Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Esra Manurung, Founder Yayasan Maharani Kirana Pertiwi, Penulis Buku Perempuan di Rumah Bercahaya Emas.

Esra Manurung, Founder Yayasan Maharani Kirana Pertiwi, Penulis Buku Perempuan di Rumah Bercahaya Emas.

Uang dan Covid-19 bagi Kartini Masa Kini  

Oleh Esra Manurung, Rabu, 22 April 2020 | 20:39 WIB

JAKARTA, Investor.id -Ketika aku menulis surat ini, dari rumah, kita semua sedang berada di rumah selama hampir satu bulan, mengikuti anjuran pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran virus corona (Covid-19)

Hari Kartini, mengingatkan kita pada seorang perempuan yang bernama Kartini. Buku karangannya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, menginspirasi banyak orang hingga saat ini.
 
“Terang itu adalah kau, aku, kita perempuan INDONESIA di rumah kita masing-masing! Kartini, seakan berkata sampai kau bangkit perempuan Indonesia, sampai kau biarkan cahayamu merekah di rumah, di sekolah, di rukun tetangga, di kotamu barulah Indonesia bersinar benderang di dunia”
 
Saat anggota keluarga di rumah 24 jam, perempuan bekerja lebih keras dari biasa. Perannya di rumah selama masa work from home (WFH) tidak main-main. Memang dia bukan kepala rumah tangga, tapi ‘mood’, atmosfir kepala keluarga, seisi rumah sangat terpengaruh oleh suasana dalam diri perempuan.  

Pagi sampai malam, perempuan tidak berhenti bekerja. Bukan cuma menjaga diri sendiri agar tetap sehat mental dan fisik, tapi juga menjaga seluruh anggota keluarga untuk tetap sehat, aman dan tenteram lahir batin.

Perempuan di rumahnya, tidak kalah penting dengan para medis yang bekerja bertarung nyawa di garda depan. Bedanya perempuan di rumah tidak bisa bergantian jaga, dia berjaga siang malam 24 jam.
 
Tugas perempuan di rumah sangat banyak, dari menjaga kebersihan rumah, keteraturan benda di dalamnya, hingga mengatur menu makanan 3 kali sehari agar tidak membosankan.

Lebih hebat lagi bila perempuan tersebut juga menopang ekonomi keluarga. Dia juga memikirkan bagaimana jika pendapatan berhenti, bagaimana menjaga omset/ income tidak merosot.  Jika suami yang menjadi penopang ekonomi, bisa jadi saat ini sangat sensitif, sibuk, panik memikirkan pendapatan, bisnis, tanggung  jawab kepada bos, karyawan.

Siapa yang memikirkan betapa tidak mudahnya tugas perempuan dimasa karatina ini. Kemana dia mengadu.  Lewat surat ini, izinkan aku mengatakan kepadamu, kau tidak sendirian. Kita perempuan Indonesia, semua perempuan di dunia merasakan situasi yang sama di rumah kecil kita. Izinkan juga aku mengingatkanmu bahwa, “Uang tidak membuat pemilik nya imun Covid-19”.
 
Kita tahu betapa banyak kekuatiran melanda, semua keluarga butuh uang. Tapi mereka yang punya uang juga tidak imun, sebanyak apa pun makanan di tumpuk di rumah, tetap saja tidak bisa imun dari virus yang mencekam dunia.

Uang tidak menjamin bahagia dan damai di rumah, situasi seperti sekarang semua bisa dijangkiti khawatir dan takut walaupun uang berlimpah. Kekayaan batin dan kekayaan meteri tidak datang bersama. Dua pilar yang berbeda. kita masih bisa bahagia tanpa harus bergelimang uang.

Yang paling penting dalam situasi seperti sekarang, ingatkan diri bahwa kekayaan hati datang dari kemauan untuk menghitung kelimpahan tanpa perlu uang banyak: udara, air bersih, keluarga, kesehatan, kedamaian dalam sepiring nasi, sambal tempe dan sayur asam di rumah yang damai. Hal itu tidak bisa dibandingkan dengan uang semata.
 
Rasa cukup tidak tergantung berapa uang di rekening, tapi berapa banyak kita mengingat kebaikan yang telah kita terima. Uang cukup untuk satu hari pun bisa membuat hati penuh terima kasih karena hari ini masih ada makanan. Dan aku tahu upayamu membuat makanan sederhana itu menjadi nikmat karena suasana damai dan terima kasih di meja makan.

Cara Pandang
Cara kita memandang keadaan saat WFH ini, sangat berpengaruh dengan suasana hati dan berdampak pada rumah.  ‘Pendapat pribadiku tentang masa karantina menghasilkan pendapat mirip pendapatku”.
 
Bukan bermaksud mengajari, tapi dari hati yang merasakan sendiri keadaan ini bukan keadaan biasa sehingga kita juga harus berpikir tidak biasa. Mari berpikir luar biasa di musim luar biasa.
 
Tak usah nantikan kapan ini berakhir, bisa jadi batas kesabaran kita jadi sangat pendek. Bisa jadi keadaan ini masih berlangsung beberapa waktu lagi. Kita perlu beradaptasi, bukan semesta beradaptasi dengan kita. Pendekatan cepat menyesuaikan diri  membantu kita melewati musim dan mengurangi kepedihan. Pendekatan yang pas bisa membuat masa ini jadi pengalaman istimewa.  
 
Siapkan diri jika keadaan ini butuh waktu untuk pulih, beberapa minggu atau bulan , adaptasi apa yang bisa dilakukan? Sebagai  penulis dan pembicara publik, juga membantu suami membangun bisnis yang baru seumur jagung. Mendorongku membuat  list apa saja hal yang bisa kulakukan. Hasilnya, aku bisa   menyelesaikan cetakan buku keduaku agar bisa dipasarkan pada masa karantina ini.
 
Kebenaran buku keduaku tentang perempuan yang bermimpi membuat rumahnya bercahaya emas. Aku melihat ada kebutuhan inspirasi kepemimpinan untuk perempuan di musim ini, perempuan perlu kuat untuk berhasil menolong dirinya dan keluarganya.
 
Akupun ingin mendengarmu menarik kebaikan dari musim ajaib ini. Biarlah hari ini ke depan keajaiban yang indah yang kita harapkan, bayangkan dan kerjakan dari rumah kita terus berdatangan, dipanggil gelombang yang kita pancarkan dari pikiran kita. Biarlah cahayamu terus bersinar di musim yang kusebut “winter” ini. Karena setelah musim dingin akan datang musim semi.
 
 Setelah malam gelap akan datang pagi merekah. Dan ditengah kegelapan bersinarlah, kitalah kirana, cahaya terang itu. Terang yang disebut ibu kartini itu adalah kita, perempuan Indonesia hari ini.  Kebangkitan kita yang dimulai dari rumah, adalah tanda kebangkitan bangsa kita Indonesia tercinta. Semoga mata kita ini dianugerahkan menyaksikan Indonesia Maju, dari rumah kita yang bercahaya emas.
 
Selamat Hari Kartini!  Temanmu : Esra
 
*Esra Manurung, Founder Yayasan Maharani Kirana Pertiwi, Penulis Buku Perempuan di Rumah Bercahaya Emas

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN