Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hari Prabowo, Ketua LP3M Investa dan pengamat pasar modal.

Hari Prabowo, Ketua LP3M Investa dan pengamat pasar modal.

Strategi Menyikapi Window Dressing

Selasa, 17 Desember 2019 | 17:11 WIB
Oleh Hari Prabowo

JAKARTA, Investor.id - Memasuki pekan ketiga bulan Desember, investor biasanya berharap kemungkinan adanya window dressing, dimana beberapa harga saham "terdorong naik" sampai puncaknya di akhir tahun.

Beberapa pihak memang punya kepentingan dengan naiknya harga saham mulai dari Manajer Investasi, institusi pengelola dana seperti Asuransi, Dana Pensiun, TASPEN, BPJS dan Emiten. Bahkan Pemerintah pun senang kalau indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa tumbuh dari periode sebelumnya.

Kenaikan harga saham terutama yang ada dalam keranjang portofolionya tentu akan "memoles" kinerjanya yang tercermin dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) bagi Manajer Investasi sebagai pengelola reksa dana.

Emiten juga suka jika harga saham perusahaannya naik meski mereka tidak secara langsung menikmati aliran kas bagi perusahaan.Namun kenaikan harga ini bisa mengangkat performa dan kepentingan untuk aksi korporasi lebih lanjut.

Demikian pula Pemerintah akan lebih senang jika IHSG bisa tumbuh karena IHSG juga merupakan salah satu tolok ukur pertumbuhan ekonomi. "Window dressing" memang lazimnya terjadi pada akhir tahun bersamaan dengan akhir bulan pelaporan tahunan para pengelola dana tersebut.

Kini bagaimana strategi investor menyikapi kemungkinan datangnya "window dressing" tersebut agar bisa memanfaatkan peluang "temporer" ini dengan sebaik-baiknya sehingga bisa meraih "cuan" akhir tahun yang optimal.

"Window dressing" memang tidak terjadi pada semua saham, mungkin hanya sebagian dari jumlah emiten yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mungkin yang bisa diperhatikan oleh Investor untuk memilah saham-saham yang berpotensi terjadi "window dressing" antara lain saham yang mempunyai fundamental bagus dan secara year to date (YTD) harganya sudah rendah dibandingkan rata-rata dalam tahun ini.

Saham-saham tersebut bisa dari kategori 'blue chip' baik dari BUMN maupun emiten yang dikendalikan oleh grup besar karena saham tersebut biasanya mempunyai bobot perhitungan terhadap IHSG yang tinggi, termasuk saham perbankan papan atas.Biasanya saham blue chip tersebut juga menjadi komposisi utama portofolio para Reksa Dana sehingga Manajer Investasi memiliki kepentingan untuk ikut "mendorong" terjadinya "window dressing" atas saham.

Saham BUMN juga berpotensi terjadi "window dressing", karena para manajemen juga ingin memiliki repor yang bagus. Selain menunjukkan kinerja melalui laporan keuangan, manajemen BUMN juga ingin menunjukkan harga sahamnya yang wajar di bursa.

Bagaimana dengan saham "lapis dua dan tiga"? tidak menutup kemungkinan saham-saham ini juga mempunyai peluang window dressing dan bahkan bisa mengalami kenaikan yang sangat signifikan dalam hari terakhir perdagangan di bursa. Jadi investor bisa mulai mengoleksi saham pilihan tersebut sejak pekan kedua dan ketiga bulan ini dan menunggu sampai akhir perdagangan bulan Desember. Biasanya, harga sahamnya akan "ditarik" pada detik-detik terakhir perdagangan atau periode jam "pra penutupan".

Namun yang penting pilihlah saham yang punya fundamental dan prospek bagus, karena apabila ternyata saham tersebut tidak terjadi window dressing, investor masih bisa menunggu dengan kenaikan yang wajar

Apakah semua menghendaki terjadinya window dressing? Bisa saja beberapa pihak juga malah tidak menghendaki dan bahkan IHSG dan harga sahamnya turun lagi. Pihak ini antara lain adalah Manajer Investasi dan investor yang saat ini dalam posisi "full cash". Mereka tentu menghendaki harga saham kembali turun agar kelak bisa belanja dengan harga yang lebih murah.
 

Apalagi untuk reksa dana yang saat ini posisi nilai aktiva bersih (NAB) nya terlanjur rontok. Kalau IHSG akhir tahun rendah, bahkan minus dibanding awal tahun, Manajer Investasi Reksa Dana tersebut bisa beralasan "Nih NAB kami turun karena IHSG juga turun".

Begitulah pasar tentu ada yang berharap harga bisa naik dan bisa turun, dan ini adalah hal yang wajar. Sebagai tambahan, dari pengalaman yang lalu setelah masa suram dalam setahun maka biasanya tahun berikutnya kondisi bursa akan lebih baik.

Jadi bila tahun 2019 ini kondisi IHSG mengalami kesulitan untuk naik dan bahkan tertinggal dengan bursa global yang lain, maka kemungkinan besar tahun 2020 kondisinya akan tumbuh lebih baik.

***Hari Prabowo, Ketua LP3M Investa dan pengamat pasar modal.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN