Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Proyek Adhi Karya. Foto: RUHT SEMIONO

Proyek Adhi Karya. Foto: RUHT SEMIONO

Adhi Karya Melaju Berkat Jalan Tol

Sabtu, 5 Juni 2021 | 04:52 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) akan mendapatkan dukungan dari proyek pembangunan ruas tol Solo-Yogyakarta. Proyek tersebut diproyeksikan menjadi pendorong kinerja keuangan perseroan tahun ini. Terlebih, progres proyek tersebut berjalan dengan baik. Sedangkan masih tingginya beban bunga menjadi sentimen negatif bagi perseroan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, pengerjaan ruas tol Solo-Yogyakarta telah mulai berkontribusi terhadap kinerja keuangan Adhi Karya pada kuartal I-2021. Pengerjaan proyek yang dimenangi perseroan pada September 2020 tersebut dimulai sejak awal tahun ini.

“Perseroan mendapatkan tambahan pendapatan senilai Rp 547 miliar dari pengerjaan proyek tol tersebut atau setara dengan 26% dari total pendapatan perseroan pada kuartal I-2021,” tulis Maria dalam risetnya.

Dengan pengerjaan yang masih berjalan, peningkatan pendapatan dari proyek tersebut diperkirakan berlanjut dalam beberapa kuartal ke depan, sesuai dengan progress proyek tersebut.

“Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ADHI dengan target harga Rp 1.600,” jelas dia.

Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito
Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito

Selain sumbangan proyek tersebut, Adhi Karya mulai menunjukkan pemulihan marjin keuntungan yang naik menjadi 15,7% pada kuartal I-2021 dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 14,1%. Peningkatan tersebut didukung oleh proyek pembangunan ruas tol Solo-Yogyakarta-New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulonprogo.

Mengenai peningkatan utang perseroan, menurut Maria, tercatat sebesar Rp 9,8 triliun hingga akhir Maret 2021 atau sama dengan posisi akhir 2020 yang senilai Rp 9,8 triliun.

Total utang tersebut menggambarkan DER sekitar 1,78 kali dan ICR mencapai 1,36 kali. Sedangkan kas operasional perseroan negatif Rp 1,7 triliun. Posisi negatif tersebut dipegnaruhi oleh pendanaan pembangunan tol Solo-Yogyakarta.

Adhi Karya adalah pemegang 24% saham tol Solo-Yogyakarta atau merefleksikan Rp 23,2 miliar dari nilai ekutias. Perseroan melalui Perusahaan Air Indonesia Amerika (PAIA) juga tercatat sebagai pemegang 25% saham pengolahan air yang merefleksikan Rp 21,6 miliar nilai ekuitas hingga Maret 2021.

Harga saham ADHI satu dekade terakhir, prospek ADHI, dan kinerja keuangan Adhi Karya
Harga saham ADHI satu dekade terakhir, prospek ADHI, dan kinerja keuangan Adhi Karya

Meski utang masih tinggi, Adhi Karya disebut berniat untuk mendivestasi aset tahun ini, karena aset investasi ruas tol Solo-Yogyakarta masih dalam konstruksi. “Kami senang melihat kemajuan pengembangan tol Solo-Yogyakarta, baik dari sisi pembebasan lahan dan konstruksi. Kami memperkirakan proyek ini bisa menjadi penopang kinerja keuangan perseroan dalam beberapa kuartal mendatang,” sebut Maria.

Sebab itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan target laba bersih Adhi Karya tahun ini sebesar Rp 433 miliar, melonjak dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 24 miliar.

Pendapatan perseroan juga diperkirakan meningkat dari Rp 10,82 triliun menjadi Rp 13,99 triliun.

Di Bawah Ekspektasi

Adhi Karya. Foto: IST
Adhi Karya. Foto: IST

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael mengungkapkan, realisasi kinerja keuangan Adhi Karya pada kuartal I-2021 di bawah ekspektasi. Penurunan laba bersih dipengaruhi oleh tingginya beban keuangan, sehingga berimbas negatif bagi perseroan.

Adhi Karya membukukan penurunan laba bersih menjadi Rp 7 miliar pada kuartal I-2021 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 9 miliar. Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan pendapatan perseroan dari Rp 3,06 triliun menjadi Rp 2,11 triliun.

Realisasi kinerja keuangan tersebut juga menunjukkan penurunan dari pencapaian kuartal IV-2020. Perseroan menanggung beban bunga senilai Rp 173 miliar pada kuartal I-2021. Tingginya beban bunga ini berpotensi menekan pertumbuhan keun- tungan perseroan tahun ini.

Sedangkan perolehan kontrak baru mencapai Rp 2,2 triliun hingga akhir Maret 2021. Pencapaian itu setara dengan 10,2% dari target tahun ini Rp 21,6 triliun. Sebanyak 60% kontrak baru berasal dari pemerintah, sekitar 25% dari BUMN, dan sisanya kontrak baru dari perusahaan swasta.

Rendahnya realisasi kinerja keuangan tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk memangkas rekomendasi saham ADHI dari buy menjadi hold dengan target harga Rp 1.250. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PBV sekitar 0,8 kali tahun ini.

Sebelumnya, Adhi Karya menyatakan bahwa perseroan akan kembali mengusulkan penyertaan modal negara (PMN) pada 2022. Jika dikabulkan, perseroan berniat mencairkan PMN tersebut melalui skema penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue.

Salah satu kegiatan konstruksi Adhi Karya. Investor Daily/DAVID GITAROZA
Salah satu kegiatan konstruksi Adhi Karya. Investor Daily/DAVID GITAROZA

Direktur Utama Adhi Karya Entus Asnawi Mukhson mengatakan, terdapat sejumlah aksi penggalangan dana yang direncanakan perseroan dan anak usaha pada tahun ini dan tahun depan. Hal tersebut mengingat kebutuhan dana ekspansi yang cukup besar, termasuk untuk proyek pengembangan hunian di dekat stasiun light rail transit (LRT) Jabodebek.

“Kami berencana mendapat dukungan PMN yang dicairkan melalui rights issue pada 2022. Mudah-mudahan, hal ini bisa dipenuhi supaya saham pemerintah tidak terdilusi atau tetap sebesar 51%,” jelas dia, belum lama ini.

Adhi Karya sebenarnya sempat berharap menerima PMN senilai Rp 3 triliun untuk tahun anggaran 2021. Namun, pemerintah memutuskan hanya 9 BUMN yang menerima PMN senilai total Rp 42,38 triliun.

Tahun lalu, manajemen Adhi Karya pernah menyatakan butuh tambahan modal sekitar Rp 6 triliun untuk pengembangan sejumlah proyek infrastruktur.

Adapun upaya lain yang disiapkan Adhi Karya untuk mencari sumber pendanaan tahun ini adalah penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham anak usahanya, PT Adhi Commuter Properti (ACP).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN