Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu gerai ATM BRI. Foto: DAVID

Salah satu gerai ATM BRI. Foto: DAVID

BRI dan Upaya Mewujudkan Raksasa Pembiayaan UMKM

Rabu, 18 November 2020 | 04:32 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Rencana pemerintah menciptakan raksasa pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi angin segar bagi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI. Sedangkan mulai pulihnya kinerja keuangan perseroan dari terpaan pandemi Covid-19 bakal menjadi sentimen positif terhadap pergerakan harga saham BBRI dalam beberapa bulan ke depan.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengungkapkan, pemerintah sedang mematangkan skema dalam menciptakan raksasa pembiayaanUMKM yang diharapkan berdampak positif terhadap BRI.

Dalam skema ini, BRI kemungkinan mengakuisisi PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) akhir tahun ini.

“Apabila direalisasikan, kami memperkirakan terjadi sinergi saling menguntungkan antar tiga BUMN tersebut. Berdasarkan laporan kinerja keuangan 2019, laba bersih Pegadaian dan PNM setara dengan 12% laba bersih BRI,” tulis Suria dalam risetnya.

Adapun berdasarkan laporan keuangan hingga kuartal III- 2020, total laba bersih Pegadaian dan PNM setara dengan 14% laba bersih BRI. Begitu juga dengan gabungan aset Pegadaian dan PNM setara dengan Rp 97,3 triliun atau 7% dari total aset BRI. Sedangkan ekuitas dua BUMN tersebut setara dengan 14,6% ekuitas BRI.

Terbukanya sinergi BRI dengan Pegadaian dan PNM untuk menciptakan raksasa pembiayaan UMKM mendorong Samuel Sekuritas Indonesia untuk merevisi naik rekomendasi saham BBRI dari hold menjadi buy dengan target harga dinaikkan dari Rp 3.000 menjadi Rp 4.800.

Nasabah Bank BRI membuka rekening menggunakan pemindai QR code, di Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (9/11/2020). Foto:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah Bank BRI membuka rekening menggunakan pemindai QR code, di Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (9/11/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Young Jun mengungkapkan, BRI telah menunjukkan pemulihan yang baik pada kuartal III-2020 dan diharapkan berlanjut hingga tahun depan.

Pemulihan terlihat dari lonjakan laba bersih perseroan sebesar 94,6% pada kuartal III-2020 dibandingkan kuartal II-2020. Lonjakan laba tersebut juga didukung oleh normalisas pajak. Sedangkan pertumbuhan kredit hanya mencapai 2,4% dan simpanan sebesar 16,3% pada kuartal III-2020. “Melihat angka tersebut, kami memperkirakan pertumbuhan kredit perseroan kemungkinan bertahan di bawah level 3% hingga akhir tahun ini. Perseroan juga akan mengoptimalkan likuiditas seperti yang disebutkan manajemen,” jelas dia.

Terkait margin bunga bersih (net interest margin/NIM), BRI kemungkinan melanjutkan peningkatan pada kuartal terakhir tahun ini setelah restrukturisasi pinjaman nasabah terus menurun hingga Oktober 2020. NIM dan biaya kredit perseroan hingga akhir tahun ini diperkirakan lebih baik dibandingkan estimasi semula. Hal ini sejalan dengan rendahnya jumlah kredit yang direstrukturisasi.

Sebab itu, Young Jun mempertahankan proyeksi penurunan laba bersih BRI menjadi Rp 18,3 triliun pada 2020. Tahun depan diharapkan naik menjadi Rp 22,21 triliun dibandingkan perolehan 2019 senilai Rp 34,37 triliun. Laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) juga diperkirakan turun menjadi Rp 55,63 triliun tahun ini dan menjadi Rp 55,92 triliun pada 2021, dibandingkan realisasi 2019 senilai Rp 65,55 triliun.

Capai Target

Bank BRI. Foto: DAVID
Bank BRI. Foto: DAVID

Mengenai kinerja keuangan BRI hingga kuartal III-2020, Suria Dharma menyebutkan bahwa perseroan menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan kredit mencapai 4,9% dan DPK tumbuh 18% dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal ini menjadikan CASA perseroan naik menjadi 59%, likuiditas sangat baik, dan LDR berada di level 82,6%.

Perseroan juga menunjukkan penurunan jumlah kredit yang direstrukturisasi hingga September 2020 yang mencapai 27,2% dari total kredit. Bila kredit yang direstrukturisasiakibat pandemi Covid-19 dikeluarkan, total restrukturisasi perseroan hanya 5,1%.

“Sebanyak 97,5% dari total kredit yang direstrukturisasi menunjukkan pembayaran kembali lancar,”jelas dia.

Suria menyebutkan bahwa laba bersih BRI senilai Rp 14,15 triliun hingga kuartal III-2020 setara dengan 73% dari target. Sedangkan pendapatan bunga senilai Rp 85,85 triliun merefleksikan 77% dari target tahun ini.

Sebelumnya, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, perseroan memasang target pertumbuhan kredit 4-5% (yoy) hingga akhir 2020. NIM diharapkan sebesar 5,7%.

Sementara itu, opex juga diperkirakan naik 9%, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) akan dijaga sebesar 3% pada tahun ini dari posisi kuartal III yang sebesar 3,12%. “Kredit kami sudah di kisaran target, LDR kami harap 85%.

Dengan  melimpahnya likuiditas, kami akan menggenjot kredit. NIM targetnya 5,7% dibanding tahun lalu 5,5%. Kami masih incar kenaikan NIM, kemudian fee based income targetnya tumbuh 8% dan credit cost 3,2%,” tutur Sunarso.

BRI telah menyiapkan strategi, dengan tetap konservatif. “Meski demikian, kami harus tetap tumbuh, pilihan strateginya adalah bisnis follow stimulus.Likuiditas melimpah bukan karena dana banyak, tapi loan demand menurun. Untuk memacu pertumbuhan dengan mengangkat demand, berarti negara harus turun tangan dengan berbagai stimulus,” ujarnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN