Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja IHSG akhir sesi II Jumat sore (13/11/2020). Sumber: BSTV

Kinerja IHSG akhir sesi II Jumat sore (13/11/2020). Sumber: BSTV

Ada 8 Saham Pilihan yang Bisa Dikoleksi Investor Bulan Ini

Sabtu, 14 November 2020 | 08:53 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Mirae Asset Sekuritas Indonesia merekomendasikan delapan saham emiten yang bisa dipilih investor pada bulan November ini, dengan tetap memperhatikan perkembangan ekonomi terkini dan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS).

Ke-8 saham semiten tersebut  adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Lainnya yaitu  PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

Menurut Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Hariyanto Wijaya, saham  Bank Mandiri, BRI, Antam, dan  Vale  merupakan  penghuni baru daftar stock picks Mirae Asset Sekuritas. Sedangkan empat  lainnya  adalah  saham  yang masih bertahan di jajaran stock picks Mirae Asset Sekuritas.

"Dengan demikian, ada empat saham yang keluar dari deretan delapan saham pilihan Mirae Asset, yaitu PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT United Tractors Tbk (UNTR)," ujar Hariyanto kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (13/11).

Hariyanto mengungkapkan, sentimen yang memengaruhi pemilihan delapan saham emiten tersebut berasal dari luar negeri. Hasil sementara pilpres AS dan munculnya kepastian dari para produsen vaksin bahwa vaksin corona bakal efektif melawan Covid-19 membuat pandangan pelaku pasar keuangan terhadap prospek ekonomi mulai positif.

Faktor lainnya adalah respons positif pasar terhadap perkembangan ekonomi terkini, terutama pada komoditas nikel dan minyak sawit mentah (CPO).

"Positifnya pandangan terhadap nikel dan CPO tertuang ke dalam saham-saham pilihan utama (stock picks) Mirae Asset untuk periode November 2020," tutur dia.

 

Pergerakan IHSG  (ytd).
Pergerakan IHSG (ytd).

Harga Komoditas

Menurut Hariyanto, kenaikan harga nikel akan didukung oleh beberapa faktor. Pertama adalah program one belt one road (OBOR) Tiongkok yang masih berjalan dan akan mendorong permintaan nikel.

Hal lainnya yaitu pengembangan kendaraan listrik yang dapat mengangkat minat terhadap nikel secara stabil. Terpilihnya Joe Biden sebagai presiden AS yang dikenal ramah lingkungan, juga diprediksi akan menentukan tren penguatan permintaan sekaligus harga nikel ke depan.

Harga komoditas lain yang diprediksi bakal meningkat adalah CPO. Harga komoditas andalan Indonesia itu akan diuntungkan karena dua faktor, yaitu La Nina yang sudah mulai terjadi dan diprediksi berlangsung setidaknya hingga Januari 2021.

"La Nina yang dapat memicu curah hujan tinggi akan menyulitkan pembuahan dan musim panen sawit, sehingga suplai akan turun dan harganya akan terdongkrak di pasaran," ujar dia.

Faktor lain yang memengaruhi harga CPO, kata Hariyanto Wijaya, adalah potensi melemahnya dolar AS. Pelemahan dolar AS akan dipicu melebarnya defisit fiskal AS dan membaiknya ekspektasi pelaku pasar keuangan global terhadap pemerintahan Biden yang tidak seagresif Donald Trump. Selain itu, di bawah kepemimpinan Biden, AS bakal menggelontorkan stimulus yang lebih besar untuk memerangi Covid.

Hariyanto mengungkapkan, tidak ada target harga secara spesifik dari saham-saham yang direkomendasikan tersebut. Namun dia meyakini, perkembangan delapan saham tersebut akan mengalahkan kinerja IHSG.

Pada penutupan perdagangan Jumat (13/11), IHSG naik tipis 2,45 poin (0,04%) ke level 5.461,05 setelah menguat 2,35% dalam sepekan terakhir. Selama tahun berjalan (ytd), koreksi IHSG terus menipis. Bersamaan dengan itu, aksi jual saham oleh investor asing juga menurun. IHSG terkoreksi 13,31% (ytd), sedangkan total net sell investor asing mencapai Rp 42,05 triliun (ytd).

IHSG sempat terjerembab ke level 3.937,63 pada 24 Maret 2020 yang merupakan level terendah tahun ini saat kasus penularan Covid-19 melonjak. IHSG kini menempati peringkat ke-3 indeks saham yang mengalami pelemahan paling dalam di Asia Pasifik.

 

Peringkat bursa saham Asia Pasifik (ytd).
Peringkat bursa saham Asia Pasifik (ytd).

 

Prediksi 2021

Tahun depan, kata Hariyanto Wijaya, IHSG diperkirakan masih bergerak positif. Penemuan vaksin Covid-19 dan pendistribusiannya secara merata menjadi faktor penentu pergerakan IHSG. "Tahun depan, IHSG diperkirakan positif dengan upsize sekitar 15% dari tahun ini," tutur dia.

Saham-saham properti, menurut dia, akan menjadi pilihan tahun depan seiring pulihnya industri properti yang ditopang oleh omnibus law. "Sinyal perbaikan tersebut mulai terlihat tahun ini dengan meningkatnya pre marketing sales untuk rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar," ujar dia.

Dia menambahkan, sektor konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), juga akan tetap menarik. Soalnya, bisnis utama Indofood CBP, yaitu mie instan, penjualannya tetap meningkat meskipun perekonomian sedang menurun. "Dengan menigkatnya saham ICBP, saham induk usahanya, yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), juga akan terdorong naik.

Hariyanto menjelaskan,  tahun depan sektor komoditas juga masih menarik seiring meningkatnya permintaan Tiongkok terhadap komoditas dan melemahnya nilai tukar dolar AS. Namun, kenaikan harga komoditas tidak terjadi pada minyak bumi karena Joe Biden sebagai presiden AS mengampanyekan energi hijau. "Biden menganggap minyak bumi termasuk dalam dirty energy," ucap dia.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN