Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Cendana Parc, di Lippo Village Karawaci.

Cendana Parc, di Lippo Village Karawaci.

Saham Properti Segera Bangkit

Senin, 18 Oktober 2021 | 08:18 WIB
 Edo Rusyanto , Muhammad Ghafur Fadillah ,Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor - Kalangan industri maupun analis menilai properti mulai bangkit, ditandai dengan penjualan segmen hunian yang diproyeksikan melonjak 110% dari Rp 19 triliun tahun lalu menjadi Rp 40 triliun hingga akhir tahun ini. Kinerja yang melejit tersebut belum tercermin pada harga saham emitennya yang masih belum naik di tengah melajunya IHSG, karena sifat sektor ini biasanya paling cepat terpukul jika krisis dan paling belakangan pulih saat ekonomi membaik. Namun, investor kini mulai berminat mengoleksi saham-sahamnya sehingga akan segera mendorong harga menguat.

“Secara tren di akhir tahun harga komoditas naik, dan biasanya saham-saham seperti properti dan real estate juga akan menyusul naik. Apalagi, kalau kita lihat sekarang para investor cenderung berbalik ke old economy, jadi saham Sektor Properties and Real Estate pasti ada peluang naik,” kata analis Samuel Sekuritas Olivia Laura kepada Investor Daily, pekan lalu.

Pengamat properti Panangian Simanungkalit kepada Investor Daily, Minggu (17/10), mengatakan bahwa nilai kapitalisasi penjualan properti segmen residensial atau hunian pada tahun 2021 diperkirakan meningkat lebih dari 100%, dari Rp 19 triliun tahun lalu, menjadi sekitar Rp 40 triliun. Penjualan ini diperkirakan didominasi rumah tapak 80% atau sekitar Rp 32 triliun.

Sedangkan untuk hunian apartemen nilai kapitalisasinya hanya sekitar 20% dari pasar residential, atau sekitar Rp 8 triliun tahun ini. Namun, angka itu sudah jauh lebih baik dari tahun lalu yang hanya sekitar Rp 4,5 triliun.

Pada kesempatan terpisah, Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan sebelumnya, sejak kebijakan insentif pengurangan pajak pertambahan nilai (PPN) rumah baru diberlakukan pada Maret lalu, total penjualan properti telah menembus sekitar Rp 200 triliun hingga Juni 2021. REI menargetkan penjualan properti mencapai Rp 500 triliun hingga akhir tahun 2021 seiring perpanjangan kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), jika tidak ada gelombang ketiga kasus penularan Covid-19.

Sebaimana dilansir Strategic Advisory - Coldwell Banker Commercial, sektor properti ini terdiri atas dua jenis. Pertama, properti residensial yakni berupa landed house (rumah tapak) dan high-rise house (rumah susun). Kedua, properti komersial yang terdiri atas perkantoran, retail (mal) yang biasanya terintegrasi dengan high-rise apartments, hotel, serta kawasan industri.

Untuk proyek properti yang memiliki beberapa fungsi hunian, komersial, perkantoran, dan lain-lain juga ada dua jenis. Yang pertama adalah superblock, yakni dengan berkonsep penataan ruang di perkotaan yang memaksimalkan lahan terbatas untuk dibangun sejumlah fungsi permukiman dan fasilitas publik, seperti pusat bisnis dan perdagangan, perbankan, rekreasi, hingga pendidikan, dan rumah sakit.

Kawasan superblok disebut pula kota mandiri karena para penghuni dapat memenuhi kebutuhan hidupnya di satu kawasan kecil, sehingga tingkat mobilisasi ke tempat yang jauh dapat dikurangi secara signifikan dan membuat kualitas hidup lebih baik, efisien, serta hemat waktu, uang, dan energi. Selain itu, terintegrasi dengan fasilitas transportasi massal atau Transit Oriented Development (TOD). Berbagai fasilitas publik ini menjadi nilai tambah, tidak hanya kebutuhan hunian yang terpenuhi, namun juga mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru, sehingga dipastikan proyek layak dijadikan sarana investasi terbaik.

Yang kedua adalah mixed-use, yang merujuk pada bangunan multifungsi yang mampu mengakomodasi beberapa fungsi sekaligus, seperti hunian, pusat belanja, perkantoran, pendidikan, rekreasi, dan sebagainya. Kemacetan yang makin parah membuat warga kota yang memerlukan efisiensi waktu menuju kantor atau pusat perbelanjaan, memilih hunian di dalam proyek mixed-use.

Stimulus Pemerintah-BI
Memasuki semester II-2021, kalangan asosiasi pengembang maupun broker properti sangat merasakan peningkatan penjualan rumah atau hunian. Sekalipun belum pulih seperti ketika tidak ada pandemi Covid-19, tren kenaikan penjualan hunian diprediksi terus bergulir hingga akhir 2021.

Ada lima faktor utama pendorong menggeliatnya bisnis hunian. Ini mencakup mulai pulihnya perekonomian seiring turunnya kasus positif baru Covid-19 dan percepatan vaksinasi; daya beli masyarakat meningkat; masih tingginya kebutuhan hunian dengan backlog kepemilikan 7,6 juta; stimulus dari pemerintah seperti pengurangan pajak pertambahan nilai; serta stimulus Bank Indonesia (BI) yang memungkinkan kredit rumah dengan uang muka 0%.

“Memasuki semester II-2021, ada peningkatan penjualan rumah yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2020. Peningkatannya bisa mencapai 50%,” kata Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) DKI Jakarta Clement Francis, baru-baru ini.

Hal senada juga terangkum dari pendapat Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia Bambang Eka Jaya, Ketua DPD REI DKI Jakarta Arvin F Iskandar, Ketua DPD REI Jawa Barat Joko Suranto, dan Kepala Badan Pengembangan Kawasan Properti Terpadu Kadin Indonesia Budiarsa Sastrawinata. Selain itu, Chief Operating Officer (COO) The Sanctuary Collection Andreas Audyanto, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, serta Wakil Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Nixon Napitupulu. Mereka memberikan keterangan kepada Investor Daily dalam kesempatan terpisah, baru-baru ini.

Mulai Berani Investasi
Clement mengatakan, kenaikan penjualan terjadi karena masyarakat sudah mulai berani berinvestasi atau membeli properti. Hal ini diamini Andreas Audyanto.

Dia meyakini bahwa sektor properti saat ini mulai bangkit kembali, setelah lama mengalami perlambatan. “Sudah terlihat, termasuk di The Sanctuary Collection. Masyarakat sudah mulai yakin kondisi aman dan banyak orang masih memiliki dana besar untuk membeli properti,” kata dia.

Menurut Nixon, saat ini, rumah tapak mulai bangkit dibandingkan dengan sektor properti lainnya seperti perkantoran. Ini terutama rumah pertama atau untuk dihuni.

"Mulai bangkit rumah buat dihuni, bukan untuk investasi. Kebutuhannya menjadi sangat besar dibandingkan sebelum pandemi," ujar dia.

Bangkit
Dalam siklus bisnis, properti adalah sektor yang paling pertama terpukul krisis dan sektor yang paling akhir pulih dari krisis. Saat ini, hampir semua sektor pulih. “Mulai awal tahun depan, sektor properti bangkit. Saat ini saja, penjualan properti sudah mulai menggeliat,” kata John Riady, presdir PT Lippo Karawaci Tbk pada diskusi dengan para pemimpin redaksi di Imperial Golf Club Karawaci, Jumat (15/10/2021). Hadir pada kesempatan itu Presdir PT Siloam International Hospitals Tbk Darjoto Setyawan dan Presdir PT Lippo Cikarang Tbk Ketut Budi Wijaya.

Dengan kondisi seperti ini, harga saham 79 emiten properti yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terangkat. Indeks Properti dan Real Estat adalah satu dari tiga sektor usaha yang masih merah. Indeks Properti dan Real Estat selama Januari hingga akhir pekan lalu, Jumat (15/10/2021), minus 8,95%. Pada periode yang sama, Indeks Teknologi melesat 710,64%, sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesa (BEI) naik 10,94%.

Prospek bisnis properti di Indonesia sangat cerah. Karena rasio kepemilikan rumah terhadap total jumlah keluarga relatif belum tinggi. Di DKI Jakarta, home ownership baru 46%, sedangkan Indonesia 84%. Tingkat kepemilikan rumah di DKI masih lebih rendah dari India yang sudah mencapai 86,6%. PDB per kapita India pada tahun 2020 hanya US$ 1.900, sedangkan PDB per kapita Indonesia di tahun yang sama US$ 3.900.

Biasanya memasuki PDB per kapita US$ 4.000, tingkat kepemilikan rumah akan meningkat. Dengan PDB Indonesia yang kini sudah melaju di jalur positif, John yakin, permintaan akan rumah tinggal, yang tapak maupun yang bertingkat atau apartemen akan meningkat pesat pada masa akan datang.

Kebangkitan bisnis properti akan menggerakkan ekonomi. Selain kontribusinya yang mencapai 15% terhadap PDB, pembangunan properti memengaruhi sekitar 140 mata barang.

Triwulan IV Melesat
Panangian Simanungkalit mengatakan, pada triwulan IV-2021 seharusnya penjualan properti meningkat kembali, seiring dengan pemulihan perekonomian. Setelah perekonomian terkontraksi sejak kuartal II-2020 hingga kuartal I-2021, pada kuartal II tahun ini mulai tumbuh positif 7,07% year on year. Namun, maraknya penularan Covid-19 varian Delta yang menyebabkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2021 diperkirakan melambat, ke 4-5% yoy.

Seiring belakangan sudah terkendalinya Covid-19 dan percepatan vaksinasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis pada kuartal IV-2021 aktivitas masyarakat lebih menggeliat karena tidak perlu ‘menginjak rem’ lagi. Ia memperkirakan sebelumnya, sepanjang tahun ini, pertumbuhan bisa mencapai 3,7-4,5% secara tahunan, atau jauh lebih baik dari tahun lalu yang terkontraksi 2,07% (c-to-c).

“Tren penjualan properti pertama kali membaik pada triwulan II-2021, sejak resesi pada 2020. Kemudian, triwulan ketiga penjualan properti menurun signifikan sekitar 25% dibandingkan dengan triwulan kedua 2021, karena kebijakan PPKM. Kinerja triwulan IV sekarang diperkirakan kembali pulih seperti kinerja triwulan kedua tahun ini,” kata Panangian.

DPP REI menyatakan bahwa peningkatan penjualan properti, khususnya hunian, salah satunya ditopang oleh stimulus pajak. Stimulus diberikan kepada rumah baru yang sudah jadi.

“Program PPN Ditanggung Pemerintah meningkatkan penjualan kelas nonsubsidi hingga 50% lebih. Bahkan, kalau rumah indent satu tahun bisa diikutkan, pasti kenaikannya lebih dari 100%,” ujar Bambang Eka.

PPN ditanggung pemerintah tersebut diberlakukan untuk rumah tapak atau rumah susun baru yang diserahkan dalam kondisi siap huni. Aturan ini merupakan upaya pemerintah untuk tetap mempertahankan daya beli masyarakat di sektor industri perumahan, guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebesar 100% PPN DTP diberikan untuk rumah dengan harga jual paling tinggi sebesar Rp 2 miliar, dan 50% untuk rumah dengan harga jual di atas Rp 2 miliar sampai dengan Rp 5 miliar. PPN DTP tersebut berlaku untuk setiap satu orang pribadi atas perolehan satu unit rumah.

PPN DTP diberikan untuk penyerahan rumah yang dilakukan pada masa pajak Maret 2021 sampai dengan Desember 2021. Aturan tersebut tertuang di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 103/PMK.010/2021 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Penyerahan Rumah Tapak dan Unit Hunian Rumah Susun yang Ditanggung Pemerintah.

 

Penjualan properti residensial diperkirakan akan naik dua kali lipat tahun ini dibandingkan
penjualan pada tahun lalu.
Penjualan properti residensial diperkirakan akan naik dua kali lipat tahun ini dibandingkan penjualan pada tahun lalu.

 

Tren Harga Saham Menguat
Pada kesempatan terpisah, sejumlah analis pasar saham menilai meredanya pandemi dan berangsur-angsurnya pemulihan Indonesia menjadi faktor utama pendorong peningkatan kinerja saham-saham emiten properti sebelum pengujung tahun 2021. Perbaikan kinerja ini diperkirakan akan terus berlanjut tahun depan.

“Secara marketing sales, rata-rata emiten properti juga semua hampir mencapai targetnya tahun ini. Seperti CTRA (Ciputra Development) sudah mencapai 86% dari target tersebut hingga kuartal III-2021, demikian LPKR 86%. Sedangkan SMRA ( Summarecon Agung) 85% per Agustus 2021. Untuk valuasi saat ini, secara NAV properti diskon rata-rata masih di atas 50% dan price to book value (PBV) yang rendah, jadi masih menarik untuk dilihat,” ujar Olivia Laura kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Selain itu, kata Olivia, diluncurkannya produk-produk baru dari masing-masing emiten turut memperkuat pertumbuhan pendapatan. Di sisi lain, tren pasar yang juga sedang naik secara year on year (yoy) karena pada tahun 2020 emiten properti berada pada low base effect.

“Untuk prospek tahun depan, kita yakin masih akan bertumbuh, tapi mungkin pertumbuhannya tidak akan sebesar pada tahun 2021. Selain itu, pertumbuhan akan dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam melanjutkan insentif di sektor properti seperti PPN DTP di tahun 2022,” ujarnya.

Secara tren, menurut Olivia, menjelang akhir tahun, biasanya harga komoditas akan mengalami kenaikan yang akan diikuti oleh meningkatnya kinerja saham-saham properti dan real estate. Terlebih, para investor saat ini cenderung berbalik pada old economy, sehingga peluang semakin terbuka.

Milenial Suka Apartemen
Pada kesempatan terpisah, pengamat pasar modal dan CEO Elkoranvidi Indonesia Investama Fendi Susiyanto mengutarakan, pada semester II-2021, meningkatnya demand pada properti terbagi dalam dua jenis, yakni untuk rumah tinggal dan perkantoran atau sebagai bentuk instrumen investasi.

Dari sisi rumah tinggal, peningkatan demand ditopang oleh tingginya minat pada perumahan dengan skala medium ke bawah dan juga kecenderungan generasi milenial yang lebih suka tinggal di apartemen, karena lebih praktis dan mudah.

Sedangkan untuk investasi terlihat terutama dari tingginya minat pada properti dengan kisaran harga Rp 3 miliar ke bawah. Meski demikian, potensi demand ini akan dipengaruhi oleh proyeksi kenaikan tingkat suku bunga, dan di sisi lain akan diimbangi dengan proyeksi pemulihan daya beli.

Untuk valuasi saham sektor properti dan real estate yang menarik, lanjut Fendi, seperti Bumi Serpong Damai atau BSDE dengan target harga Rp 1.500, Summarecon Agung atau SMRA Rp 1.200 dan Ciputra Development atau CTRA Rp 1.450, yang masih punya peluang pada tahun ini meningkat. Di Sektor Property and Real Estate ini juga ada emiten lain seperti Lippo Karawaci, Lippo Cikarang, dan Alam Sutera (ASRI).

IHSG Sepekan
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memproyeksikan tren kenaikan indeks masih rawan terkena koreksi, apabila tidak diimbangi dengan fundamental yang kuat. IHSG pada pekan ini diproyeksikan berada di level 6.550 – 6.690. Secara jangka pendek, IHSG masih berpotensi menuju 6.800, namun perlu juga diwaspadai koreksi sehat yang berpotensi terjadi.

“Secara jangka panjang, dengan tingkat probabilitas sebesar 80%, kami melihat IHSG berpeluang menuju 7.300, apabila penguatan terus terjadi secara konsisten. Para investor diharapkan tetap berhati-hati, karena semakin IHSG bergerak menguat, maka akan semakin rapuh apabila tidak diikuti dengan fundamental yang kuat,” paparnya.

Nico melanjutkan, investor bisa mencermati saham-saham dengan fundamental yang baik dan memiliki potensi valuasi jangka panjang yang menarik. Di sisi lain, di tengah situasi dan kondisi saat ini, ketidakpastian tetap masih ada.

Selain itu, para investor diharapkan membuat keputusan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan. “Disiplin diri dan tidak greedy juga menjadi salah satu sikap pemenang dalam menentukan pemilihan moment dan membuat keputusan,” ujarnya.

Hal senada diucapkan oleh analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani. Ia mengatakan indeks pada sepekan depan berpotensi untuk melanjutkan penguatan, dengan risiko profit taking pada awal pekan, sejalan dengan terbentuknya candle spinning top di akhir minggu kemarin.

Pekan ini, pergerakan indeks akan dipengaruhi rilis data global dari RRT berupa data GDP dan retail sales. Selain itu, foreign inflow juga berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG. Untuk support mingguan terdekat, berada di level 6.510 dan resisten di 6.686.

Saham yang menjadi rekomendasi dari Hendriko untuk dikoleksi antara lain BBNI dengan strategi buy on weakness di level Rp 6.650. Selain itu, ASII Rp 6.100 dan ICBP Rp 9.000-9.050.

Penjualan LPKR Naik
Sementara itu, di luar dugaan, selama tiga kuartal pertama 2021, penjualan rumah tapak PT Lippo Karawaci Tbk meningkat hingga 77% atau hampir dua kali lipat. Sekitar 90% pembeli rumah adalah penghuni dan 90% pembelian menggunakan kredit pemilikan rumah atau KPR.

Indonesia pernah mengalami booming properti tahun 2009 hingga 2012 seiring dengan booming komoditas. Tapi, saat itu pembelian rumah-rumah dilakukan untuk kegiatan bisnis. “Sedangkan selama pandemi, sekitar 90% pembeli rumah adalah end user atau penghuni,” kata John.

Pada semester pertama 2021, pendapatan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) naik 36%, yoy, menjadi Rp 7,23 triliun, sedang EBITDA meningkat 102% menjadi Rp 1,95 triliun. Penjualan pemasaran selama semester pertama 2021 naik 122%. Kinerja yang bagus ini ditunjang oleh strategi penjualan landed house atau rumah tapak dengan harga berkisar Rp 700 juta hingga Rp 2 miliar atau rata-rata Rp 1,2 miliar.

LPKR menyasar kalangan millennial first time home buyer atau pembeli rumah pertama dari kalangan milenial. Selain harga terjangkau dan lokasi strategis, daya tarik rumah tapak yang dibangun LPKR adalah desain yang indah dan modern. Rumah dua lantai di lahan 60 meter didesain secara modern oleh desainer papan atas, Alex Bayu. Ada cross ventilation atau jalur udara yang masuk dan keluar dari setiap ruangan. Jumlah kamar tidur sekitar dua-empat kamar.

Pada Juni 2021, sekitar 465 unit rumah Cendana Parc Phase 1 di Lippo Village habis terjual dalam waktu lima jam dengan nilai Rp 401,4 miliar. Sukses itu terulang lagi pada September 2021. Dalam tempo lima jam, 680 unit rumah Cendana Parc Phase 2 habis terjual dengan nilai Rp 678 miliar.

John menjelaskan, pandemi mendorong pembeli memburu rumah tapak. Posisi Lippo Karawaci dan Lippo Cikarang, lajut dia, cukup strategis karena terletak di jalur kereta api dan jalan tol. Kota-kota baru yang dibangun pengembang pun, umumnya, terletak di barat dan timur Jakarta.

Meski peminat rumah tapak kini cukup tinggi, John yakin, rumah hunian high-rise atau apartemen akan mulai dibangun pengembang selambatnya kuartal ketiga 2022. “Ada plus-minus rumah tapak dan apartemen. Semuanya ada segmen,” katanya.

Kaum milenial, mereka yang berusia 24-39 tahun, cenderung memilih rumah di kota dan itu adalah apartemen. Sedangkan generasi X, berusia 40 hingga 55, cenderung memilih landed house dan itu umumnya di luar kota. Perumahan dengan landed house yang dekat jalur kereta akan lebih diminati.

Dorong 175 Industri
Sementara itu Joko Suranto mengatakan, dukungan pemerintah dan para pemangku kepentingan perumahan lainnya diberikan karena industri properti merupakan salah satu pengungkit ekonomi nasional. “Insentif PPN merupakan salah satu dukungan yang diperlukan. Pengembang juga perlu diberi dukungan soal kepastian pembiayaan rumah subsidi agar lebih mengungkit ekonomi nasional,” kata Joko Suranto.

Menurut Budiarsa, bila dihimpun dengan sektor terkait, secara keseluruhan industri properti bisa memberikan kontribusi terhadap PDB nasional mencapai sekitar 7-9%. Ini mulai dari kontribusi sektor perumahan, konstruksi, transportasi dan pergudangan, serta penyediaan akomodasi dan makan minum terkait. Selain itu, sektor pengadaan listrik dan gas, pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, jasa keuangan hingga asuransi.

“Industri properti juga bisa menimbulkan efek berganda terhadap 175 industri dan 350 UKM terkait. Penggunaan material lokal bisa 90-100%, serta memperkerjakan sedikitnya hingga 30 juta tenaga kerja,” kata Budiarsa, dalam diskusi virtual baru-baru ini.

Sementara itu, menurut BI, sektor properti menggerakkan 170 jenis industri.

Kebutuhan Tinggi
Sementara itu, backlog perumahan dan keluarga yang menghuni rumah tidak layak huni masih tinggi yakni mencapai 11,4 juta. Dari angka itu, backlog kepemilikan sebanyak 7,6 juta. Lalu, masih ada sekitar 61,7% keluarga menghuni rumah tidak layak huni.

Sementara itu bila dihitung dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 271 juta jiwa dan asumsi 1 keluarga terdiri atas 4,5 anggota, maka di Tanah Air ada sekitar 60,2 juta keluarga. Ini berarti ada sekitar 12,6% keluarga belum memiliki rumah.

Di sisi lain, angka pernikahan baru juga tumbuh cukup tinggi 1,8 juta per tahun, artinya permintaan rumah baru akan terus bertambah. Kemudian ada pertumbuhan middle class yang didominasi segmen emerging affluent dan affluent sebesar 77 juta jiwa, proyeksi tambahan kelas menengah di tahun 2025.

Terkait hal itu, PT Lippo Karawaci Tbk optimistis kebutuhan perumahan masih sangat besar, dalam 10 tahun ke depan bisa mencapai 12 juta unit. Di sisi lain, Lippo telah meluncurkan sejumlah produk properti termasuk The Hive Parc, The Hive Himalaya, dan Brava Himalaya untuk mewujudkan target prapenjualan 2021 yang sebesar Rp 4,2 triliun.

“Data dari Kemenko Perekonomian menjadi faktor penting yang menegaskan besarnya kebutuhan pasar perumahan. Bila jumlah kepala keluarga 60 juta dan kebutuhan rumah bertambah 20% maka akan ada kebutuhan 12 juta rumah dalam 10 tahun ke depan. Artinya, ada demand 1 juta rumah setiap tahun. Sedangkan kami sebagai pengembang (LPKR) misalnya, baru bisa mensuplai sekitar 4.000 rumah,” ujar John, dalam keterangan pers, baru-baru ini.

Terkait pemenuhan kebutuhan hunian di Tanah Air, Basuki mengatakan, dalam RPJMN 2020-2024 pemerintah telah menargetkan peningkatan rumah tangga yang menempati rumah layak dari semula 56% menjadi sebesar 70% atau ekuivalen dengan 11 juta rumah tangga. Untuk mempercepat penyediaan perumahan di Indonesia, Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 telah mencanangkan Program Sejuta Rumah untuk meningkatkan sinergi antar pelaku pembangunan dalam kerangka ekosistem perumahan.

“Capaian Program Sejuta Rumah dalam periode 2015-2019 sebanyak 4,7 juta unit. Tahun 2020 sebanyak 965 ribu unit dan hingga September 2021 sebanyak 763 ribu unit,” kata Basuki. (jm/pd/en) 


 

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN