Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi batu bara.

Ilustrasi batu bara.

Transisi ke Zero Carbon, Begini Prospek Saham ADRO, PTBA, ITMG, dan UNTR

Selasa, 21 Juni 2022 | 13:16 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Meskipun sejumlah negara gencar bertransisi ke zero carbon dengan mengurangi penggunaan energi fosil, upaya tersebut tampaknya belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Dipicu kekurangan pasokan energi bersamaan dengan perang Rusia-Ukraina menjadikan sumber energi batu bara tetap menjadi andalan dunia.

Kondisi ini terlihat dari lonjakan harga jual batu bara dalam beberapa kuartal terakhir. Harga tinggi tersebut diprediksi berlanjut setidaknya sampai akhir tahun ini, sehingga kinerja keuangan emiten-emiten batu bara diproyeksikan melanjutkan pertumbuhan pesat tahun ini.

Baca juga: UE Setujui Embargo Batubara Rusia

Analis RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya dan Fauzan Luthfi Djamal mengungkapkan, berdasarkan data Newcastle, rata-rata harga jual batu bara telah naik sebanyak 230% menjadi US$ 310 per ton. Lonjakan harga tersebut dipengaruhi sejumlah faktor geopolitik perang Rusia-Ukraina bersamaan dengan kondisi cuaca buruk, peningkatan permintaan setelah pandemi Covid-19 terkendali.

RHB Sekuritas menyebutkan bahwa penguatan harga batu bara mulai terjadi sejak kuartal III-2021 setelah pandemi dunia terkendali dan aktivitas ekonomi mulai membaik. Kenaikan juga dipengaruhi oleh penurunan suplai batu bara dunia yang dipicu meledaknya perang Rusia-Ukraina. Kondisi cuaca yang cenderung lebih basah juga memicu penurunan suplai batu bara. Kondisi ini menjadikan laba bersih emiten batu bara melesat pada kuartal I-2022.

Terkait rata-rata harga jual batu bara, Andrey dan Fauzan memprediksi berada dalam rentang US$ 250 per ton tahun ini atau menunjukkan peningkatan 84% dari rata-rata tahun lalu. Kenaikan harga tersebut tentu akan berimbas positif terhadap lonjakan laba bersih produsen batu bara dunia. Berdasarkan analisis, setiap perubahan 5% rata-rata harga jual batu bara akan berdampak terhadap laba bersih emiten batu bara hingga 6,5%.

Sedangkan adanya upaya sejumlah negara untuk mengurangi penggunaan energi batu bara dengan beralih ke energi yang lebih bersih bisa menjadi tekanan terhadap permintaan batu bara ke depan. Namun, harga jual batu bara setidaknya tahun ini diproyeksikan tetap kuat di tengah rendahnya pasokan batu bara dunia.

Baca juga: Adaro Energy (ADRO) Perpanjang Lagi Periode Buyback Saham

Berbagai faktor tersebut mendorong RHB Sekuritas memberikan rekomendasi netral terhadap saham sektor batu bara. Rekomendasi tersebut mempertimbangkan harga jual batu bara yang masih cenderung naik dalam jangka pendek. Dengan demikian, rata-rata pertumbuhan pendapatan emiten batu bara diperkirakan mencapai 30% tahun ini dan kenaikan laba bersih mencapai 43%.

Adapun saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 4.400, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 5.050, saham PT Indo Tambangaraya Megah Tbk (ITMG) direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 45.300, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) direkomendasikan buy dengan target harga Rp 34.700.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN