Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI. Foto ilustrasi: DAVID

Bank BRI. Foto ilustrasi: DAVID

BRI Masih Atraktif

Parluhutan Situmorang, Kamis, 21 Mei 2020 | 22:44 WIB

Dampak pandemi Covid-19 berpotensi menurunkan tingkat keuntungan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tahun ini. Meski demikian, prospek perseroan diperkirakan segera membaik setelah aktivitas ekonomi kembali pulih dari ancaman pandemi.

Analis Sinarmas  Sekuritas Evan Lie Hadiwidjaja mengungkapkan, realisasi kinerja keuangan BRI pada kuartal I-2020 mulai memperlihatkan dampak pandemi Covid-19, meski dampak paling besarnya diperkirakan terjadi pada kuartal II tahun ini. Pandemi akan membuat kenaikan jumlah restrukturisasi kredit dan penurunan permintaan pinjaman.

Berdasarkan data perseroan, restrukturisasi kredit BRI akibat pandemi Covid-19 telah berlangsung sejak akhir kuartal I-2020. Lonjakan permintaan restrukturisasi terjadi pada April 2020.

Perseroan mencatat total kredit yang direstrukturisasi senilai Rp 101,2 triliun sampai April 2020. Angka tersebut setara dengan 11% dari total kredit yang disalurkan perseroan.

Berdasarkan skenario perseroan bahwa margin bunga bersih (NIM) bisa turun ke level 5,5% tahun ini dibandingkan realisasi kuartal I-2020 yang mencapai 6,6%. NPL diperkirakan mencapai 3% dan biaya kredit (cost of credit/CoC) bisa meningkat menjadi 3,5% dibandingkan kuartal I-2020 sebesar 2,6%.

Bank BRI. Foto: DAVID
Bank BRI. Foto: DAVID

“Perkiraan tersebut jauh di bawah ekspektasi analis. Sebab, perkiraan tersebut ditetapkan dengan asumsi PDB anjlok hingga di bawah 0%,” tulis Evan dalam risetnya, baru-baru ini.

Meski perseroan menghadapi tantangan berat tahun ini, Sinarmas Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 3.170. Target harga tersebut mengimplikasikan PBV tahun depan sebanyak 1,7 kali dibandingkan posisi sekarang 1,2 kali.

Target harga tersebut mempertimbangkan bahwa pemerintah akan terus mendukung perekonomian dengan berbagai program dan stimulus, kebijakan relaksasi dan restrukturisasi kredit oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pendekatan proaktif manajemen terkait provisi bank.

“Kami memperkirakan bahwa setelah aktivitas ekonomi kembali normal dan pandemi Covid-19 bisa teratasi, laba bersih perseroan diperkirakan kembali pulih. Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan beli saham BBRI dan menargetkan kinerja keuangan perseroan tahun 2021 akan kembali membaik,” jelas Evan.

Tahun ini, Sinarmas Sekuritas memperkirakan penurunan pendapatan bunga BRI dari Rp 81,7 triliun menjadi Rp 73,78 triliun. Laba bersih juga diperkirakan turun dari Rp 34,37 triliun menjadi Rp 23,01 triliun.

Sedangkan NPL kotor perseroan diperkirakan mencapai 3% dibandingkan pencapaian tahun 2019 sebesar 2,6%. Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Suria Dharma mengungkapkan, BRI telah merestrukturisasi kredit hingga Rp 101,2 triliun sampai April 2020 sebagai akibat pandemi Covid-19. Nilai kredit yang direstrukturisasi tersebut setara dengan 11 dari total kredit perseroan dan berpeluang meningkat hingga mencapai Rp 200 triliun.

“Hal ini mendorong kami untuk merevisi turun target harga saham BBRI dari Rp 4.450 menjadi Rp 3.000 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Saat ini, harga saham BBRI sudah berada di level menarik untuk dibeli, yaitu mencerminkan PBV sekitar 1,4 kali,” tulis Suria dalam risetnya.

Berdasarkan data perseroan, ungkap dia, restrukturisasi kredit dilakukan dalam bentuk skenario perpanjangan jangka waktu, penundaan pokok, dan penurunan tingkat suku bunga. Hingga kuartal I-2020, sebanyak 36,2% kredit perseroan disalurkan untuk kredit mikro dan 22,4% kepada kredit komersial kecil.

Bank BRI. Foto: dok.
Bank BRI. Foto: dok.

Sebanyak 15,8% dari total kredit mikro dan mencapai 22,9% dari kredit komersial kecil telah masuk dalam proses restrukturisasi perseroan.

Berbagai kondisi tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk merevisi turun target kinerja keuangan BRI tahun 2020 dan 2021. Pendapatan bunga bersih tahun ini direvisi turun dari Rp 86,9 triliun menjadi Rp 78,54 triliun.

Begitu  juga dengan perkiraan laba bersih direvisi turun dari Rp 39,08 triliun menjadi Rp 23,54 triliun.

Sedangkan perkiraan kinerja keuangan BRI tahun 2021 direvisi naik, yaitu pendapatan bunga bersih direvisi naik dari Rp 81,26 triliun menjadi Rp 94,51 triliun. Laba sebelum provisi tahun 2021 juga direvisi naik dari Rp 55,52 triliun menjadi Rp 72,87 triliun.

Sedangkan ekspketasi laba bersih direvisi turun dari Rp 42,35 triliun menjadi Rp 35,98 triliun. kinerja keuangan BRI sepanjang kuartal I-2020 di bawah ekspektasi, meskipun laba operasional naik 17,3% dan laba bersih hanya turun tipis menyusul peningkatan provisi sebesar 47,2%.

“Pencapaian laba bersih tersebut hanya merefleksikan 21,3% dari total target yang telah kami tetapkan,” tulis Young Jun dalam risetnya.

Perseroan juga menunjukkan pertumbuhan kredit yang soli sepanjang kuartal I-2020 yang didukung oleh kenaikan permintaan kredit segmen mikro dan korporasi.

“Meski tumbuh solid selama kuartal I-2020, kami memperkirakan pertumbuhan kredit perseroan tahun ini turun menjadi satu digit, seiring dengan langkah hati-hati perseroan,” terangnya.

Young Jun juga mengungkapkan BRI akan menghadapi penurunan NIM tahun ini, karena perseroan akan kesulitan untuk menurunkan bunga simpanan demi menjaga likuiditas. Penambahan restrukturisasi kredit juga akan berimbas terhadap penurunan NIM ke depan, sehingga NIM BRI direvisi turun sekitar 78 basis poin tahun ini.

Meski demikian, BRI memiliki kesempatan besar untuk berpartisipasi dalam program penguatan ekonomi oleh pemerintah, sehingga kredit perseroan diperkirakan tetap berada di teritori positif sepanjang tahun ini.

Hal ini bisa menjadi sentiment positif terhadap pergerakan kinerja keaungan dan saham perseroan sepanjang 2020

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas merevisi rekomendasi saham BBRI dari buy menjadi trading buy dengan target harga Rp 2.650. Target harga tersebut juga mempertimbangkan ekspektasi peluang penurunan laba bersih perseroan tahun ini dan diperkirakan mulai naik tahun depan.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan penurunan laba bersih BRI menjadi Rp 32,9 triliun tahun ini dibandingkan pencapaian tahun 2019 senilai Rp 34,37 triliun. Laba sebelum provisi diperkirakan meningkat dari Rp 65,55 triliun menjadi Rp 68,75 triliun.

Hingga kuartal I-2020, BRI meraup laba bersih konsolidasi Rp 8,17 triliun, turun tipis 0,36% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 8,2 triliun. Pendapatan berbasis komisi (fee based income) dan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) menjadi penopang utama laba bersih emiten pelat merah bersandi saham BBRI itu.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN