Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu aktivitas di pabrik Mayora Indah. Foto: Investor Daily/IST

Salah satu aktivitas di pabrik Mayora Indah. Foto: Investor Daily/IST

Satu Lagi Tantangan Baru bagi Mayora

Rabu, 8 September 2021 | 05:08 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Tren kenaikan harga bahan baku menjadi sebuah tantangan baru bagi PT Mayora Indah Tbk (MYOR) di tengah pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Kenaikan harga bahan baku dapat menekan tingkat profitabilitas perseroan, sehingga bisa berimbas terhadap pergerakan harga sahamnya.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, di sisi lain, Mayora kesulitan untuk menaikkan harga jual produk di tengah masih rendahnya daya beli masyarakat akibat pandemic dan pembatasan sosial.

“Hampir seluruh bahan baku utama yang dimanfaatkan perseroan mengalami kenaikan harga jual, seperti minyak sawit mentah (CPO), gula, terigu, dan minyak yang berimbas terhadap biaya pengepakan,” tulis Natalia dalam risetnya.

Dia menyebutkan, apabila harga CPO naik sekitar 5%, keuntungan perseroan berpotensi tertekan 6,8%. Begitu juga dengan harga tepung terigu, apabila mengalami kenaikan sekitar 1%, keuntungan perseroan akan tergerus 1,1%.

Harga saham MYOR dalam satu dekade terakhir
Harga saham MYOR dalam satu dekade terakhir

Mengenai ekspor produk, perseroan diperkirakan bakal melanjutkan pertumbuhan dengan target mencapai 11,7% tahun ini. Ekspor perseroan menjadi andalan untuk mendongkrak volume penjualan.

Hingga Juni 2021, perseroan telah berhasil mencetak kenaikan nilai penjualan ekspor sebesar 18,7%. Penjualan domestik naik sekitar 12,5%. Hal ini membuat penjualan domestik berkontribusi sekitar 59% terhadap total pendapatan dan sisanya 41% dari penjualan luar negeri.

“Kami memperkirakan dengan pembatasan sosial masyarakat akibat pandemi Covid-19, penjualan domestik perseroan kemungkinan terpengaruh. Sedangkan penjualan ekspor diperkirakan tetap tumbuh pesat hingga akhir tahun ini,” jelasnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun proyeksi pertumbuhan kinerja keuangan Mayora tahun 2021- 2023. Perkiraan pendapatan tahun ini dipangkas dari Rp 27,43 triliun menjadi Rp 27,33 triliun.

Begitu juga dengan perkiraan laba bersih direvisi turun dari Rp 2,27 triliun menjadi Rp 1,97 triliun. Demikian juga dengan  perkiraan laba bersih perseroan tahun 2022 yang direvisi turun dari Rp 2,53 triliun menjadi Rp 2,19 triliun.  Sedangkan perkiraan pendapatan diturunkan dari Rp 30,53 triliun menjadi Rp 30,42 triliun.

Kegiatan produksi di pabrik  Mayora Indah
Kegiatan produksi di pabrik Mayora Indah

Revisi turun proyeksi kinerja keuangan tersebut mengasumsikan rata-rata kenaikan harga jual produk perseroan tahun ini hanya mencapai 2,9% dibandingkan perkiraan semula 4%.

Begitu juga dengan proyeksi pertumbuhan volume penjualan diperkirakan meningkat dari 7,8% menjadi 8,6% pada 2021.  BRI Danareksa Sekuritas juga merevisi turun target harga saham MYOR dari Rp 2.900 menjadi Rp 2.600 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target harga tersebut telah mempertimbangkan pulihnya penjualan perseroan sepanjang tahun ini.

Pada semester I-2021, Mayora membukukan penjualan bersih sebesar Rp 13,15 triliun, naik 18,68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 11,08 triliun. Tingginya penjualan lokal menjadi penopang utama pertumbuhan. Mayora mencatatkan penjualan lokal sebanyak Rp 7,74 triliun, naik 12,5% dari Rp 6,88 triliun. Selain pasar domestik, penjualan ekspor juga tercatat meningkat 28,81% menjadi Rp 5,41 triliun dari Rp 4,2 triliun.

Kemudian, beban pokok pendapatan mencapai Rp 9,56 triliun, naik 24,16% dari Rp 7,7 triliun. Laba bruto tercatat Rp  3,59 triliun. Tren peningkatan beban ini berlanjut pada segmen beban penjualan yang naik 7,73% menjadi Rp 1,95 triliun. Lalu, beban umum administrasi juga mengalami hal serupa, naik 10,98% menjadi Rp 387,6 miliar.

Kinerja keuangan Mayora Indah
Kinerja keuangan Mayora Indah

Perseroan juga mencatat penurunan laba selisih kurs dari Rp 126,22 miliar menjadi Rp 122,6 miliar. Penghasilan dari bunga juga terkikis 57,8% menjadi Rp 11,64 miliar.

Adapun beban bunga tercatat turun 9,71% menjadi Rp 155,68 miliar.

Alhasil, peningkatan beban menekan laba bersih sebesar 0,84% atau menjadi Rp 930,56 miliar dibandingkan semester I-2020 yang sebesar Rp 938,47 miliar. Dengan demikian, laba per saham perseroan sebesar Rp 42.

Hingga semester I-2021, total aset Mayora tercatat Rp 20,19 triliun, yang terdiri atas aset lancar Rp 13,28 triliun dan aset tidak lancar Rp 6,9 triliun. Total liabilitas Rp 7,95 triliun, terpangkas 6,47% dari Rp 8,5 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN