Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Mandiri. Foto: Investor Daily/DAVID

Bank Mandiri. Foto: Investor Daily/DAVID

Bank Mandiri Bertumbuh Sesuai Target

Parluhutan Situmorang, Rabu, 6 November 2019 | 00:24 WIB

JAKARTA, investor.id - Realisasi pertumbuhan kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) hingga kuartal III-2019 telah sesuai dengan estimasi sejumlah analis. Namun pertumbuhan keuntungan sampai akhir tahun kemungkinan di bawah perkiraan semula akibat keputusan manajemen perseroan untuk memangkas target pertumbuhan kredit tahun ini.

Bank Mandiri sampai dengan kuartal III- 2019 membukukan laba bersih konsolidasian mencapai Rp 20,3 triliun, meningkat 11,9% secara tahunan (year on year/yoy). Hingga akhir tahun ini perseroan akan menjaga pertumbuhan laba dua digit.

Pertumbuhan laba didukung atas pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perseroan menjadi sebesar Rp 45,32 triliun, tumbuh 6,45% (yoy). Cost of credit kuartal III-2019 mencapai 1,48%, turun 26 bps dari 1,74% pada tahun lalu. Sedangkan target CoC direvisi turun dari semula 1,6-1,8% menjadi 1,5-1,7%.

Namun, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada kuartal III-2019 berada di posisi 5,58%, turun 8 basis poin (bps) dari 5,66%. Penurunan NIM sebesar 8 bps menjadi 5,58% sebagai dampak dari pergeseran portofolio kredit dari segmen kredit berportofolio risiko tinggi ke risiko rendah.

Sedangkan penyaluran kredit perseroan sampai akhir September 2019 mencapai Rp 841,9 triliun, tumbuh 7,8% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu Rp 781,1 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut didorong dari kredit korporasi yang tercatat tumbuh 7,37% (yoy) menjadi Rp 327,7 triliun dan kredit konsumer tumbuh 4,12% (yoy) menjadi Rp 88,5 triliun.

Kredit mikro naik pesat hingga 19,38% dari Rp 97,5 triliun menjadi Rp 116,4 triliun per September 2019. Sedangkan kredit komersial turun 2,75% (yoy) menjadi Rp 138 triliun. Sampai dengan akhir tahun ini perseroan menargetkan kredit hanya tumbuh 8-9% (yoy). Lebih rendah dari target awal yang sebesar 10-12% (yoy).

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Yung Jun mengatakan, perolehan laba bersih tersebut sudah sesuai dengan harapan Mirae Asset Sekuritas dan konsensus analis.

“Realisasi tersebut setara dengan 72,4% dari estimasi kami terhadap target laba bersih perseroan tahun ini. Perolehan tersebut juga telah sesuai dengan 73,2% dari perkiraan laba bersih tahun ini dari konsensus analis,” ujarnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Tingkat pertumbuhan yang baik didorong atas keberhasilan perseroan dalam stabilnya pendapatan operasi dan berjalannya efisiensi perseroan. Hal ini ditunjukkan atas kenaikan pendapatan operasional sebesar 10,9% didukung atas peningkatan fee-based income.

Sedangkan biaya pendapatan (cost to income) turun 2,7% menjadi 43,9%. Terkait dengan perkiraan hingga akhir tahun, dia mengatakan, pertumbuhan kredit perseroan kemungkinan hanya mencapai 8,1% atau di bawah harapan semula sekitaar 11,4%. Penurunan target tersebut didasarkan atas pengetatan kredit korporasi yang telah berimbas terhadap pertumbuhan kredit perseroan hingga kuartal III-2019 hanya 7,8%.

Terkait penurunan tingkat suku bunga perbankan, dia mengatakan, diharapkan berimbas positif terhadap perseroan. Pemangkasan tersebut akan berdampak terhadap kenaikan margin bunga bersih (NIM) dalam beberapa kuartal ke depan. Namun demikian, perseroan diperkirakan akan terus menaikkan jumlah provisi sebagai antisipasi atas penerapan IFRS9.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi trading buy saham BMRI dengan target harga Rp 8.200. Target harga tersebut juga sudah mempertimbangkan pemangkasan target kinerja keuangan perseroan tahun 2019-2020.

Sementara itu, analis CGS CIMB Sekuritas Indonesia Leonardo Tukiman dan Erwan Teguh menjelaskan, stabilnya pertumbuhan kredit bersamaan dengan biaya provisi yang rendah mendorong tingkat pertumbuhan laba bersih Bank Mandiri hingga kuartal III-2019 sesuai dengan ekspektasi.

Pertumbuhan laba bersih juga didukung atas kuatnya pertumbuhan PPOP perseroan berkisar 10% dan pendapatan bunga (NII) naik tinggi 14%. Sedangkan provisi turun 6% dan biaya kredit turun dari 2% menjadi 1,69%.

“Realisasi laba bersih tersebut setara dengan 71% dari estimasi kami dan 74% dari proyeksi konsensus analis. Perolehan tersebut sudah sesuai dengan harapan kami dan consensus analis,” ujarnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

CGS CIMB Sekuritas menyebutkan peningkatan laba bersih didukung atas keberhasilan perseroan mendongkrak pendapatan bunga dan kenaikan laba operasional sebelum provisi (PPOP) sebesar 10%. Kenaikan laba juga dipengaruhi atas penurunan biaya provisi sebesar 6%, begitu juga dengan credit cost membaik menjadi 1,69% hingga kuartal III-2019, dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 2%.

Bahkan, perseroan merevisi turun perkiraan credit cost perseroan tahun ini menjadi 1,5-1,7%, dibandingkan perkiraan tahun lalu sekitar 1,6-1,8%.

Hal ini mendorong CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga Rp 8.800. Target harga tersebut telah mempertimbangkan solidnya kinerja keuangan perseroan tahun ini dan ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan.

Revisi Turun

Salah satu kantor cabang Bank Mandiri. Foto: IST
Salah satu kantor cabang Bank Mandiri. Foto: IST

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas merevisi turun target laba bersih perseroan tahun ini berkisar 4% dan sebesar 9% tahun 2020. Pemangkasan target tersebut sejalan dengan penurunan asumsi pertumbuhan kredit perseroan tahun 2019 dan 2020.

Revisi turun perkiraan laba bersih juga dilakukan CIMB Sekuritas. Perusahaan sekuritas tersebut merevisi turun target laba bersih perseroan tahun 2019-2021 berkisar 2-3%.

“Pemangkasan target laba bersih dipengaruhi atas revisi turun manajemen perseroan terkait asumsi pertumbuhan kredit perseroan tahun ini dari kisaran 10-12% menjadi 8-10%,” terangnya.

CIMB Sekuritas merevisi turun target laba bersih perseroan menjadi Rp 27,87 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan semula senilai Rp 28,46 triliun. Begitu juga dengan estimasi laba bersih Bank Mandiri tahun 2020 direvisi turun dari semula Rp 32,73 triliun menjadi Rp 31,71 triliun.

Sedangkan proyeksi laba bersih perseroan tahun 2022 dipangkas menjadi Rp 37,41 triiliun, dibandingkan proyeksi semula Rp 38,37 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA