Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk semen PT Indocement. Foto:  BeritaSatu Photo/Ruht Semiono

Produk semen PT Indocement. Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono

Optimisme Indocement (INTP) Hadapi Pemulihan di 2022

Rabu, 26 Januari 2022 | 15:03 WIB
Ely Rahmawati

JAKARTA, investor.id - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) membukukan penjualan semen sebanyak 16,56 juta ton pada 2021 atau naik 2,3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, sesuai dengan ekspektasi analis. Tahun ini, perseroan berharap prospek yang lebih cerah seiring pemulihan ekonomi.

Pada bulan Desember 2021, Indocement menjual 1,48 juta ton, atau sedikit lebih rendah 0,5% dibanding periode sama 2020. Perseroan menaikan harga jual semen dalam kantong sebesar 5% menjadi total 9% pada kuartal IV-2021, meskipun strategi tersebut tidak diikuti oleh pemain lain di beberapa daerah.

Akibatnya, pangsa pasar Indocement pada Desember 2021 turun menjadi 25,6% disbanding 25,9% di bulan sebelumnya.

Prospek INTP
 

Analis Riset BRI Danareksa Sekuritas Maria Renata mengatakan, industri semen mencatat pertumbuhan 4,3% per tahun, yang diterjemahkan menjadi penjualan 65,21 juta ton. Hal ini menandakan bahwa Indocement perlu memperkuat kinerja penjualannya yang hanya tumbuh setengah dari industri.

“Kami memperkirakan pendapatan sepanjang 2021 sebesar Rp 14,8 triliun (naik 4,6%) dan laba bersih sebesar Rp 1,6 triliun (berkurang 9,8%),” papar Maria dalam risetnya, baru-baru ini.

Maria Renata mempertahankan rekomendasi beli saham INTP, karena pangsa pasar yang relatif stabil. Indocement membukukan penjualan semen sebesar 1,48 juta ton pada Desember 2021 atau sedikit lebih rendah 0,5% dibanding periode sama 2020, yang ditandai dengan penurunan penjualan dalam kantong sebesar 4,4%, karena penjualan semen curah naik sebesar 13,7%.

Maria menyebut, penjualan di Jawa turun sebesar 1,2% pada Desember 2021 dibanding Desember tahun lalu, dan berkurang 4,7% dibanding November 2021, karena banyaknya hari hujan di bulan tersebut. Volume penjualan Indocement banyak ditopang di area luar Jawa yang naik 6,8%.

“Pangsa pasar bulanan Indocement relatif stabil, mencapai 25,6% hingga akhir tahun lalu. Sedangkan penjualan full year 2021 mencapai 16,56 juta ton atau naik 2,3% dibanding tahun sebelumnya,” ungkap Maria.

Penjualan di Jawa Barat, basis Indocement, relatif stagnan dengan kenaikan hanya 0,4% secara tahunan. Hal itu terjadi karena penjualan yang lebih rendah pada kuartal I-2021 akibat cuaca ekstrem.

Pabrik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Pabrik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk

Selain itu juga pangsa pasar yang lebih rendah pada Oktober/November2021 yang mencerminkan kenaikan ASP di tengah harga batu bara yang tinggi.

Sebaliknya, penjualan di Sumatera tumbuh sebesar 5,0% yoy dengan kontribusi yang lebih tinggi sebesar 10,8% dari total volume penjualan dibandingkan 2020 sebesar 10,6%. Pangsa pasar Indocement mencapai 25,4% pada tahun lalu, yang berarti sedikit menurun dibanding 2020 yakni 25,9%.

“Volume penjualan sepanjang 2021 sejalan dengan perkiraan kami. Volume penjualan Indocement sebesar 16,56 juta ton menyumbang 99% dari target kami yang ditetapkan sebesar 16,56 juta ton,” tegas Maria.

Untuk 2022, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, pertumbuhan volume penjualan Indocement sebesar 4,0%. Perusahaan telah menaikkan harga jualnya dua kali untuk semen kantong sekitar 5% menjadi 9% secara total. Namun, langkah ini tidak diikuti oleh beberapa pemain di area tertentu.

“Dengan demikian, kami memperkirakan ASP akan meningkatsebesar 10,5% pada kuartal IV- 2021, yang berarti peningkatan 1,2% untuk tahun 2021. Asumsi harga batu bara kami berada di US$ 66 per ton,” jelas dia.

Saat ini, penjualan Indocement masih ditopang pasar domestik. Penjualan semen domestik pada akhir 2021 mencapai 5,79 juta ton, didukung oleh penjualan massal yang kuat atau naik 11,5%.

Secara total, penjualandi sepanjang 2021 mencapai 65,21 juta ton didukung oleh penjualan semen kantong yang lebih tinggi.

Harga saham INTP dalam satu dekade terakhir
 

Penjualan semen kantong memberikan kontribusi sebesar 77% dari total penjualan, atau relatif stabil dibandingkan proporsi tahun sebelumnya. Berdasarkan wilayah, penjualan di wilayah non-Jawa tumbuh sebesar 6,3% melebihi pertumbuhan di Jawa sebesar 2,6%.

“Pertahankan Beli di saham INTP. Kami memperkirakan pendapatan perseroan sepanjang 2022 meningkat 7% didukung oleh pertumbuhan volume penjualan 4% dan pertumbuhan ASP sebesar 3%,” kata analis.

“Kami juga memperkirakan harga batu bara yang lebih rendah di sepanjang 2022 sebesar US$ 56 per ton, yang berarti penurunan biaya batu bara sebesar -5,5%yoy dan laba bersih Rp 1,9 triliun naik 17,1% dibanding periode sama tahun sebelumnya.”

“Dimulainya pembangunan Nusantara, ibu kota baru, yang ditargetkan dimulai tahun ini, akan menjadi katalis positif bagi industri semen. Namun, risiko utama tetap menjadi pandemic yang sedang berlangsung,” tandas Maria.

Mulai Pulih

Pabrik Indocement. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Pabrik Indocement. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Tahun ini, pembukaan kembali ekonomi secara bertahap berpotensi menghasilkan proyek properti dan infrastruktur yang lebih baik sehingga berdampak positif bagi kinerja Indocement Tunggal Prakarsa.

Analis Mirae Asset Sekuritas Mimi Halimin menjelaskan, karena kenaikan harga energi yang signifikan tahun lalu, produsen semen akan mencoba untuk secara bertahap meneruskan kenaikan biaya input kepada pelanggan untuk mengurangi potensi tekanan margin keuntungan.

Dia mencatat bahwa Indocement Tunggal Prakarsa telah menaikkan harga jual untuk produknya pada kuartal IV-2021. Sayangnya, penjualan semen perusahaan di pasar domestic pada bulan Oktober turun 0,8% yoy menjadi 1,6 juta ton, jauh di belakang pertumbuhan konsumsi semen domestik industri yang naik 5,5% pada Oktober.

Namun, volume penjualan semen domestik perseroan pada November tumbuh positif sebesar 2,8% yoy dibanding pertumbuhan volume domestik industri sebesar -2,1% yoy pada November.

“Kami yakin Indocement cukup dilematis untuk memilih antara volume dan profitabilitas karena permintaan semen masih relatif lemah,” ujar Mimi.

Namun, seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi secara bertahap di tahun-tahun mendatang, Mimi yakin permintaan semen akan lebih baik di 2022. Jadi, jika permintaan bisa meningkat.

Dia percaya, pertumbuhan volume penjualan semen domestik Indocement bisa lebih baik, karena pasar akan menerima kenaikan harga.

“Kami yakin, kenaikan biaya energi tidak hanya menimpa Indocement, tapi juga seluruh produsen semen. Dengan demikian, kami percaya bahwa cepat atau lambat, pemain lain juga akan mengikuti pergerakan untuk menaikkan harga jual mereka,” ujar dia.

Mimi tetap mempertahankan estimasi pendapatan dan laba bersih Indocement. Dia berharap tahun 2022 akan menjadi tahun yang lebih baik bagi industri semen, didukung oleh pembukaan kembali ekonomi secara bertahap, yang berpotensi menghasilkan proyek properti, dan infrastruktur yang lebih baik.

“Kami mempertahankan rekomendasi beli saham INTP dengan target harga yang diturunkan dari DCF sebesar Rp 14.100,” tegas dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN