Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST). Foto: DEFRIZAL

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST). Foto: DEFRIZAL

Bekasi Fajar dan Optimisme Penjualan Lahan Industri

Parluhutan Situmorang, Kamis, 19 Maret 2020 | 05:43 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) diperkirakan mampu mencetak pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini. Hal ini didukung oleh besarnya permintaan lahan industri yang sudah diterima perseroan hingga akhir tahun lalu.

Permintaan lahan industri yang diterima perseroan mencapai 60 hektare (ha). Sedangkan penjualan marketing lahan industri perseroan hingga akhir tahun lalu telah mencapai 34 ha. Penjualan tersebut bisa menjadi pendukung pertumbuhan kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Analis Danareksa Sekuritas Victor Stefano dalam risetnya, mengungkapkan, Bekasi Fajar diperkirakan mampu untuk merealisasikan penjualan marketing tersebut menjadi penjualan lahan industri seluas 29 ha tahun ini dibandingkan pencapaian tahun lalu sebanyak 23 ha. Target tersebut sama dengan pencapaian perseroan tahun lalu sebanyak 29 ha.

Dengan target lahan terjual tersebut, Bekasi Fajar berpotensi mencetak kenaikan laba bersih menjadi Rp 477 miliar tahun ini dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai Rp 380 miliar. Pendapatan juga diproyeksikan bertumbuh dari Rp 951 miliar menjadi Rp 1,01 triliun.

Optimisme peningkatan penjualan lahan industry tersebut, menurut dia, akan berdampak pada laba perseroan. Hal ini juga bakal ditopang oleh peningkatan margin keuntungan, karena penyumbang utama perseroan diperkirakan semuanya berasal dari penjualan lahan industry atau tidak ada lagi penjualan aset tanah seperti tahun lalu.

bekasi fajar
Bekasi Fajar. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Margin keuntungan bersih perseroan diperkirakan meningkat menjadi 47% tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 40%. Meski penjualan lahan industri diperkirakan tumbuh, Danareksa Sekuritas merevisi turun target nilai aset bersih (NAV) Bekasi Fajar menjadi Rp 1.268 per saham. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh perkiraan penurunan rata-rata harga jual lahan industri dari Rp 2,9 juta per meter persegi menjadi Rp 2,75 juta per meter persegi.

Penurunan perkiraan NAV juga dipengaruhi atas perkiraan penurunan penjualan marketing (marketing sales) lahan industri perseroan tahun ini kemungkinan hanya 16 hektare tahun ini. NAV tersebut didukung atas besarnya cadangan lahan (landbank) perseroan mencapai 700 ha hingga akhir 2019.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BEST dengan target harga direvisi turun dari Rp 350 menjadi Rp 230 per saham. Penurunan target harga saham tersebut mempertimbangkan revisi turun perkiraan NAV perseroan dari Rp 1.486 menjadi Rp 1.268.

Sementara itu, Sinarmas Sekuritas menyebutkan bahwa kawasan industry MM2100 masih menjadi pilihan utama untuk kawasan industri di Jabodetabek. “Meski menjadi pilihan utama, harga jual lahan industri yang sudah mahal dan terbatasnya ketersediaan lahan akan menjadi tantangan bagi perseroan,” tulis tim riset Sinarmas Sekuritas.

Sinarmas Sekuritas juga menyebutkan bahwa Bekasi Fajar sedang mengalami kendala untuk mewujudkan permintaan kawasan industri menjadi penjualan lahan industri. Berdasarkan data, pereroan telah menerima kebutuhan (inquiry) lahan industry dari sejumlah perusahaan hingga 96 hektare, namun angka tersebut belum bisa direalisasikan sebagai penjualan lahan bagi perseroan.

“Mewujudkan kebutuhan lahan industri yang besar menjadi penjualan lahan industri sulit bagi perseroan dalam beberapa kuartal terakhir. Hal tersebut menjadi kendala bagi perseroan untuk mendongkrak pertumbuhan kinerja keuangan ke depan,” jelas perusahaan efek tersebut.

Tahun ini, Sinarmas Sekuritas menyebutkan, Bekasi Fajar mampu untuk membukukan penjualan lahan industry seluas 17,5-25 ha. Sedangkan rata-rata harga jual cenderung turun dengan perkiraan Rp 2,8-2,9 juta per meter persegi.

Terkait pendapatan berulang (recurring incomes), Sinarmas Sekuritas menyebutkan bahwa Bekasi Fajar masih berupaya untuk mengembangkannya. Beberapa bisnis memang telah dibangun, namun belum menunjukkan hasil optimal, seperti hotel perseroan dengan tingkat okupansi masih rendah berkisar 48%.

“Kami melihat perseroan masih berupaya untuk menaikan pendapatan berulang dari bisnis investasi property dengan penambahan sejumlah portofolio. Apabila hal ini bisa berjalan dengan baik, kinerja keuangan diharapkan berimbas positif terhadap kinerja perseroan,” jelas Sinarmas Sekuritas.

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas memperkirakan penurunan laba bersih Bekasi Fajar menjadi Rp 273 miliar dan pendapatan juga diperkirakan turun menjadi Rp 798 miliar.

Meski demikian, Sinarmas Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi add saham BEST dengan target harga Rp 240 per saham.

Lampaui Konsensus

Victor Stefano menyebutkan, penurunan laba bersih Bekasi Fajar tahun lalu sejalan dengan penurunan luas lahan yang dijual perseroan tahun 2019 menjadi 23 ha dibandingkan tahun 2018 mencapai 29 ha.

“Realisasi laba bersih tersebut hanya merefleksikan 86% dari target kami, namun pencapaian tersebut telah melampaui konsensus analis atau setara dengan 105%,” tulisnya.

Bekasi Fajar membukukan penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 10,04% menjadi Rp 380,17 miliar hingga akhir 2019 dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 422,61 miliar.

Penurunan laba dipengaruhi oleh pelemahan pendapatan sebesar 1,27% menjadi Rp 950,54 miliar dari sebelumnya Rp 962,80 miliar. Penurunan laba juga dipengaruhi oleh peningkatan beban pokok pendapatan sekitar 16,80% dari Rp 271,64 miliar menjadi Rp 317,30 miliar. Kenaikan tersebut berimbas terhadap penurunan laba bruto perseroan di tahun 2019 menjadi Rp 633,25 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 691,16 miliar.

Penurunan laba bersih memicu pelemahan laba per saham dasar menjadi Rp 39,41 per saham di tahun 2019 dari periode sama tahun sebelumnya sebear Rp 43,81 per saham.

Adapun total aset perseroan disepanjang tahun 2019 meningkat 1,74% menjadi Rp 6,4 triliun, dibandingkan dengan tahun lalu yang memperoleh Rp 6,29 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN