Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Benny Pasaribu, PhD:  Founder Matanurani.Com, Ketua KPPU RI 2007-2013, mantan Ketua Banggar DPR RI 1999-2004.

Benny Pasaribu, PhD: Founder Matanurani.Com, Ketua KPPU RI 2007-2013, mantan Ketua Banggar DPR RI 1999-2004.

Wacana Pelonggaran PSBB dan Kerusakan Struktural Ekonomi

Oleh Dr S Benny Pasaribu, Kamis, 7 Mei 2020 | 13:37 WIB

JAKARTA, Investor.id - Baru saja Biro Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal 1 2020 hanya 2,97%. Berita ini sontak viral karena Menteri Keuangan Sri Mulyani terkejut mendengar laporan BPS tersebut.

Terkejut karena perkiraan sebelumnya masih di atas 4,0-4,5%. Juga di luar dugaan karena penurunan ini tidak sepenuhnya akibat pandemi Covid 19. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid 19 sendiri baru dimulai pada penghujung kuartal pertama 2020. Seharusnya akan sangat terasa pada kuartal kedua.

Lantas bagaimana prospek ekonomi pada kuartal II nanti, dimana PSBB makin meluas ke beberapa daerah?

Wacana pelonggaran PSBB masih kontroversi. Pastinya pertumbuhan ekonomi kuartal II nanti akan menurun tajam. Saya sudah memperkirakan, dalam rilis opini saya sebelumnya di media cetak dan online, yaitu pertumbuhan akan turun drastis.

Saya mengatakan pada kuartal I bisa turun menjadi 3%, dan kuartal II menjadi negatif. Dan jika berlanjut PSBB setelah Agustus maka pertumbuhan ekonomi bisa berujung pada minus 3-4%.

Sebagaimana kita saksikan, awalnya bisnis UMKM kena imbas PSBB. Banyak usaha yang dipaksa tutup dan pergerakan manusia dibatasi. Tetapi pada kuartal II ini, kita mulai melihat sejumlah usaha menengah dan besar (UMB) yang tutup.

Jika PSBB dilanjutkan, lantas dari mana sumber pertumbuhan ekonomi yang diharapkan? Apakah daya tahan ekonomi rakyat masih mampu menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari?

PHK akan terus bertambah, jumlah orang miskin melonjak, dan UMKM makin terpuruk. Stimulus fiskal untuk bansos dan insentif sekitar Rp 405,1 triliun ternyata tidak mudah diimplementasikan secepatnya. Biasalah, karena akurasi data masih dipersoalkan yang tiada akhirnya, seolah-olah IoT (internet of things) belum maksimal digunakan.

Saya pelajari, menambah uang beredar dan insentif pajak tidak banyak menolong perekonomian saat ini. Apalagi dengan mencetak uang atau menambah utang.

Realokasi anggaran dalam APBN dan APBD adalah langkah positif karena banyak belanja yang tidak mendesak dan bahkan tidak relevan saat ini, seperti anggaran pengadaan alutsista, perjalanan dinas, belanja kantor dan belanja modal lain. Dikecualian dana desa, belanja modal untuk infrastruktur desa-kecamatan, anggaran pertanian dan anggaran kerakyatan lainnya.

Pelajari Dampak PSBB
Bukan menakut-nakuti, seyogianya diantisipasi secara objektif oleh semua pihak apa saja akibat terburuk jika PSBB diperpanjang dan diperluas terhadap kehidupan sosial ekonomi warga.

Sangat setuju agar kita jangan anggap remeh terhadap pandemi Covid-19. Tetapi jangan pula anggap remeh terhadap akibat PSBB pada kehidupan puluhan juta warga negara yang makin tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar sehari-hari.

Jika kebijakan yang diambil tidak mememperhitungkan keduanya secara seimbang maka korban meninggal akan lebih banyak (akibat terinfeksi Covid-19 plus akibat kelaparan dan penyakit lainnya). Tentu saja, pertumbuhan ekonomi akan kena dampak lebih dalam lagi dan akhirnya stabilitas politik dan keamanan bisa terganggu. Semua ini tidak kita inginkan.

Apa yang harus kita lakukan? Menurut saya, kembali pada dasar negara Pancasila. Bangsa ini harus segera bersatu padu dan bersama-sama bergotong royong mencari jalan tengah yang lebih bijak dan arif.

Pemerintahan di pusat hingga di desa harus menyatukan langkah. Usaha menengah besar (UMB) harus aktif berbagi, ikut menanggung beban masyarakat dengan manahan diri dari PHK dan tidak ikut mencari kesempatan dalam kesempitan.

Beban terbesar sudah dirasakan oleh bangsa ini. Sebagian terbesar ekonomi rakyat dan UMKM terdampak, jumlah keluarga miskin melonjak, dan jumlah korban meninggal akibat penyakit macam-macam semakin besar.

Presiden Jokowi hampir setiap hari tampil di media massa untuk menunjukkan negara tetap hadir dan sekaligus memberikan motivasi dan semangat kepada para petugas dan seluruh warga agar Indonesia berhasil segera melawan pandemi Covid-19.

Kita tidak bisa lagi saling menyalahkan. Perbedaan pilihan dan haluan politik seharusnya kita tinggalkan, setidaknya sampai wabah ini terselesaikan. Kerusakan ekonomi secara struktural akan terjadi dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk recovery.

Tidak salah jika kita belajar dari pengalaman Taiwan. Lebih awal Taiwan telah melakukan banyak hal untuk menangani pandemi Covid-19. Penerbangan Wuhan-Taiwan segera dihentikan. Social distancing dan penggunaan masker dilakukan secara disiplin. Tidak ada lockdown atau semacam PSBB. Semua bisnis berjalan normal tapi protokol kesehatan termasuk jaga jarak dan pakai masker selalu ditegakkan.

Politik liberal Taiwan dengan sistim oposisi yang keras dapat bersatu solid ketika negara memanggil untuk bersama-sama menangani pandemi Covid-19. Akibatnya korban sangat minimal dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, ditopang oleh bisnis UMKM yang kuat. Saat ini Taiwan banyak memberikan bantuan ke negara-negara terinfeksi pandemi Covid-19.

Semoga Indonesia menang melawan pandemi Covid-19.

*** Benny Pasaribu, PhD: Founder Matanurani.Com, Ketua KPPU RI 2007-2013, mantan Ketua Banggar DPR RI 1999-2004.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN