalam jangka pendek dengan tingkat pengembalian yang luar biasa tinggi dan pasti.

3. Menawarkan hadiah yang mewah.

Modus penipuan investasi bodong biasanya juga disandingkan dengan tambahan-tambahan seperti akan dapat motor, mobil, jalan-jalan ke luar negeri, naik kapal pesiar, dan lain-lain.

4. Tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Cek legalitas perusahaan, yang menjual produk investasi apakah sudah mendapat legalitas dari OJK. Kalau tidak terdaftar lebih baik ditolak, meski yang menawarkan produk tersebut perempuan cantik atau keluarga sendiri.

*** Kemas , komunitas literasi keuangan, Admin Financial Instagram @bapak2ID


 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN