Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri nikel. Foto: IST

Industri nikel. Foto: IST

Ada Larangan Ekspor Bahan Mentah, Momentum Buy on Weakness di Saham ini

Jumat, 14 Januari 2022 | 12:59 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Saham emiten pertambangan dan mineral disinyalir bisa menurun harganya di tengah kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bahan mentah seperti batu bara dan bauksit serta nikel yang tarif pajak ekspornya akan ditingkatkan. Namun, penurunan saham tersebut dinilai bisa menjadi momentum bagi investor untuk mengkoleksi saham tersebut.

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menjelaskan, kebijakan larangan ekspor bahan mentah atau mineral bertujuan untuk menjaga pasokan domestik dari kondisi pasokan global yang terancam.

"Kondisi ini akhirnya memicu kenaikan harga," ujar dia kepada Investor Daily, Jumat (14/1).

Baca juga: Stop Ekspor Bahan Mentah, Jokowi: Ekspor Nikel Naik Jadi Rp 280 T

Dengan adanya kebijakan ini, emiten terkait tentunya akan terkena imbasnya karena pendapatannya berkurang. Pada akhirnya, harga sahamnya juga ikut menurun.

Namun demikian, dampak tersebut akan bersifat sementara. Pasalnya, ketika larangan ekspor dicabut, sedangkan kebutuhan ekspor makin besar di tengah peningkatan harga, tentunya pendapatan emiten juga akan meningkat.

"Artinya, pelemahan ini adalah kenaikan yang tertunda," kata dia.

Baca juga: Presiden Jokowi: Hilirisasi Industri Tekan Ekspor Bahan Mentah

Melihat hal ini, investor bisa memanfaatkan momentum ini untuk mengkoleksi saham emiten yang terdampak atau buy on weakness. Adapun saham yang bisa dikoleksi adalah PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Timah Tbk (TINS).

Secara jangka pendek, saham tersebut akan menurun 10-30% dari harga saat ini. Namun dalam jangka menengah dan panjang, saham tersebut bisa mengejar kenaikan harga seperti yang terjadi pada tahun 2021.

Editor : Gita Rossiana (gita.rossiana@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN