Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sejumlah armada PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA). Foto: IST

Sejumlah armada PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA). Foto: IST

Bisnis Logistik Jadi Penentu Masa Depan Adi Sarana

Selasa, 23 November 2021 | 10:22 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Pesatnya pertumbuhan transaksi melalui e-commerce telah membuka peluang pertumbuhan kinerja keuangan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) yang lebih pesat ke depannya. Bisnis logistik maupun pengiriman barang melalui Anteraja akan menjadi penentu pertumbuhan perseroan dalam jangka panjang.

Analis CLSA Sekuritas Indonesia Jonathan Mardjuki dan Aimee Garibaldi mengungkapkan, pertumbuhan pesat bisnis e-commerce telah membuka peluang penguatan bisnis logistik. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi Adi Sarana melalui bisnis logistiknya, Anteraja, yang menempati posisi sebagai perusahaan logistik kelima terbesar di Indonesia.

“Setelah kami melihat proses bisnis Anteraja dan tren permintaan bisnis logistik sejak pandemi terlihat bahwa Anteraja akan menjadi milestone perseroan ke depan. Apalagi, Anteraja telah terbukti menjadi pendorong terbesar peningkatan pendapatan perseroan,” tulis Jonathan dan Aimee dalam risetnya.

Jonathan dan Aimee menyebutkan bahwa sektor e-logistic sedang memasuki fase hypergrowth dengan pemain terbesar J&T Express, JNE Express, SiCepat, dan Anteraja.

Anteraja salah satu lini bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA)
Anteraja salah satu lini bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA)

Dari kelima perusahaan logistik tersebut, Anteraja adalah salah satu perusahaan paling sukses. Anteraja berhasil mencatatkan pengiriman sekitar 800-850 ribu paket setiap hari, sehingga menempatkannya di urutan kelima.

Anteraja juga menawarkan model bisnis hibrid dengan model jemput paket dan fleksibilitas durasi pengiriman dan didukung dengan gudang penyimpanan barang.

Kehadiran Anteraja membuat tingkat pertumbuhan pendapatan Adi Sarana dalam dua tahun terakhir tumbuh pesat. Sedangkan tingkat keuntungan bisnis ini kemungkinan menjadi faktor penentu ke depan, karena hingga kini Anteraja masih mencatatkan rugi operasional. Namun, dengan target peningkatan pengiriman barang menjadi 1 juta paket per hari tahun 2021 dan menjadi 1,5 juta paket per hari tahun 2022, Anteraja diperkirakan mulai untung tahun depan.

Adi Sarana juga mendapatkan dukungan positif dari segmen bisnis lainnya, yaitu penyewaan kendaran dan rental mobil, online car sharing, dan lelang mobil bekas. Meski demikian, Anteraja diprediksi tetap menjadi kunci utama pendongkrak pendapatan perseroan dengan target pertumbuhan pendapatan sebesar 185% pada 2021 dan 65% pada 2022.

Harga saham ASSA dalam satu dekade terakhir
Harga saham ASSA dalam satu dekade terakhir

Besarnya potensi pertumbuhan yang ditawarkan bisnis Anteraja mendorong CLSA Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASSA dengan target harga Rp 4.450. Target harga ini menggambarkan pesatnya pertumbuhan pendapatan perseroan hingga tahun 2022.

CLSA Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih Adi Sarana menjadi Rp 142 miliar tahun ini dibandingkan raihan tahun lalu Rp 87 miliar. Pendapatan perseroan juga diperkirakan meningkat dari Rp 3,03 triliun menajdi Rp 4,54 triliun.

Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Ignatius Teguh Prayoga mengungkapkan, Adi Sarana berhasil mencetak lonjakan pendapatan hingga September 2021 dengan dukungan utama dari bisnis logistik pengiriman barang, Anteraja. Meski demikian, raihan laba bersih perseroan justru berada di bawah ekspektasi BRI Danareksa Sekuritas dan konsensus analis.

Bisnis rental mobil Adi Sarana Armada
Bisnis rental mobil Adi Sarana Armada

“Tingkat pertumbuhan laba bersih yang berada di bawah ekspektasi dipicu oleh peningkatan beban pokok pendapatan yang memicu bisnis pengiriman barang perseroan mencetak peningkatan rugi operasional,” tulis dia dalam risetnya.

Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi tantangan bagi Adi Sarana, yaitu bagaimana mengendalikan struktur biaya bisnis Anteraja, sehingga segmen bisnis ini bisa menguntungkan. Padahal, dari sisi operasional, terjadi lonjakan jumlah barang yang ditangani menjadi 430 ribu paket per hari selama kuartal III-2021 dibandingkan kuartal II-2021 sebanyak 350 ribu paket per hari.

Prospek ASSA
Prospek ASSA

Ignatius menyebutkan, struktur biaya pengiriman barang Anteraja menunjukkan peningkatan selama kuartal III-2021 dibandingkan kuartal II-2021.

Angka terebut lebih besar dibandingkan ekspektasi. Namun, peningkatan beban bisa saja dipicu oleh upaya perseroan meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga membutuhkan pendapatan untuk mengakuisisi pangsa pasar. Peningkatan biaya sejalan dengan kenaikan beban gaji, belanja sopir pengiriman barang, dan beban outsourcing kurir.

“Peningkatan COR kemungkinan sejalan dengan upaya Anteraja meningkatkan armada kurirnya untuk menjaga poin barang yang dikirimkan per hari untuk setiap kurir berada pada tingkat yang efisien dalam rangka menjaga kualitas layanan,” terangnya.

Kinerja keuangan Adi Sarana
Kinerja keuangan Adi Sarana

Meski demikian, pertumbuhan pesat bisnis Anteraja dalam tiga tahun terakhir masih tetap menjadi sentimen positif bagi Adi Sarana. Sedangkan inisiatif perseroan untuk mendukung pertumbuhan e-commerce belum sepenuhnya beroperasi, sehingga masih terbuka peluang pertumbuhan pesat perseroan ke depan.

Sedangkan peningkatan beban pokok pendapatan dipicu oleh upaya perseroan guna meningkatkan kualitas layanan.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi hold saham ASSA dengan target harga menjadi Rp 3.750. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan lonjakan laba bersih Adi Sarana menjadi Rp 219 miliar tahun ini dibandingkan tahun 2020 senilai Rp 87 miliar. Pendapatan perseroan juga diperkirakan melonjak dari Rp 3,03 triliun menjadi Rp 4,94 triliun.

Sedangkan pendapatan dan laba besih tahun 2022 diperkirakan masing-masing Rp 7,03 triliun dan Rp 401 miliar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN