Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk Indofood di pasaran.

Produk Indofood di pasaran.

Akselerasi Pertumbuhan Indofood Setelah Konsolidasi Pinehill

Rabu, 6 Januari 2021 | 04:46 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Konsolidasi Pinehill Company Ltd (PCL) oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) bakal berdampak pada percepatan pertumbuhan pendapatan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Namun, peningkatan beban bunga utang akibat pendanaan akuisisi Pinehill masih menjadi sentimen negatif terhadap pergerakan harga saham INDF.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, penjualan Indofood CBP diperkirakan meningkat, sehingga bisa menjadikan kinerja keuangan Indofood Sukses Makmur lebih baik pada 2020 dan 2021 dibandingkan perkiraan semula.

“Kami merevisi naik target kinerja keuangan Indofood tahun 2020 dan 2021, karena ditopang oleh konsolidasi Pinehill,” tulis dia dalam risetnya.

Sebelumnya, Indofood Sukses Makmur melalui anak usahanya, Indofood CBP, menuntaskan akuisisi mayoritas saham Pinehill Company. Pinehill adalah perusahaan yang memiliki 12 fasilitas produksi mi instan dengan kapasitas produksi lebih dari 10 miliar bungkus mi instan, yang berlokasi di delapan negara dengan total populasi penduduk 550 juta orang.

Pinehill juga memiliki jaringan distribusi di 33 negara yang memiliki total populasi 885 juta orang. Namun, peningkatan jumlah utang untuk mendanai akuisisi Pinehill menjadi faktor utama penekan pertumbuhan keuntungan perseroan tahun 2020 dan 2021.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target pendapatan Indofood Sukses Makmur dari Rp 78,68 triliun menjadi Rp 80,91 triliun. Perkiraan laba bersih diturunkan 3,2% dari Rp 5,42 triliun menjadi Rp 5,24 triliun akibat peningkatan beban bunga.

Produk Indofood. Foto: DEFRIZAL
Produk Indofood. Foto: DEFRIZAL

Adapun perkiraan pendapatan perseroan tahun 2021 direvisi naik dari Rp 84,06 triliun menjadi Rp 91,86 triliun.

Begitu juga dengan perkiraan laba bersih direvisi naik dari Rp 5,66 triliun menjadi Rp 5,73 triliun. Revisi naik tersebut juga ditopang oleh kenaikan rata-rata harga jual beberapa produk perseroan dan perkiraan penurunan beban bunga.

Seperti diketahui, pendapatan dan laba bersih perseroan tahun 2019 masingmasing Rp 76,59 triliun dan Rp 4,9 triliun.

Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas justru memangkas target harga saham INDF dari Rp 9.000 menjadi Rp 8.100. Revisi turun target harga tersebut menggambarkan peningkatan beban bunga dan mulai diberlakukannya pungutan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang bisa menekan tingkat margin keuntungan perseroan.

Kedua faktor tersebut juga diperkirakan bisa berimbas terhadap pergerakan harga saham INDF.

Sementara itu, analis CGSCIMB Sekuritas Indonesia Marcella Regina dan Patricia Gabriela mengungkapkan, kenaikan harga jual komoditas CPO mengangkat prospek kinerja keuangan Indofood Sukses Makmur pada 2020. Dampak positif segmen agribisnis tersebut sudah mulai terlihat dari realisasi kinerja keuangan perseroan hingga kuartal III- 2020.

Perseroan mencatat kenaikan harga jual CPO sebesar 33% pada kuartal III-2020. Adapun selama Januari-September 2020, kenaikan harga jual CPO perseroan mencapai 26% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Namun, volume produksi dan penjualan CPO perseroan justru turun pada periode tersebut akibat penurunan panen tandan buah segar (TBS) perseroan.

Penurunan juga dipengaruhi oleh pengurangan kegiatan pemupukan akibat pengurangan jumlah pekerja yang masuk selama pandemi Covid-19.

“Kami memperkirakan volume produksi TBS dan CPO Indofood kembali naik pada kuartal terakhir 2020. Peningkatan volume bersamaan dengan berlanjutnya kenaikan harga jual CPO diharapkan menaikkan kontribusi bisnis perkebunan kelapa sawit terhadap kinerja keuangan Indofood sepanjang 2020,” tulis Marcella dan Patricia dalam risetnya.

Salah satu kegiatan di pabrik Indofood. Foto: dok.
Salah satu kegiatan di pabrik Indofood. Foto: dok.

Meski demikian, volume produksi TBS dan produksi CPO perseroan sepanjang 2020 diproyeksi di bawah target. Hal itu dipicu oleh pandemi Covid- 19 dan kondisi cuaca yang berimbas terhadap produksi.

Hal ini mendorong CGS-CIMB Sekuritas memangkas turun target kinerja keuangan Indofood Sukses Makmur.

Adapun perkiraan pendapatan tahun 2020 dipangkas dari Rp 83,35 triliun menjadi Rp 79,09 triliun. Laba bersih direvisi turun dari Rp 6,03 triliun menjadi Rp 5,96 triliun.

Begitu juga perkiraan penjualan perseroan tahun 2021 direvisi turun dari Rp 95,09 triliun menjadi Rp 85,7 triliun. Perkiraan laba bersih dipangkas dari Rp 6,87 triliun menjadi Rp 6,59 triliun.

Selanjutnya, perkiraan pendapatan perseroan tahun 2022 direvisi turun dari Rp 100,85 triliun menjadi Rp 90,63 triliun. Estimasi laba bersih dipangkas dari Rp 7,33 triliun menjadi Rp 7,16 triliun.

Berbagai faktor tersebut mendorong CGS-CIMB Sekuritas mempertahankan rekomendasi add saham INDF dengan target harga direvisi turun dari Rp 8.600 menjadi Rp 8.400. Target harga tersebut didukung oleh katalis positif tren penguatan harga jual CPO.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN