Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Budi Hikmat

Budi Hikmat

Manfaatkan Peluang di Black Swan Moment

Minggu, 2 Februari 2020 | 09:56 WIB
Parina Theodora

Jakarta - Bulan Januari biasa dimulai dengan optimisme yang tinggi. Fenomena yang dikenal dengan January Effect (Efek Januari) ini normalnya akan mengangkat harga saham di pasar modal. Peningkatan ini didorong adanya kecenderungan investor akan melepas saham untuk menghindari pajak di akhir tahun. Dan kemudian di Januari, investor akan membeli kembali sahamnya, Ini yang mengakibatkan harganya naik. Sementara ada teori lain yang mengatakan pada akhir tahun para pekerja menerima bonus akhir tahun. Dan bonus tersebut dibelikan saham di bulan Januari.

Namun, efek tersebut tidak terlihat di Januari 2020. Malahan di akhir Januari 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal di level 5.940 atau turun 2% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Kekhawatiran terhadap dampak lanjutan virus corona menjadi salah satu sentimen yang mempengaruhi penurunan indeks.

Tak hanya itu, dari eksternal sendiri masih banyak tantangan lain. Disampaikan Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat, kebijakan bank sentral negara maju khususnya bank sentral Amerika Serikat, The Fed, masih akan sangat besar pengaruhnya ke ekonomi dalam negeri.

“Sementara, secara internal defisit neraca berjalan diharapkan masih terkedali. Jika cadangan devisa sampai defisit, ini yang harus diwaspadai,” jelasnya. Untuk kondisi eksternal dan internal yang masih belum bisa diprediksi ini disebutnya sebagai periode Angsa Hitam (Black Swan Moment).

Sebagai informasi, angsa hitam (Black Swan) sering dilihat sebagai simbol untuk sesuatu yang tidak terprediksi dan berdampak besar atau sesuatu yang luar biasa di luar kendali. Beberapa contoh peristiwa Black Swan Momen ini adalah krisis finansial pada 1997, kebangkrutan Lehman Brothers pada 2008, dan kiris utang Yunani.

Dalam acara Bahana Media Forum 2020 yang mengangkat tema The Black Swan Moment tersebut, Budi juga mengatakan bank sentral dunia akan cenderung menjaga tingkat suku bunganya tetap rendah, melalui quantitative easing. Ia melanjutkan, likuditas asing ini akan terlebih dahulu mengalir ke Surat Utang Negara (SUN) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan dengan surat utang negara berkembang lainnya.

Budi menjelaskan jika urutan lima faktor pengerak pasar saham Indonesia sebelumnya adalah Earnings, Likuidity, Valuation, Interest Rate, dan Sentiment (ELVIS) maka saat ini urutan berganti menjadi SILVE atau sentimen menjadi faktor pertama penggerak pasar. Meski begitu, ia optimistis prospek investasi Indonesia akan lebih stabil dan menarik dibandingkan tahun 2019.

“Bahana optimistis dengan prospek investasi baik untuk SUN dan saham. Kami memprediksi yield SUN 10 tahun berpeluang turun hingga 6,,3% dan IHSG berada di level 6.900,” ucapnya.

Ditambahkan Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengungkapkan, sektor perbankan, masih akan prospekti ke depan, terutama bank BUKU 4 (bank umum kelompok usaha, modal inti di atas Rp 30 triliun). Ia juga merekomendasikan saham sektor konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Editor : Parina Theodora (theo_olla@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN