Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas menghitung uang di kantor Bank Mandiri, di Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petugas menghitung uang di kantor Bank Mandiri, di Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bank Mandiri Tunjukkan Perbaikan Kualitas Aset

Kamis, 6 Mei 2021 | 04:35 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menunjukkan perbaikan kualitas aset pada kuartal I-2021 yang diharapkan berdampak positif terhadap pertumbuhan laba tahun ini. Sementara itu, di tengah pemulihan ekonomi nasional, biaya dana dan kredit perseroan lebih rendah.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, berdasarkan rilis laporan keuangan Bank Mandiri pada kuartal I-2021 diperoleh sejumlah perbaikan data, salah satunya tren perbaikan kualitas aset. Berdasarkan data, 66% dari total kredit yang direstrukturisasi masuk dalam kategori risiko rendah.

Perbaikan kualitas aset tersebut, menurut dia, diharapkan membuat rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) kotor perseroan bisa turun menjadi 2,8% tahun ini dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 3,1%.

“Kami memperkirakan kualitas aset perseroan tetap terjaga dengan baik dengan tren perbaikan. Sementara, biaya kredit diperkirakan tetap terkendali dengan baik pada kisaran 1,9- 2,4% tahun ini,” tulis Eka dalam risetnya.

Plaza Mandiri di Jakarta. Foto: Bank Mandiri
Plaza Mandiri di Jakarta. Foto: Bank Mandiri

Selain perbaikan kualitas aset, Bank Mandiri menunjukkan peningkatan marjin bunga bersih (net interest margin/ NIM) menjadi 5,1% pada kuartal I-2021. Peningkatan didukung oleh penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) setelah manajemen secara agresif memangkas bunga simpanan di tengah besarnya likuiditas.

Perseroan juga masih memiliki ruang yang memadai untuk kembali memangkas biaya dana.

Perseroan juga mampu menjaga biaya kredit (credit cost) mencapai 230 bps sepanjang kuartal I-2021. Hal ini membuat NIM perseroan mengalami peningkatan menjadi 5,1%.

“Dengan perbaikan sejumlah indikator yang berdampak pada laba bersih perseroan mencapai Rp 5,9 triliun pada kuartal I-2021, kami menilai bahwa pencapaian tersebut sudah sesuai dengan harapan kami dan konsensus analis,” ungkap Eka.

Pada kuartal I-2021, Bank Mandiri membukukan penurunan laba bersih menjadi Rp 5,91 triliun dibandingkan kuartal I-2020 yang senilai Rp 7,91 triliun. Namun, perolehan tersebut melonjak 91,5% dibandingkan kuartal IV-2020 yang sebesar Rp 3,09 triliun.

Harga saham BMRI dalam satu dekade terakhir, prospek BMRI, dan kinerja keuangan Bank Mandiri
Harga saham BMRI dalam satu dekade terakhir, prospek BMRI, dan kinerja keuangan Bank Mandiri

Adapun laba operasional sebelum provisi (PPOP) naik 2,8% dari Rp 13,24 triliun menjadi Rp 13,61 triliun. PPOP tersebut menunjukkan peningkatan 22,3% dibandingkan kuartal IV- 2020 senilai Rp 11,13 triliun.

Dengan perbaikan sejumlah indikator tersebut, Eka memproyeksikan kenaikan laba bersih Bank Mandiri menjadi Rp 21,96 triliun tahun ini dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp 17,11 triliun.

PPOP perseroan juga diharapkan meningkat dari Rp 46,07 triliun menjadi Rp 51,91 triliun. Target PPOP tersebut jauh di atas realisasi tahun 2019 yang sebanyak Rp 48,52 triliun.

Dia juga memberikan pandangan positif terkait rencana Bank Mandiri untuk meluncurkan super aplikasi pada kuartal akhir tahun ini. Manajemen perseroan membidik 25 juta nasabah sebagai target awal super aplikasi tersebut. Kehadiran super aplikasi ini berpotensi mendukung pertumbuhan CASA ritel dan pendapatan di luar bunga.

Karena itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga Rp 8.000. Target harga tersebut juga mengimplikasikan perkiraan PBV tahun ini sekitar 1,9 kali.

Sejumlah nasabah menarik uang di ATM Bank Mandiri di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan
Sejumlah nasabah menarik uang di ATM Bank Mandiri di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo, Hariyanto Wijaya, dan Rizkia Darmawan mengungkapkan, Bank Mandiri telah menunjukkan perbaikansecara bertahap yang menjadikan saham perseroan layak direkomendasikan beli dengan target harga Rp 8.230.

“Realisasi kinerja keuangan Bank Mandiri pada kuartal I-2021 sesuai perkiraan kami dan konsensus analis. Sedangkan berlanjutnya nilai provisi yang besar hingga tahun ini akan menjadi faktor utama penekan pertumbuhan keuntungan perseroan,” tulis Handiman, Hariyanto, dan Rizkia dalam risetnya.

Secara operasional, mereka menyebutkan bahwa Bank Mandiri telah menunjukkan sejumlah perkembangan positif, seperti kuatnya pertumbuhan kredit mencapai 8,1% pada kuartal I-2021, yang didukung oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Pertumbuhan kredit terjadi di semua sektor, seperti kredit korporasi, UKM dan konsumer.

Nasabah sedang menrik uang di ATM Bank Mandiri di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR
Nasabah sedang menrik uang di ATM Bank Mandiri di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Perseroan juga menunjukkan lonjakan simpanan sebesar 25,5% pada kuartal I-2021 dibandingkan periode sama tahun lalu. Raihan tersebut menunjukkan pertumbuhan 12,8% dibandingkan kuartal IV- 2020.

Lonjakan tersebut juga didukung oleh Bank Syariah Indonesia atau BSI. Sedangkan NPL kotor perseroan naik menjadi 3,15% pada kuartal I-2021 dibandingkan kuartal IV-2020 yang sekitar 3,09%. Perseroan juga diproyeksikan mampu untuk menurunkan risiko restrukturisasi utang akibat Covid-19, seiring dengan membaiknya perekonomian nasional.

Adapun laba bersih Bank Mandiri tahun ini diproyeksikan meningkat menjadi Rp 24,85 triliun dibandingkan tahun lalu Rp 17,11 triliun.

Laba operasi sebelum provisi juga diproyeksikan bertumbuh dari Rp 45,75 triliun menjadi Rp 48,62 triliun.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN