Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peternakan ayam di Japfa Comfeed. Foto: BeritaSatuPhoto/Defrizal

Peternakan ayam di Japfa Comfeed. Foto: BeritaSatuPhoto/Defrizal

Japfa Kembali Bertenaga

Jumat, 8 Oktober 2021 | 11:29 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Bisnis peternakan ayam mulai menunjukkan pemulihan yang terlihat dari peningkatan margin keuntungan di hampir semua segmen. Hal itu dialami oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun ini.

Analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan mengungkapkan, Japfa telah menunjukkan stabilitas harga jual dan kecenderungan pemulihan kinerja keuangan. Hal ini terlihat dari realisasi kinerja keuangan perseroan sepanjang semester I-2021.

Peningkatan pendapatan ditopang oleh pertumbuhan penjualan di segmen pakan ternak, peternakan komersial, dan anak ayam usia sehari (day old chick/DOC).

“Kami melihat dengan adanya pemulihan pada rata-rata harga jual dan margin keuntungan perseroan mulai stabil. Dengan kondisi tersebut, penjualan perseroan diperkirakan meningkat 17% pada tahun ini. Kami juga merekomendasikan beli saham perseroan,” tulis Farras dalam risetnya.

Harga saham JPFA dalam satu dekade terakhir
Harga saham JPFA dalam satu dekade terakhir

Stabilnya harga jual produk, menurut dia, didukung oleh kebijakan Kementerian Pertanian yang melanjutkan program culling (pemusnahan) induk ayam untuk memangkas kelebihan pasokan di pasaran. Total jumlah induk ayam yang harus dimusnahkan mencapai 70,3 juta atau setara 18,9 juta per pekan.

Kebijakan tersebut berdampak positif terhadap harga broiler, sehingga potensi oversupply daging ayam pada kuartal III- 2021 dapat ditekan. Kebijakan ini tentu akan mengerek harga ayam pedaging di pasaran.

“Kami memperkirakan bahwa harga jual ayam pedaging bisa tumbuh 12% tahun ini. Begitu juga dengan harga jual DOC diprediksi meningkat sebesar 25%. Hal ini tentu akan menaikkan pendapatan perseroan di segmen tersebut,” jelas dia.

Sedangkan bisnis pakan ternak masih menghadapi kenaikan harga bahan baku produksi, yang bisa menekan margin keuntungan pakan ternak. Meski demikian, margin kotor dan margin laba bersih Japfa diperkirakan tetap stabil masing-masing sebesar 20% dan 4%.

Peternakan ayam Japfa Comfeed. Foto: DEFRIZAL
Peternakan ayam Japfa Comfeed. Foto: DEFRIZAL

Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 2.200. Target harga tersebut juga sejalan dengan revisi naik proyeksi kinerja keuangan perseroan.

Adapun proyeksi laba bersih Japfa tahun ini dinaikkan dari Rp 1,75 triliun menjadi Rp 1,93 triliun. Begitu juga dengan proyeksi pendapatan dinaikkan dari Rp 41,03 triliun menjadi Rp 43,37 triliun.

Namun, tahun depan, proyeksi laba bersih Japfa direvisi sedikit turun dari Rp 2,29 triliun menjadi Rp 2,26 triliun. Sebaliknya, proyeksi pendapatan direvisi naik dari Rp 45,88 triliun menjadi Rp 46,06 triliun.

Sebelumnya, analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengungkapkan, Japfa ditopang oleh segmen bisnis pembibitan ayam, seiring dengan kenaikan harga jual DOC dalam beberapa bulan terakhir. Begitu juga dengan harga daging ayam yang menunjukkan perbaikan sejak Juni tahun ini.

“Kenaikan kedua segmen tersebut diharapkan membuat kinerja keuangan Japfa tetap bertumbuh. Di sisi lain, perseroan bisa mengurangi tekanan pelemahan bisnis pakan ternak,” tulis dia dalam risetnya.

Rinkasan kinerja keuangan Japfa Comfeed
Rinkasan kinerja keuangan Japfa Comfeed

Victor memperkirakan pertumbuhan pendapatan Japfa bisa mencapai 21% tahun ini. Sedangkan margin kotor perseroan diharapkan mencapai 20,1% atau hampir sama dengan realisasi tahun lalu. Tidak adanya peningkatan margin dipicu oleh penurunan margin keuntungan bisnis pakan ternak setelah terjadi kenaikan harga bahan baku.

Segmen bisnis DOC diproyeksikan tumbuh pesat tahun ini, seiring dengan kenaikan rata-rata harga jual dan volume penjualan. Kondisi berbalik akan melanda bisnis pakan ternak dengan peluang penurunan setelah terjadi kenaikan harga pembelian bahan baku. Perseroan juga memperkirakan bisnis pengolahan daging ayam So Good Food (SGF) mengalami penurunan tingkat profitabilitas tahun ini.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan target harga Rp 2.100. Target harga tersebut mempertimbangkan pemulihan harga jual ayam pedaging dan DOC.

Adapun laba bersih Japfa tahun ini diproyeksikan naik menjadi Rp 1,84 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu senilai Rp 1,13 triliun. Pendapatan perseroan juga diperkirakan meningkat dari Rp 36,96 triliun menjadi Rp 44,8 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN