Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peternakan ayam di Japfa Comfeed. Foto: BeritaSatuPhoto/Defrizal

Peternakan ayam di Japfa Comfeed. Foto: BeritaSatuPhoto/Defrizal

Tantangan untuk Japfa Belum Berakhir

Senin, 22 November 2021 | 11:52 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Masa sulit bagi industri peternakan ayam tampaknya belum juga berakhir, tak terkecuali dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Faktor yang memengaruhi antara lain kenaikan harga bahan baku pakan unggas dan daya beli masyarakat yang masih rendah.

Dampak negatif kenaikan harga bahan baku tercermin pada kinerja keuangan Japfa sepanjang kuartal III-2021, bahkan perusahaan mencatat rugi. Kondisi tersebut mendorong sejumlah analis merevisi turun proyeksi laba bersih tahun 2021 dan harga saham JPFA.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengungkapkan, Japfa mencatatkan margin keuntungan operasional minus 3,2% pada kuartal III-2021. Hal ini merupakan yang pertama dalam 10 tahun terakhir. Kondisi tersebut memicu perseroan merugi hingga Rp 451 miliar pada kuartal III-2021, sehingga laba bersih perseroan menjadi Rp 1,1 triliun hingga September 2021.

“Angka ini di bawah ekspektasi kami dan konsensus analis. Kami awalnya menargetkan laba bersih perseroan mencapai Rp 2 triliun hingga akhir tahun ini dan konsensus analis Rp 2,1 triliun,” tulis Victor dalam risetnya.

harga saham JPFA dalam satu dekade terakhir
harga saham JPFA dalam satu dekade terakhir

Menurut dia, margin negatif dipengaruhi kinerja bisnis produksi pakan ternak, seiring dengan kenaikan harga bahan baku jagung lokal dan biaya logistik untuk impor bahan baku. Kedua faktor tersebut menjadikan margin EBIT perseroan menjadi 4,6% pada kuartal III-2021 atau terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak hanya itu, Japfa juga terpukul penjualan ayam pedaging (broiler) dengan margin EBIT menjadi minus 20,1%, setelah terjadi lonjakan harga pembelian pakan ternak dan anak ayam usia sehari (DOC) saat harga jual daging ayam turun pada Juli- Agustus 2021.

Penurunan dipengaruhi oleh pengetatan PPKM sepanjang periode tersebut. Victor memperkirakan bahwa harga jual jagung kemungkinan rata-rata mencapai Rp 5.900 per kilogram (kg) dibandingkan perkiraan semula hanya Rp 5.600 per kg.

Sedangkan ratarata harga jual ayam pedaging direvisi turun dari Rp 19.400 per kg menjadi Rp 18.900 per kg.

“Meski demikian, kami memperkirakan margin keuntungan perseoran kembali pulih pada 2022, seiring dengan ekspektasi penurunan harga bahan baku jagung dan mendatarnya harga jual ayam pedaging,” jelasnya.

Peternakan ayam Japfa Comfeed. Foto: DEFRIZAL
Peternakan ayam Japfa Comfeed. Foto: DEFRIZAL

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan peningkatan laba bersih Japfa menjadi Rp 1,79 triliun hingga akhir 2021 dibandingkan raihan tahun lalu Rp 1,16 triliun.

Pendapatan perseroan juga diperkirakan bertumbuh dari Rp 36,96 triliun menjadi Rp 44,61 triliun.

Realisasi kinerja keuangan hingga kuartal III-2021 ditambah tantangan yang sedang dihadapi Japfa mendorong BRI DanareksaSekuritas merevisi turun target harga saham JPFA dari Rp2.350 menjadi Rp 2.200 dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Farras Farhan mengungkapkan, kenaikan signifikan beban pokok penjualan sebesar 49% menjadi Rp 9,9 triliun hingga kuartal III-2021 menyebabkan laba bersih Japfa tertekan, bahkan merugi pada kuartal III-2021.

“Meski demikian, keuntungan perseroan hingga September 2021 masih sesuai ekspektasi. Raihan laba tersebut setara dengan 78% dari target kami dan 77% dari konsensus analis,” tulis dia dalam risetnya.

Adapun pendapatan Japfa masih menunjukkan peningkatan menjadi Rp 10,7 triliun sampai September 2021, seiring dengan pertumbuhan dua digit bisnis segmen pakan, peternakan komersial, dan DOC.

“Walaupun ASP tertekan pada kuartal III-2021 akibat pemberlakuan PPKM, kami melihat harga produk perseroan mulai pulih pada kuartal IV-2021, seiring dengan pemulihan ekonomi dan tren peningkatan belanja masyarakat,” terangnya.

Prospek JPFA dan kinerja keuangan JPFA
Prospek JPFA dan kinerja keuangan JPFA

Pemulihan kinerja keuangan kuartal IV-2021, menurut Farras, juga didukung oleh berlanjutnya program culling dari pemerintah untuk periode 19 Oktober-13 November 2021 dengan jumlah 94,1 juta ayam akan dimusnahkan.

“Kami melihat harga broiler dan DOC sendiri akan pulih pada kuartal IV-2021 setelah PPKM dilonggarkan dan daya beli masyarakat mulai pulih. Hal ini diharapkan membuat pendapatan perseroan bisa mencapai Rp 43,4 triliun pada 2021,” jelas dia.

Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan target harga direvisi turun dari Rp 2.200 menjadi Rp 2.000. Penurunan target harga sejalan dengan kerugian perseroan  pada kuartal III-2021 dan masih besarnya tantangan kenaikan harga komoditas bahan baku pakan ternak.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih Japfa menjadi Rp 1,93 triliun tahun ini dibandingkan raihan tahun 2020 sebanyak Rp 917 miliar.

Pendapatan perseroan juga diharapkan bertumbuh dari Rp 36,96 triliun menjadi Rp 43,37 triliun

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN