Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BNI. Foto: Investor Daily/DAVID

Bank BNI. Foto: Investor Daily/DAVID

BNI Menjanjikan Tahun Depan

Jumat, 16 Oktober 2020 | 04:28 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Kinerja keuangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI diproyeksi membaik pada 2021. Sedangkan tahun ini diperkirakan masih tertekan akibat pandemi Covid-19 yang berimbas terhadap perlambatan pertumbuhan kredit, kenaikan biaya kredit, peningkatan restrukturisasi kredit, dan rendahnya margin keuntungan.

Analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, BNI membukukan penurunan laba bersih dari bank saja sebesar 49,8% menjadi Rp 4,4 triliun hingga akhir Agustus 2020.

Pencapaian tersebut seiring pertumbuhan kredit sebesar 4,4%, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sebesar 4,3%, dan biaya kredityang mencapai 295 basis poin.

Sedangkan likuiditas perseroan mencapai 75%, yang didukung oleh peningkatan jumlah nasabah sebesar 25,4% hingga Agustus 2020.

“Kami mempertahankan perkiraan laba bersih BNI senilai Rp 2,1 triliun tahun ini, karena ditopang oleh strategi bisnis baru dari jajaran direksi baru perseroan,” tulis Eka dalam risetnya.

Pegawai sedang membantu nasabah untuk melakukan aktivasi BNI Mobile Banking di Kantor Cabang BNI Hong Kong.
Pegawai sedang membantu nasabah untuk melakukan aktivasi BNI Mobile Banking di Kantor Cabang BNI Hong Kong.

Menurut dia, berdasarkan hasil analisis sensitivitas, setiap kenaikan biaya kredit 10 bps akan menurunkan laba bersih BNI sebesar 2,8%.

Sebab itu, Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 7.000. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PBV tahun 2021 sekitar 1,1 kali.

Terkait proyeksi kinerja, jajaran direksi baru diharapkan memiliki agenda untuk mengkaji ulang portofolio seluruh kredit.

Berdasarkan data perseroan, terdapat total kredit yang telah direstrukturisasi sebesar Rp 100 triliun hingga Juni 2020 yang sebagian besar atau mencapai 42,5% merupakan kredit korporasi.

Eka memperkirakan lonjakan laba bersih BNI terealisasi tahun depan dengan harapan tumbuh 474% menjadi Rp 11,9 triliun. Lonjakan tersebut akan didukung oleh peningkatan NIM dan penurunan biaya kredit. Pertumbuhan kredit perseroan juga diharapkan mencapai 4,7%, seiring pemulihan ekonomi.

Dia juga memperkirakan bahwa biaya kredit perseroan akan turun ke level 204 basis poin dengan asumsi rasio NPL mencapai 3,7% hingga Desember 2021, rasio LLC diharapkan berada di level 215,2% sampai akhir 2021.

Adapun laba bersih BNI tahun depan diproyeksi meningkat menjadi Rp 11,92 triliun dibandingkan tahun ini yang diprediksi sebesar Rp 2,07 triliun dan realisasi tahun 2019 yang senilai Rp 15,38 triliun.

Laba operasional sebelum provisi juga diharapkan mencapai Rp 26,82 triliun pada 2021dibandingkan ekspektasi tahun 2020 senilai Rp 22,43 triliun dan realisasi tahun 2019 senilai Rp 28,32 triliun.

Nasabah melakukan transaksi di anjungan tunai mandiri (ATM) Bank BNI di Tomang, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah melakukan transaksi di anjungan tunai mandiri (ATM) Bank BNI di Tomang, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengungkapkan, sektor perbankan menghadapi perlambatan pertumbuhan kredit bersamaan dengan peningkatan likuiditas. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit perbankan hanya tumbuh 0,6% pada Agustus, namun pertumbuhan DPK mencapai 10,9%. Hal ini membuat likuiditas perbankan meningkat pesat. LDR perbankan per Agustus 2020 mencapai 85% dibandingkan Juli 2020 sebesar 88%.

Namun, besarnya restrukturisasi kredit akibat pandemic membuat perbankan berhatihati dalam menyalurkan kredit. Berdasarakan data, total kredit perbankan hingga Agustus 2020 mencapai Rp 863,6 triliun atau sekitar 16% dari total kredit perbankan.

Sebagai catatan, pertumbuhan positif kredit dan DPK didominasi oleh bank-bank BUKU 4 dan BUKU 2.

“Terjadi ketimpangan pertumbuhan DPK perbankan saat ini, karena semakin banyak DPK berpindah ke bank BUKU 4. Hal ini terlihat dari DPK bank BUKU 4 yang tumbuh 16,8% pada Juli, sedangkan bank BUKU 1 justru turun hingga 45,3%. Di sisi lain, bank BUKU 2 masih tumbuh 3,4%, walau lebih rendah dari periode Juni 2020 yang mencapai 4,7% atau Januari dengan pertumbuhan 11,4%.

Sedangkan bank BUKU 3 mencatatkan DPK negatif sebesar -3,5% pada Juli,” tulis Suria dalam risetnya.

Adapun laba bersih empat bank besar di Indonesiatercatat turun dengan ratarata 26,8% menjadi Rp 48,3 triliun hingga Agustus 2020 dibandingkan semester I-2020 dengan penurunan mencapai 25,9% menjadi Rp 37,2 triliun.

Penurunan terbesar laba bersihempat bank besar tersebut terjadi pada kuartal II tahun ini dengan penurunan mencapai 58,3% menjadi Rp 10,3 triliun.

“Kami memperkirakan tren penurunan laba bersih bank besar tersebut akan berlanjut hingga kuartal III-2020 deganperkiraan pelemahan 38,1%, na- mun sudah mulai terlihat tren perbaikan di beberapa bank,” ungkap dia.

Terkait kinerja BNI, laba bersihnya diperkirakan turun 49,8% menjadi Rp 4,36 triliun hingga kuartal III-2020. Perseroan diperkirakan mencetak laba bersih senilai Rp 6,73 triliun tahun ini dibandingkan pencapaian tahun lalu senilai Rp 15,38 triliun.

Meski demikian, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 6.000.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN