Menu
Sign in
@ Contact
Search
Motor listrik luxury series produksi  PT Gaya Abadi Sempurna

Motor listrik luxury series produksi PT Gaya Abadi Sempurna

Saham-saham Emiten Kendaraan Listrik Bergerak Bullish, Ini Analisisnya...

Rabu, 21 September 2022 | 13:15 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Saham-saham emiten kendaraan listrik bergerak bullish. Financial Expert Ajaib Sekuritas IND Ratih Mustikoningsih menjelaskan, beberapa sentimen yang dapat menjadi pendorong pergerakan saham emiten di sektor kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) yaitu komitmen Pemerintah Indonesia untuk menekan jumlah emisi karbon.

Indonesia berupaya mengurangi emisi karbon sebesar 29% pada 2030, dan net zero carbon pada 2060. Strategi mengurangi jumlah emisi karbon tersebut salah satunya beralih ke kendaraan listrik.

Baca juga: Akhirnya! Indika Energy (INDY) Kenalkan Motor Listriknya ke Publik, ALVA Namanya

“Dukungan dari pemerintah inilah yang menjadi booster bagi emiten sektor terkait karena akan lebih mudah dalam mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan bisnisnya,” tulis Ratih dalam risetnya, Rabu (21/9/2022).

Sejauh ini, lanjut Ratih, Kementerian Perindustrian memproyeksikan 20% penggunaan kendaraan berbasis baterai listrik pada tahun 2025. Adapun untuk produksi mobil listrik dan bus listrik diprediksikan mencapai 600 ribu unit pada 2030. Sentimen positif lainnya yaitu, kenaikan harga bensin menyusul kenaikan harga minyak mentah yang terjadi secara global membuat produk EV menjadi lebih kompetitif.

“Meningkatnya permintaan EV secara global turut memberikan multiplier effect pada kenaikan harga komoditas nikel, tembaga, kobalt, lithium serta material baterai lainnya,” tambah Ratih.

Baca juga: Bos Antam (ANTM) Beberkan soal Hilirisasi Nikel hingga Mitra Strategis

Menurut dia, perusahaan tambang nikel Vale SA, yang berpusat di Brasil, mengungkapkan permintaan global terhadap nikel akan meningkat 44% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tahun ini. Permintaan nikel diprediksikan mencapai 6,2 juta ton sering dengan transisi energi terbarukan yang semakin gencar. Selain nikel, permintaan terhadap tembaga sebagai bahan dalam pembuatan baterai kendaraan juga akan mengalami peningkatan sekitar 20% di tahun 2030 menjadi 37 juta ton.

Kenaikan harga komoditas komponen pembuatan baterai akibat melesatnya permintaan yang saat ini dikenal dengan greenflation dapat menekan margin profitabilitas perusahaan EV. Mengingat biaya baterai sendiri saat ini mencangkup 30% dari total biaya pembuatan EV. “Hal ini tentunya menjadi tantangan ke depan bagi perusahaan EV untuk menerapkan model bisnis yang efisien demi mengurangi tekanan biaya produksi,” paparnya.

Ratih menambahkan, beberapa emiten saat ini gencar melakukan diversifikasi bisnis energi terbarukan khususnya pada kendaraan listrik mengingat potensi bisnis pada segmen ini masih sangat besar. Misalnya, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) melalui anak usahanya PT WIKA Industri dan Konstruksi (WIKON) memiliki 10,63% saham produsen motor listrik Gesits yang telah menguasai 26% market share motor listrik di Indonesia.

Baca juga: Vale Indonesia (INCO) Sepakati Proyek Nikel US$ 2,1 Miliar dengan Shandong Xinhai dan Baowu Steel

Emiten lainnya yaitu PT Indika Energy Tbk (INDY) yang telah meluncurkan produk motor listrik bernama ALVA. Hal tersebut sejalan dengan komitmen INDY yang menargetkan pendapatan non batu bara sebesar 50% di tahun 2025.

Kemudian, PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS) yang berfokus pada produksi kendaraan listrik, seperti sepeda listrik dan motor listrik. Selain itu  PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) membentuk joint venture dengan SiCepat membentuk PT Volta Indonesia, mengembangkan produk motor listrik bernama Volta dengan target produksi 10 ribu unit motor listrik di tahun 2022.

“Secara teknikal kami melihat beberapa saham-saham diatas saat ini bergerak bullish dalam jangka pendek hingga menengahnya,” jelas Ratih.  

Baca juga: Masuk Ekosistem Kendaraan Listrik, Saham NICL Disebut Menuju Rp 200

Untuk itu, Ratih merekomendasikan beberapa emiten di sektor kendaraan listrik yang perlu dicermati oleh investor antara lain:  

SLIS

Buy di area Rp 304 dengan target harga pada resistance terdekat di level Rp 340 serta pertimbangkan cut loss apabila break support pada area MA-5 nya di level harga Rp 260.

Baca juga: Bakrie & Brothers (BNBR) Bikin Aliansi Strategis demi Ekosistem Kendaraan Listrik

INDY

Buy on Weakness di area Rp2.920 sampai Rp2.940, dengan target harga pada resistance terdekat di level Rp3.180 serta pertimbangkan cut loss jika break support di level harga Rp 2.850.

WIKA

Buy on Weakness di area Rp 1.050 sampai Rp 1.060, dengan target harga pada resistance terdekat di level Rp 1.140 serta pertimbangkan cut loss apabila break support di level harga Rp 1.025.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com