Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi vaksin virus corona Covid-19. ( Foto: Deposit Photos )

Ilustrasi vaksin virus corona Covid-19. ( Foto: Deposit Photos )

Saham Farmasi Terbang, Sentimen atau Gorengan?

Minggu, 26 Juli 2020 | 08:20 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Perbincangan pelaku pasar saham dalam minggu ini tidak lepas dari fenomena terbangnya harga saham-saham sektor industri farmasi. Banyak pertanyaan apakah kenaikan tersebut benar-benar didukung oleh sentimen obat corona virus (Covid-19) atau karena ada unsur "goreng-menggoreng" saham.

Dalam sepekan perdagangan harga emiten farmasi PT Indofarma Tbk (INAF) dan dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) meroket lebih dari dua kali lipat dan mengalami auto reject atas (ARA) hingga 2-3 kali. Kenaikan kedua saham ini memicu pergerakan saham farmasi lainnya.

Sepanjang perdagangan sepekan ( 20 – 24 Juli), harga INAF naik 130, 97% dari posisi Rp 1130 pada Senin dan ditutup pada level Rp 2.610 pada perdagangan Jumat. Nasib bagus juga dialami saudaranya KAEF, naik 112,4% dari posisi awal pekan Rp 1.290 menjadi Rp 2.740 pada akhir pekan ini.

Sentimen vaksin Covid-19 yang sedang diuji klinis oleh Biofarma bekerjasama dengan perusahaan Tiongkok Sinovax, ikut mendorong kenaikan saham PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), PT Merck (MERK), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) dan PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA).

Over Reaksi

Menurut mantan Direktur PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, kenaikan fantastis harga saham-saham farmasi tidak bisa serta merta dinilai sebagai hasil goreng-menggoreng saham. "Itu bisa saja dipicu oleh sentimen masuknya vaksin Covid-19 dari Tiongkok untuk diuji oleh Biofarma dan INAF serta KAEF akan menjadi distributor," katanya.

Ia menegaskan, pasar selalu over reaksinya sehingga dalam bursa selalu ada circuit breaker. Tetapi pelan-pelan pasar akan melakukan koreksi jika secara teknikal harga saham sudah dianggap terlalu tinggi.

Hasan menegaskan bahwa membeli saham adalah membeli prospek. Pasar bisa saja menilai INAF dan KAEF akan mendapat untung besar jika vaksin telah berhasil diuji coba kemudian didistribusikan kepada ratusan juta masyarakat Indonesia. "Kita harus jeli menganalisanya agar tidak salah membuat keputusan," tambahnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Komunitas Investa, Hari Prabowo. Investor, kata dia, melihat prospek meskipun raport INAF dan KAEF kurang begitu menarik pada kuartal sebelumnya.

Secara fundamental, INAF masih mendapat tekanan pada cashflow negatif Rp 86,67 miliar, laba operasi rugi Rp 24,08 miliar, dan net profit negatif Rp 21,43 miliar. Untuk itu, ia menyarankan agar investor berhati-hati. "Jangan mengejar layang-layang putus," katanya.

Gorengan

Pendapat berbeda dikatakan oleh pengamat bandarmologi, Argha Karo-Karo, Founder & Creative Director of Creative Trading System. Dalam Vlog nya ia mengatakan bahwa pergerakan harga belakangan ini sering tidak berhubungan dengan fundamental perusahaan.

Ia menjelaskan, sejak mendaratnya vaksin uji coba Covid19 hari Senin lalu, saham-saham farmasi seperti INAF, KAEF, PEHA dan PYFA dibuat terbang tinggi. Namun anehnya saham KLBF tidak naik seperti saham-saham farmasi lainnya.

Kenapa hal ini bisa terjadi ? Kenapa malah saham NIKL, SMBR, yang naik lebih banyak padahal tidak ada hubungannya dengan vaksin corona ? "Kejadian ini mirip-mirip dengan tahun lalu, ada saham yang harganya naik ratusan persen kemudian sekarang tinggal gocapan. Saya cuma mau mengatakan: Hati-hati," katanya.

Sangat berbahaya jika investor salah mengerti dalam menilai pergerakan saham. "Dimulai dari berita vaksin sampai di Jakarta untuk diuji coba pada Senin. Selasa, ARA, Rabu ARA, Kamis ARA," ujarnya.

Ia menganalisa, dari sentimen vaksin Covid-19, bandar menerbangkan saham INAF dan KAEF sehingga seolah natural, tidak terkesan ada goreng-menggoreng di situ. "Ini baru mau dicoba tetapi langsung terbang, tidak masuk akal karena belum tentu uji coba berhasil. Anything can happens".

Tidaklah sulit bagi bandar untuk menerbangkan harga saham, tinggal habisin offer kanan langsung ARA pada pembukaan perdagangan pagi. Dan tidak banyak investor ritel yang bisa menikmatinya. "Saat naikin harga sebenarnya tidak masalah, tetapi kalau kemudian harganya dijatuhin, itu sangat merugikan investor ritel," kata dia.

Ia meriset, saham-saham yang terbang dalam pekan ini sebagian besar adalah portfolio Asabri dan Jiwasraya. Jadi cara merestorasi kerugian mereka, harga sahamnya dinaikkin. "Kebetulan ada momentum vaksin, sehingga bisa dikatakan tidak menggoreng tetapi karena sentimen," jelasnya.

Portofolio saham PT Asabri (Persero) hingga akhir Desember 2019 di BEI masih memegang sekitar 12 saham, tersebar dari BUMN, anak usaha BUMN, hingga perusahaan non-BUMN.

Khusus berstatus perusahaan pelat merah, tiga di antaranya yakni PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF), PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF), dan PT PP Properti Tbk (PPRO), yang merupakan anak usaha dari PT PP Tbk (PTPP).

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN